Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Libur Lebaran 1438 H

 

1500478999518

Libur lebaran tahun ini kami ke Palembang…Yeaaaayyy….. Terbayang pertama kali saat menyebut Palembang adalah makanannya yang enak-enak. Selain tentu saja karena ingin silaturahim dengan keluarga besar suami dan sungkem sama mertua.

Tiket pesawat sudah dipesan dua  bulan sebelumnya dengan rencana hanya saya dan anak-anak yang naik pesawat sedangkan ayahnya berangkat seminggu sebelumnya dengan naik bis. Supaya bisa lebih banyak ngobrol dengan mertua karena secara kalau ada anak-anak tidak bisa leluasa. Awalnya sih saya agak ragu apa sanggup membawa dua bocah cilik yang lagi aktif-aktifnya. Tapi  demi pak suami bisa birrul walidain dengan ortunya saya nekat saja. Dulu saya juga pernah berdua saja dengan Kanaya saat usianya dua tahun. Insya Allah sekarang pasti bisalah.Tapi akhirnya di detik-detik terakhir keberangkatan pak suami engga tega membayangkan saya pergi bertiga. Akhirnya malah ikutan pesan tiket, untungnya masih tersedia seat untuk pesawat dengan waktu yang sama.

Kami berangkat dari bandara Halim Perdanakusuma jumat sore dan baru pertama kalinya naik pesawat dari sini menggunakan Citilink. Meskipun berangkatnya dua pekan setelah lebaran tetap yaaah penuuuh banget sampai di ruang tunggu tidak kebagian kursi. Alhamdulillah masih ada ruang menyusui yang meskipun kecil tapi tetap nyaman buat menunggu. Setelah beberapa lama ada pengumuman pesawat kami delay dua jam. Weeeeew…. meskipun dapet dispensasi nasi padang Sederhana tetap tidak bisa menutupi rasa kecewa karena anak-anak jadi rewel terlalu lama menunggu. Apalagi Kaysan terus-terusan menangis karena bosan dan mengantuk.

Akhirnya pesawat datang. Ini adalah pengalaman pertama kalinya untuk Kaysan naik pesawat, awalnya saya khawatir dia rewel tapi alhamdulillah meskipun tidak bisa diam sampai naik ke atas meja lipat, dia tidak menangis. Sampai Palembang pas magrib dan sampai rumah mertua jam 8 malam karena jalanan macet total. Kami langsung tepar karena kelelahan.

Paginya rumah mertua sudah ramai untuk persiapan acara Walimatus Safar pergi Haji bapak dan mimi . Hari ahadnya puncak acara, banyak orang di rumah sampai Kaysan dan Kanaya menangis karena kepanasan dan tidak terbiasa dengan ramainya orang. Senangnya acara hajatan di Palembang itu tidak terus menerus sampai malam seperti di Bekasi. Jam 12 siang acara selesai dan setelah itu rumah sudah rapi kembali.

Malamnya setelah magrib kami bersama saudara-saudara yang lain bisa jalan-jalan. Tujuan pertama adalah jembatan Ampera yang menjadi ikon kota Palembang. Beberapa kali saya ke tempat ini belum pernah berkunjung di malam hari dan ternyata rameeeeeee. Pemandangannya juga bagus, jembatannya lebih cerah karena lampu-lampu. Kelebihannya disaat malam cuaca tidak panas tapi sayangnya kami tidak bisa naik perahu. Padahal saya pengen banget ajak Kanaya Kaysan naik perahu.

Puas ngemil-ngemil di pinggiran sungai Musi, kami langsung ke restoran martabak Har. Bagi saya sih ini acara utamanya, heheheh. Kalau ke Palembang martabak Har itu adalah makanan wajib. Rasanya bikin nagih dan ngangenin. Meskipun kami ke sana jam 10 malam tapi kedai masih buka dan masih banyak pembeli juga. Makannya bergantian dengan pak suami karena anak-anak rewel pengen tidur. Lumayanlah meskipun kurang menikmati karena sambil meredakan rengekan anak-anak, tapi setidaknya sudah mencicipi lezatnya martabak Har.

Pulangnya kami menginap di rumah kakak ipar di daerah Borang. Ini juga jadi tempat favorit karena belakang rumah ada kebun buah yang saat kami datang, beberapa buahnya sedang panen. Lebih tepatnya dipaksakan panen supaya buah bisa dipetik segera karena tangan-tangan bocah sudah gemas ingin memetik buah langsung dari pohonnya. Buah yang jadi idola itu kelengkeng, meskipun masih muda tapi rasanya muaniiss. Saya baru tau kalau kelengkeng bisa juga tumbuh di Palembang karena selama ini lihat pohon Kelengkeng hanya di daerah Jawa Tengah saja.

Puas menjelajahi kebun, kami diundang makan siang oleh kerabat yang lain, lokasinya berdekatan. Makan siang yang menyenangkan karena ada menu penutup yang ditunggu-tunggu yaitu bakso. Jyaaah jauh-jauh ke Palembang cuma mau makan bakso yaaak. Eiits jangan salah ini bakso uenak banget rasanya asli daging sapi tanpa banyak campuran karena pemilik rumah itu penjual daging sapi. Pokoknya endeus tralala deh rasa baksonya.

Setelah itu lanjuuut ke rumah kakak ipar yang lain dan makan-makan lagi, kali ini menunya celimpungan, pempek, otak-otak, es buah, srikaya duren dan berbagai macam makanan ringan. Naksir berat sama otak-otaknya yang sebesar lontong. Ikan tenggirinya terasa banget, enggak tau lah saya habis berapa biji. Sadarnya saat perut terasa penuh hihihi.

Oh iya kami juga sempat pesta durian malam sebelumnya. Sudah pada tau kan kalau Palembang itu banyak durian enak. Tapi saya sih nonton saja keseruan mereka makan durian, karena engga doyan dan agak mual sama baunya.

Dua hari setelah acara walimatus safar di rumah mertua kami memang keliling Palembang untuk berkunjung ke beberapa rumah kerabat suami. Dan setiap kunjungan sudah dipastikan ada penambahan lemak di badan karena makanan yang disuguhkan terlalu sayang untuk ditolak hehehe. Sejenak mari kita lupakan timbangan.

Hari Rabu pagi kami sudah harus bersiap-siap terbang ke Jakarta. Kali ini menggunakan Batik Air menuju bandara halim perdanakusuma. Belajar dari pengalaman delay sebelumnya yang sampai dua jam, saya sudah mempersiapkan makanan untuk anak-anak dan saat sampai ruang tunggu sudah siap-siap menguasai ruang menyusui lagi. Alhamdulillah tidak ada delay dan penerbangan lancar jaya sampai Jakarta.

Selamat tinggal Palembang……

 

Iklan
1 Komentar »

1 Syawal 1438 H

1498392059437

_Kami sekeluarga mengucapkan ;_

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H

Taqabalallahu Minna wa Minkum
Shiyamana Washiyamakum

Semoga Amal Ibadah kita di bulan Ramadhan ini mendapatkan RIDHA Allah Subhana wa ta’ala dan dosa-dosa kita diampuni-NYA

Aamiin Ya Robbal Aalamiin

Rina & Keluarga

Tinggalkan komentar »

Fotografi dengan Smartphone

fotografi dengan smartphone

Sejak malas buka Facebook karena banyak huru hara, saya malah jadi rajin mengunjungi Instagram. Awalnya banyak follow selebgram yang sering mendekor rumah dengan cara DIY. Saya yang senang banget dengan dekorasi rumah dan kerajinan tangan jadi makin betah di IG. Mulai deh coba bebenah rumah dan membuat printilannya dari barang-barang bekas.

Waaaah foto hasil DIY nya selebgram cakep cakep banget. Setelah tertarik dengan DIY nya sekarang malah tertarik bagaimana bisa foto sebagus itu. *emakemaklabil.

Berhubung saya enggak punya kamera canggih yang harganya bisa bikin kepala nyut nyutan dan cuma punya kamera hp, jadi saya maksimalkan apa yang saya punya. Mulailah atas nama penasaran hampir tiap hari saya ngubek ngubek google untuk cari tau bagaimana teknik foto yang baik, terutama foto dengan menggunakan smartphone. Cusss langsung praktekin foto apa saja yang ada di rumah.

Dengan pede tingkat kecamatan saya upload hasil cekrak cekrek di IG. Eeh kok banyak yang DM bilang foto saya bagus. Malah ada yang minta diajarin segala. Hahaha gimana mau ngajarin lha ini aja engga tau benar apa salah. Pokoknya prinsipnya foto enak dilihat sama mata saya, entahlah mata orang lain.

Untuk lebih meyakinkan bahwa teknik foto menggunakan smartphone ini benar atau tidak, saya ikutan workshopnya mba Arriana, salah satu selebgram yang IG nya selalu saya kepoin. Beliau ini enggak pelit berbagi ilmu, kadang sering share behind the scene foto-fotonya dan yang paling senang kebanyakan fotonya pakai smartphone juga seperti saya.

Workshop diadakan di resto Kayu Tjokelat Bekasi. Pesertanya engga banyak, kalau buat saya sih senang aja peserta sedikit karena engga terlalu ramai. Saat saya datang, mba Arriana sudah datang juga dengan perlengkapan foto yang kumplit dan membawa dua jagoannya. Senangnya ketemu selebgram yang selama ini cuma lihat di IG. Beliau ini orangnya seru, ramah dan sabar. Saya yang memang penasaran dengan dunia fotografi ini bawel banget tanya-tanya terus tapi dijawabnya dengan lugas.

Ini dia beberapa hal yang saya rangkum saat workshop kemarin :

1. Faktor utama dari fotografi adalah pencahayaan. Semakin baik cahayanya, makin baik hasil fotonya. Cahaya yang paling bagus itu adalah cahaya alami dari matahari. Usahakan kalau foto di samping jendela, dekat pintu atau teras antara jam 8 sampai jam 11 siang. Jangan foto jam 12 siang karena cahaya terlalu keras dan banyak bayangan. Gunakan reflektor untuk memantulkan cahaya supaya lebih merata. Bisa menggunakan kaca, stereofoam, atau aluminium oil yang diletakkan berseberangan dengan sumber cahaya. Boleh foto di dalam ruangan asal menggunakan lampu sorot atau lampu meja yang langsung menyinari objek dengan bantuan difuser supaya jatuhnya cahaya lebih merata. Buat tukang foto amatiran kaya saya sih lebih senang pakai cahaya alami, engga ribet. *emakantiribet.

2. Jangan menggunakan zoom ya, kalau mau lebih detail obyeknya dekatkan saja kameranya. Fungsi zoom pada kamera hp akan menurunkan resolusi foto dan membuat foto jadi tidak tajam.

3. Saat akan foto produk atau obyek apapun kita harus menentukan tema dan siapkan properti sesuai tema. Misal mau foto bros, maka propertinya bisa jilbab, baju dll yang berhubungan dengan bros. Jangan tiba tiba ada palu di dekat bros kan engga ada hubungannya. Usahakan foto yang akan ditampilkan itu menceritakan sesuatu.

4. Tentukan angle yang akan digunakan. Misal untuk foto breakfast atau story telling sebaiknya pakai angle flat lay, foto diambil dari atas. Untuk foto makanan yang banyak topingnya seperti pizza, bisa diambil dari atas untuk memperlihatkan detail pizza. Tapi kalau foto botol atau benda yang tinggi atau digantung sebaiknya menggunakan eye level atau yang sejajar dengan mata. Bisa juga menggunakan angle 30 derajat untuk mengambil foto makanan, bros, jepit dll.

5. Background foto juga sebaiknya tidak terlalu ramai dan warnanya tidak bertabrakan dengan obyek foto. Warna yang paling aman itu hitam atau putih bisa juga menggunakan motif kayu dengan warna yang natural.

6. Setelah cekrak cekrek foto kita percantik dengan proses editing. Foto yang siap diedit itu adalah foto yang memang sudah bagus karena teknisnya sudah benar. Jadi bukan foto amburadul yang disulap menjadi foto yang keren. Kalau cara pengambilan fotonya sudah tidak bagus kemungkinan juga akan sulit diedit karena hasilnya tetap jelek. Aplikasi edit foto untuk android banyak tersedia di play store tinggal pilih mana yang paling mudah. Saya pernah membahasnya disini. Tidak perlu menggunakan semua fitur yang ada di aplikasi foto, cukup gunakan brightness, contras dan saturation. Tapi jangan berlebihan juga karena hasilnya malah jadi aneh. Jangan lupa diberi watermark ya fotonya. Biarin deh diledekin, halaaah foto jelek aja pake dikasih nama, ga ada yang nyuri dah fotonya…. Gpp pede aja dikasih nama supaya kita menghargai hasil karya kita sendiri.

Nah… Enggak ribet kan foto foto pakai hp? Semakin sering berlatih semakin lihai kita menyusun style, mengatur cahaya dan makin pede untuk upload di sosmed. Untuk yang foto produknya buat jualan juga jadi makin laris jualannya karena fotonya keren dan pembeli jadi tertarik. Bisa juga untuk latihan foto, kita ikutan akun fotografi di IG yang setiap hari meminta kita foto dengan tema tertentu. Sekalian belajar foto juga dari para senior yang hasil fotonya cetttaaaar.

Selamat cekrak cekrek yaaah.

Ehh… Jangan lupa follow IG saya

@rinabundakanaya

@bunda.2ka

 

 

2 Komentar »

Seminar Parenting : Mendidik Generasi Al Quran

Sudah lama sekali saya tidak ikut seminar parenting , lupa kapan terakhir. Sempat punya pikiran, aaah percuma dah ikutan seminar parenting kemana mana, enggak ada perubahan, tetap galak, enggak sabaran dan sumbu pendek sama anak. Tapi akhirnya merasa malu sendiri, kok cetek amat ini pemikiran, memang tidak  bisa diaplikasikan ilmunya 100% tapi setidaknya saya jadi punya rem untuk mengendalikan diri saat berhadapn dengan anak dan punya niat untuk memperbaiki diri. Udah ikutan seminar parenting aja masih amburadul begini, apalagi enggak ikutan. Saya bukan super mom dan malaikat yang enggak punya salah dalam mendidik anak kan, justru kesalahan ini bisa jadi pembelajaran untuk lebih baik lagi.

Saat di grup sekolah Kanaya ada yang share tentang kegiatan parenting saya langsung tertarik, apalagi lokasinya tidak jauh dari rumah. Penyelenggaranya Persaudaraan Muslimah (SALIMAH) kota Bekasi. Langsung saya daftar lewat online karena khawatir penuh, biasanya acara-acara yang diadakan SALIMAh selalu full dengan emak-emak yang haus ilmu dan senang berbagi.

Saya titipkan Kaysan pada mbahnya dan setelah mengantarkan Kanaya ke sekolah saya langsung cuuusss ke TKP. Masih sepi jadi bisa pilih-pilih tempat duduk yang nyaman, tapi tidak berapa lama mulai berdatangan peserta dari ibu-ibu majelis taklim maupun perorangan dan perwakilan beberapa sekolah. Saya bertemu dengan beberapa teman yang ikutan juga, cipika cipiki, reunian, ngobrol sebentar dan langsung fokus dengan materinya. Berikut ini beberapa point yang saya rangkum dari acara parenting ini. Saya catat sebagai pengingat diri, supaya suatu saat nanti bisa dibaca lagi .

Seminar Parenting ini mengambil tema Mendidik Generasi Al Quran yang disampaikan oleh sepasang suami istri yang kompak yaitu pak Satria Hadi Lubis dan Ibu Kingkin Anida. Saat melihat mereka bersinergi di panggung pikiran saya langsung mengembara, Masya Allah betapa indahnya rumah tangga seperti ini, satu dengan yang lainnya saling mendukung dan punya banyak manfaat buat masyarakat. Keluarganya juga harmonis dengan menjadikan Al Quran sebagai dasar untuk mendidik anak-anaknya.

Awal materi Pak Satria menyampaikan terlebih dahulu mengenai surat dalam Al Quran yang harus menjadi landasan dan doa yang tak pernah putus kita panjatkan kepada Allah. QS 25: 74 “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan anak-anak keturunan yang menjadi penyejuk mata kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa “

Dari Surat ini keluarga diharapkan menjadi teladan bagi keluarga lainnya.  Keluarga  yang dekat dengan Al quran adalah keluarga dengan generasi terbaik karena senantiasa belajar dan mengajarkan Al Quran serta akan menyelamatkan dirinya di dunia dan akhirat

Saat ingin menjadikan keluarga sebagai generasi AL Quran harus dimulai dari saat kita belum menikah. Pilihlah pasangan yang mempunyai  visi dan misi yang sama untuk membentuk generasi Al Quran.

Bila keluarga meninggalkan Al Quran maka perlahan kehidupannya akan buta dari cahaya kebenaran. Orang yang dihinakan oleh Al Quran salah satu cirinya adalah mengacuhkan Al Quran padahal sudah disampaikan kebenaran Al Quran padanya. Akhirnya dia akan lupa diri dan berteman dengan setan.

Di tengah-tengah materi, Ibu Kinkin memutar video tentang wawancara beberapa anak seusia SD yang ditanya tentang artis-artis idola mereka dan menjawab dengan lancar, tapi saat ditanya tentang berapa surat dalam Al Quran, berapa juz,  dan diminta untuk mengucapkan beberapa ayat Al Quran mereka kesulitan. Padahal anak-anak ini tinggal di negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Sungguh ini jadi peringatan buat kita orang tua bahwa serangan ghozwul Fikri (perang pemikiran) sudah sedemikian gencar, dan salah satu bentengnya adalah mendekatkan anak-anak kepada Al Quran.

Untuk dapat mencintai Al Quran tentu saja butuh proses. Awalnya mungkin harus dipaksa atau memaksakan diri untuk selalu berinteraksi dengan Al Quran, kemudian dijadikan hal itu sebagai kebiasaan. Setelah terbiasa nantinya akan menjadi kebutuhan, hati terasa kering dan resah jika sehari saja tidak tilawah. Akhirnya setelah menjadi kebutuhan akan terasa betapa nikmatnya dekat dengan Al Quran.

Ada penelitian dari Dr. Shalih bin Ibrahim yang membagi mahasiswanya menjadi dua kelompok masing-masing 170 orang. Kelompok yang satu tidak menghafal Al Quran sedangkan kelompok yang lain diminta untuk menghafal AL Quran. Hasil penelitiannya, Para mahasiswa yang memiliki hafalan yang bagus memiliki kesehatan jiwa yang lebih tinggi dan lebih cerdas dibandingkan dengan yang tidak pernah menghafal Al Quran.

Ada beberapa tips dari ibu Kinkin Anida supaya kita dekat dengan Al Quran yaitu dengan senantiasa membaca Al Quran pagi dan malam hari serta terus belajar membenarkan bacaan Al Quran. Kemudian kurangi mendegarkan musik dan ganti dengan murotal yang memberikan efek kesehatan.

Untuk anak-anak sebaiknya perkenalkan Al Quran sejak dalam kandungan, selalu memperdengarkan Al Quran, konsisten dan ajarkan dengan cara yang unik supaya mereka tertarik. Jangan lupa berikan penghargaan karena mau terus belajar mencintai Al Quran dalam setiap kondisi.

Pak Satria juga menjabarkan tentang  teknik menghafal Al Quran dimana setiap orang akan berbeda beda caranya. Gunakan metode yang sesuai dengan kemampuan yang penting adalah konsisten.

Semoga rangkuman dari seminar parenting tentang generasi Qurani ini dapat bermanfaat yah, dan semoga juga kita termasuk ke dalam orang-orang yang mencintai Al Quran. Aamiin.

 

 

3 Komentar »

Dua Hari Keliling Bandung

Sebenarnya rencana ke Bandung ini terbilang dadakan. Saya ngobrol sama suami kepengen banget piknik, tujuannya ke Bandung pun asal nyebut aja karena pertimbangannya tidak terlalu jauh dari Bekasi dan biayanya murah meriah. Saat disampaikan ke adik, eeeh pas banget dia juga punya rencana ke Bandung tapi belum ditentukan waktunya. Klooop dech….

Saya langsung cari villa via mbah google karena rencananya mau menginap satu malam di daerah Lembang. Salah satu tempat yang akan dikunjungi adalah The Lodge Maribaya, makanya cari Villa di sekitar situ supaya lebih dekat. Tujuan pertama dari Bekasi ke Farm House baru setelah itu menuju Villa karena anak-anak dan keponakan menagih berenang. Paginya ke Maribaya dan langsung cuuuus ngubek ngubek kota Bandung. Begitu rencananya.

Pagi sekitar jam 7 pagi kami sudah menuju Bandung. Rombongan lenong terdiri dari satu lansia, 5 dewasa dan 5 anak-anak. Rameeeeee dan seru, termasuk ada rebutan tempat duduk, rebutan makanan dll. Sebenarnya saya agak khawatir akan macet panjang karena kami pergi di saat libur Nasional, tapi alhamdulillah mulai masuk Tol Cikampek sampai keluar tol Pasteur lancar jaya. Hanya sedikit tersendat saat akan memasuki Farm House. Sebelum pergi saya dan suami sudah mencari sebanyak banyaknya informasi mengenai jalanan dan tempat-tempat yang akan dikunjungi. Dibantu juga sama mbak GPS yang sabar ngasih tau kita jalan.

Sampai Farm House saya kira kami orang pertama  karena masih jam 8.30 sudah sampai sana. Ternyata  rameeeeee, meskipun parkiran mobilnya masih tidak terlalu padat. Bayar tiketnya saat kami masih di dalam mobil, dan tiketnya bisa ditukar susu. Tempatnya asyik banget, instagramable, dan banyak bangunan yang unik. Tapi harus ekstra mengawasi anak-anak karena lima bocah ini seperti lepas dari kandang. Pengunjungnya banyak tapi tidak sebanyak saat weekend sepertinya, jadi masih bisa lah foto-foto tanpa banyak figuran. 🙂

Ini dia beberapa fotonya

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setelah puas di Farm House, kami menuju villa mengikuti rute yang sudah diberikan oleh pemilik villa. Lokasinya tidak jauh dari Farm House tapi  lumayan macet, ternyata sepanjang perjalanan menuju villa banyak tempat wisata, seperti De Ranch, Taman bunga, air terjun, resort dll. Jalanannya juga curam, berlubang dan melewati hutan. Sebelah kiri tebing dan kanannya jurang. Kami bertemu dengan sekelompok kera hutan yang bergelayutan di pohon-pohon pinggir jalan.

Sampai villa anak-anak langsung berenang sedangkan para orang tua makan siang. Setelah mandi dan sholat ashar, adik saya usul daripada bengong di vila, mendingan kita jalan-jalan wisata kuliner. Awalnya mama saya tidak setuju karena takut kalau harus melewati hutan tadi. Tapi kalah suara sama anak-anak dan cucunya, jadilah cuuus kita menuju kota Lembang untuk cari makanan.

Sebelum Isya kami sudah sampai lagi di vila dan istirahat karena besok pagi mau ke The Lodge Maribaya. Malam di Lembang tidak terlalu dingin tapi menjelang pagi semua berebut mencari selimut. Brrrrr,……. dingiiiin, saat matahari sudah muncul kami baru berani keluar vila dan jalan-jalan keliling desa. Subhanallah, kebun sayur memanjakan mata, hijau dan segar-segar.  Setelah antri mandi dan drama-drama kecil dengan anak-anak akhirnya kami berangkat menuju The Lodge Maribaya, sekitar 10 menit dari vila.

Sampai sana jam 8 dan pengunjung sudah ramai tapi loket penjualan karcis masuk baru buka jam 9. Jadi kami menunggu sambil foto-foto saja. Satu dua keponakan sudah mulai rewel dan saya pun jadi galau. Kalau melihat di google sih sebenarnya wahana di tempat wisata ini lebih  mengarah untuk dewasa, tidak recomended buat anak-anak. Waktu menunggu masih satu jam dan belum lagi antrian untuk wahananya. Berhubung ke tempat ini adalah ide saya akhirnya dengan lapang dada saya putuskan,  batal!!. Kecewa sih tapi saya engga boleh egois lah karena perginya kan rombongan.  Suami menghibur,  nanti kita ke sini lagi kalau anak-anak sudah besar yaaah. Hmmmmm…

IMG-20170404-WA0068IMG-20170404-WA0055

Kami langsung menuju ke kota Bandung lewat Dago yang jalanannya menurun dan curam. Tapi ternyata dekat saja karena tidak lama sudah masuk ke kota Bandung. Tujuan pertama alun-alun yang nge hits itu.  Tapi saat lewat kantor walikota,  anak-anak minta mampir gara gara Kanaya bilang,  iih ada ayunannya,  yang mana ternyata itu hanya halusinasinya dia aja.  Wkwkwk. Ketemu bis bandros di tempat itu tapi dapat informasi bis wisata itu tidak digunakan umum karena akan dipakai untuk tamu.  Yaaah…

Foto-foto sebentar di Taman Badak kami langsung menuju alun-alun dan sempat muter-muter cari tempat parkir yang ternyata ada di basement. Akhirnyaaa bisa nyelonjor juga di sini. Pengunjung tidak terlalu ramai tapi menurut info penjual bola,  kalau weekend padat pengunjung. Sebenarnya mau sekalian sholat Zuhur di mesjid alun alun tapi semua bilang lapaaaaar dan jam masih menunjukkan 11.00. Bingung mau cari makanan di mana akhirnya malah memutuskan sekalian aja ke Cihampelas karena keponakan mau beli kaos. Waaah keren banget Cihampelas sekarang karena penjualnya diberikan tempat di atas jalanan seperti fly over gitu dengan kondisi yang nyaman lengkap fasilitasnya ada toilet dan mushola juga.

Selesai makan,  sholat, belanja belinji dan beli oleh-oleh kami masuk lagi ke mobil. Di dalam mobil diskusi lagi mau ke mana,  mama saya sebagai ibu suri minta ke taman yang banyak jajanannya. Tapi anak-anak minta naik bis bandros yang ternyata bisa naik di daerah dekat gedung sate.  Saya lupa apa yah itu namanya.

Saat menuju ke sana tidak sengaja melewati taman Lansia.  Waaaah pas banget ini buat mama saya,  kami ngadem di taman yang rindang ini sambil makan bakso cuanki. Selesai istirahat, keponakan menagih janji naik bis bandros. Setelah tanya-tanya dengan tukang parkir akhirnya kami menuju lokasi sesuai petunjuk. Melewati beberapa taman yang teduh dan asri serta jalanan yang tidak ramai akhirnya ketemu taman yang ada dua robot di depannya. Anak-anak langsung antusias pengen turun, tapi kami hanya izinkan melihat dari dalam mobil karena khawatirnya akan lebih lama lagi. Ternyata di tempat itulah biasanya kita bisa naik bis bandros tapi setelah celingak celinguk kebingungan tidak ada satupun bandros yang nampak. Sementara langit mulai gelap dan sepertinya akan hujan lebat, terbayang kalau naik bis yang terbuka seperti itu kami akan basah kuyup kehujanan. Akhirnya pencarian bandros dibatalkan. Huuuuuuuu….. penonton anak-anak kecewa.

Bingung juga setelah ini mau kemana karena hari mulai sore dan mendung gelap tapi anak-anak menolak untuk pulang. Negosiasi alot di dalam mobil dan akhirnya keputusannya kita cari jalan menuju tol alias pulang. Jalanan sudah mulai macet dan gerimis mulai turun. Mampir dulu sebentar di tempat oleh-oleh karena saya mau beli klapper tart dan batagor.

Alhamdulillah perjalanan pulang lancar jaya hanya sedikit tersendat saat masuk tol Cikarang. Lelah sangat, apalagi saya dan suami bergantian memangku Kaysan yang sedang aktif aktifnya. Tapi senaaaaaang bisa jalan-jalan dadakan seperti ini. Ada yang nyeletuk, belum puas yah ke Bandungnya, kapan-kapan mau dong diajak lagi ke sana. Eeeeaaa….

4 Komentar »

DIY : Membuat Nomor Rumah dari Talenan

1490595786443

Sejak dunia pertalenan kayu wara wiri di Instagram, saya sudah gemeeeees kepengen ikutan bikin ini bikin itu. Apalagi pas lihat di pinterest, talenan kayu dijadikan hiasan dinding yang menarik. Banyak OLS di instagram menjual talenan kayu yang sudah dihias, tapi harganya enggak murah menurut kantong saya. Prinsip emak irit, kalau bisa bikin kenapa harus beli? *kekepindompet
Lalu muncul ide membuat papan no rumah dari talenan kayu, dengan teknik decoupage. Ini pertama kalinya saya membuat decoupage, sok pede banget sih sebenarnya, belajarnya cuma modal youtube aja. Beda banget dengan beberapa teman yang sampai ikut kursus decoupage. Saya mah nekat aja bikin sendiri.
Ternyata menyenangkan sekali lho membuat no rumah dari talenan kayu dengan teknik decoupage. Memacu adrenalin juga karena membuatnya sambil momong dua krucil yang berebutan kuas cat. Tkpnya di teras rumah, pas lagi mengeringkan cat, tetiba hujan turun dengan deras dan heboh sendiri menyelamatkan semua peralatan.

Berikut ini step by stepnya

Bahan dan alat yang dibutuhkan :
Cat akrilik
Lem
Vernish
Kuas (untuk cat, lem dan vernis)
Amplas
Tissu bermotif
Papan atau talenan kayu
Kayu atau kardus untuk no rumahnya. Seharusnya pakai kayu tapi saya tidak punya alat untuk membentuk angka dan huruf jadi saya coba pakai kardus dan dipilox hitam.

1490593205720

Cara membuat
Bersihkan dan haluskan talenan kayu kemudian di cat lalu keringkan. Ulangi dua kali supaya hasilnya lebih bagus.

1490593992693

Gunting tisu sesuai motif yang diinginkan kemudian tempel dengan lem. Lakukan dengan hati hati karena tisu gampang berkerut. Setelah kering oleskan lem di atas permukaan tisu yang sudah ditempel. Keringkan lagi.

Vernis permukaan tisu dengan menggunakan kuas dan keringkan.

1490594684189

Lalu pasang no rumah

1490594994777

Tarrraaaaaaa…… Jadi deh. Hasil yang saya buat masih jauuuh dari sempurna, karena kurang fokus sambil mengawasi anak-anak. Tapi alhamdulillah saya senang dan puas. Hasil bukan yang utama yang penting dibuat dengan bahagia eeaaaaa….

Yuuuk coba juga membuat decoupage
..

10 Komentar »

Usia 40 Tahun

Usia 40 tahun

Saya mendapatkan tulisan ini via grup di WA tanpa diketahui siapa penulisnya. Mohon apabila ada yang merasa menuliskannya atau mengetahui siapa penulisnya,  dapat diinfokan di kolom komentar.  Saya copas di blog ini sebagai pengingat diri juga penyemangat untuk tidak lengah dalam memperbaiki diri dan semoga bermanfaat juga untuk yang lainnya.

Selamat merenung wahai diri……  🙂

Tadzkiroh pagi..
◾ *BILA USIA TELAH SAMPAI 40 TAHUN* ◾

Allah Ta’ala berfirman :

حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“…Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya sampai 40 tahun, ia berdoa : “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan agar aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridhai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir terus sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertaubat kepada-Mu dan sungguh aku termasuk orang muslim” (QS. Al-Ahqaf [46] : 15).

Bila Usia 40 Tahun, maka manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosi, maupun spiritualnya. Ia telah meninggalkan masa mudanya dan melangkah ke masa dewasa yang sebenar-benarnya…

Bila Usia 40 Tahun, maka hendaknya manusia memperbarui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian, semakin meneguhkan tujuan hidup, menjadikan uban sebagai peringatan dan semakin memperbanyak syukur…

Bila Usia 40 Tahun, maka meningkatnya minat seseorang terhadap agama, sedangkan semasa mudanya jauh sekali dengan agama. Banyak yang mulai menutup aurat dan mengikuti kajian-kajian agama. Jika ada orang yang telah mencapai usia ini, namun belum ada juga minatnya terhadap agama, maka bisa jadi pertanda yang buruk dari kesudahan umurnya di dunia…

Bila Usia 40 Tahun, maka tidak lagi banyak memikirkan “masa depan” keduniaan, mengejar karir dan kekayaan. Tetapi sudah jauh berpikir tentang nasibnya kelak di akhirat…

Bila Usia 40 Tahun, jika masih gemar melakukan dosa dan maksiat, mungkin meninggalkan shalat, berzina dll, maka akan lebih sulit baginya untuk berhenti dari kebiasaan tersebut…

Bila Usia 40 Tahun, maka perbaikilah apa-apa yang telah lewat dan manfaatkanlah dengan baik hari-hari yang tersisa dari umur yang ada, sebelum ruh sampai di tenggorokan. Ingatlah menyesal kemudian tiada guna…

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak bagus dan tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke Neraka”

Imam Malik rahimahullah berkata :

“Aku dapati para ahli ilmu di negeri kami mencari dunia dan berbaur dengan manusia hingga datang kepada mereka usia 40 tahun. Jika telah datang usia tersebut kepada mereka, mereka pun meninggalkan manusia (yaitu lebih banyak konsentrasi untuk meningkatkan ibadah dan ilmu)” (At-Tadzkiroh hal 149).

Imam asy-Syafi’i rahimahullah tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, maka beliau menjawab :

“Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk-pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah”

Abdullah bin Dawud rahimahullah berkata :

“Kaum salaf, apabila diantara mereka ada yang sudah berumur 40 tahun, ia mulai melipat kasur, yakni tidak akan tidur lagi sepanjang malam, selalu melakukan shalat, bertasbih dan beristighfar. Lalu mengejar segala ketertinggalan pada usia sebelumnya dengan amal-amal di hari sesudahnya” (Ihya Ulumiddin IV/410).

Wahai Saudaraku, bagaimanakah dengan dirimu ?

  • 15 Maret 2017
5 Komentar »

DIY : Membuat Pajangan Dinding dari Stik Es Krim

diy pajangan dinding stik es krim

Saya suka ber DIY dengan bahan-bahan yang sederhana dan low budget, misalnya memanfaatkan barang bekas yang ada di sekitar. Sebenarnya hal ini dulu sering saya lakukan sebelum ada krucils, jadi semacam hobi lama bersemi kembali gitu lah. :))

Saya akan dokumentasikan bebikinan ini di blog, jadi mulai rutin minimal dalam sebulan sekali posting tentang DIY. Semoga istiqomah ya kakaaaa…. Secara emak labil sok rempong suka moody pulak.

Kali ini saya membuat pajangan dinding dari stik es krim. Bahannya mudah murah meriah muntah. Stik es krimnya saya beli di toko alat tulis seharga 5000 dapet segambreng. Jadi bukan stik es krim yang anak kita makan trus dikumpulin yaaah. Etapi kalau ada yang rajin ngumpulin boleh juga sih, biasanya stik es krim yang asli lebih tebal, halus dan kuat. Ya tapi sabar yak kalau mau pakai cara ini, kecuali beli es krim segerobak dan undang warga se RT buat makan es krim bareng habis itu kumpulin deh stiknya. LoL.

Untuk perekatnya banyak yang pakai lem tembak, tapi saya lebih senang pakai lem fox karena menurut saya lebih kuat. Sejak zaman dahulu kala selalu pakai lem fox untuk DIY, gak pernah pakai yang lain. *kok kedengerannya kaya iklan yah.   Ada beberapa teman yang bilang saat membuat DIY dari stik es krim ini banyak yang lepas stiknya saat di pajang di dinding karena pakai lem tembak, tapi ada juga yang tetap kokoh. Terserah sih cocoknya pakai lem yang mana.

photo_2017-02-22_09-43-53

Nah, bagian menempel ini memang harus agak telaten yah supaya hasilnya rapih dan kuat kalau diletakkan barang lain. Untuk bentuknya bisa bermacam-macam tapi yang lagi ngehits di IG itu bentuk hexagonal, segitiga atau model teepee. Bisa dilihat di IG dengan #uploaddiy atau #bebikinan. Boleh juga follow IG saya @rinabundakanaya. *gaadahubungannya *Iklanterselubung. LoL

Setelah selesai tinggal di semprot dengan pylox atau langsung di cat. Kalau ingin warnanya natural boleh juga kok tidak di cat, supaya vintagenya lebih keliatan gitu. Kalau hasilnya inign ada warnanya tapi malas pakai pylox atau cat bisa beli stik es krim yang berwarna. Saya lihat di Gramedia banyak dijual stik es krim dengan warna warni cerah.

photo_2017-02-22_10-10-20

Taraaa… jadilah pajangan dinding ala-ala ini. Mudah banget bikinnya, tapi yang punya anak balita sebaiknya dikerjakan saat anak tidur yah, supaya lebih cepat kelar, kecuali memang mau membuatnya bersama-sama.

Lumayan membuat DIY ini butuh kesabaran dan ketelatenan hitung-hitung latihan untuk sabar menghadapi kerasnya hidup ini, eeaaaaa……

 

 

 

 

 

 

 

11 Komentar »

Aplikasi Edit Foto Favorit

aplikasi edit foto favorit

Sewaktu saya mengeluh kenapa ya HP belakangan ini jadi lemot, teman saya langsung menuduh, banyak gamenya kaliiii. Widiiii … tuduhan yang asal mangap itu mah. Saya enggak suka game dan engga sempat juga mainnya. Kalau ada waktu luang bisa pegang HP, lebih suka ngedit foto. Makanya aplikasi edit foto di HP saya juga engga sedikit. Kayanya ini kali yah yang makan memori HP lebih banyak. Bukan ngedit foto yang merubah wajah menjadi cantik yah, aku kurang suka aplikasi seperti itu. Selalu terngiang-ngiang meme , “wajah itu dirawat bukan diedit” wkwkwkwk. Kalau saya merubah wajah jadi Dian Sastro, nanti suami malah bingung, nyariin istrinya kemana…. halllaaah.

Aplikasi edit foto ini biasanya saya gunakan untuk ngeblog atau membuat kata-kata motivasi yang diupload di IG atau FB. Masih amatiran sih, hasilnya juga belum bagus, tapi puas aja gitu rasanya kalau utak atik foto. Bahagianya saya ya sesederhana itu. Cuma ngedit foto dan udah bisa senyum-senyum sendiri. :))

Belakangan ini memang lagi suka dengan dunia fotografi, apaan sajalah saya foto, sepatu, stik es krim, pajangan dinding, dapur dan cencu saja objek foto terfavorit anak-anak saya. Meskipun fotoin bocah itu susahnya minta ampun tapi seneng lihat ekspresi lucu mereka. Hiburan banget ini

Nah ini dia beberapa aplikasi edit foto favorit saya :

1. Picsart

Aplikasi sejuta umat ini yaaa…. Rata-rata pakai aplikasi ini karena mudah dan komplit. Biasanya saya pakai untuk membuat kolase dan menggunakan label atau stickernya yang lucu-lucu

photo_2017-02-17_12-37-55

2. Pixlr

Pixlr juga termasuk aplikasi yang mudah, tinggal pilih foto mau di edit seperti apa tersedia semua di sini. Saya paling suka pakai bordersnya yang banyak pilihan. Dulu kalau kita mau pakai borders harus download dulu tapi sekarang bisa langsung digunakan.

img_20170126_125732_803

3. VSCO

Awal menggunakan VSCO saya nyaris mengibarkan bendera putih. Menyerah karena enggak ngerti gimana cara pakainya, susah dan ribet. Tapi setelah saya utak-atik lagi lain waktu eeh kok bisa dan ternyata gampiiill, jadi ketagihan deh pakai VSCO. Memang menunya tidak terlalu banyak, ringkas banget tapi saya malah senang karena lebih praktis.

img_20170211_113816_497

4. Snapseed

Tertarik download snapseed saat lihat ada teman upload foto di medsos dengan tampilan fontnya yang lucu. Lebih karena penasaran aja sih ini snapseed, engga terlalu sering pakainya.

ketulusanitu1

5. Photo Grid

Saat awal punya smartphone dan lagi norak-noraknya, saya download Photo Grid. Ini juga ikut-ikutan teman karena melihatnya simple banget. Di HP saya saat itu cuma ada Photo Grid untuk edit foto selain bawaan dari HP. Sering dipakai untuk pasang foto di PP nya BBM karena kan ukurannya harus kecil. Sekarang BBM udah bhay, enggak pakai lagi.

photo_2017-02-17_12-38-31

6. Phonto

Sebenarnya Phonto bukan untuk edit foto sih tapi untuk utak atik font supaya lebih cantik dan enak di baca. Setelah edit foto sana sini biasanya selalu berakhir di phonto untuk buat watermark atau quotes di foto.

img_20170203_070833_428

7. Picmonkey

Aplikasi online ini saya pakai untuk edit foto di Komputer. Suka banget dengan Picmonkey karena enggak ribet tinggal klik klik doang. Pilihan fontnya juga lumayan banyak dan bagus-bagus meskipun ada beberapa yang harus bayar dulu.

Teman-teman biasa pakai aplikasi edit foto apa?

11 Komentar »

Dandan? Ogah ah !

Saya enggak suka dandan dari dulu hingga sekarang. Suami juga tidak pernah mempermasalahkan. Pernah coba pakai lipstik di depan suami malah diketawain, enggak usah dandan macam-macam lah katanya. Padahal cuma pakai lipstik doang dengan warna natural. Alhamdulillah, saya sih senang saja karena memang pada dasarnya tidak suka wajahnya di make up. Kalau keluar rumah juga cuma pakai bedak tipis atau malah pakai pelembab saja, selesai.

Awal masuk rohis di kampus dan ikut kajian yang membahas tentang berdandan keluar rumah, makin bersoraklah saya. Yeaaaaay ……. ternyata ketidaksukaan saya pada poles poles wajah itu dilegalkan oleh Al Quran. Saya selalu punya alasan yang tepat kalau mama tanya, kok kamu enggak pakai lipstik? Kok dandannya cuma begitu doang?. Dulu sebelum tahu bahwa dandan berlebihan di luar rumah itu dilarang oleh Allah, saya selalu bingung bagaimana menjawabnya karena jawaban saya enggak suka dandan selalu dibantah lagi dengan pernyataan, kamu kan perempuan, enggak pantes kalau enggak berdandan. Errrr….

Sewaktu sekolah, hari yang paling menyiksa adalah saat hari Kartini. Siswinya wajib pakai kebaya dan wajah di make up. Saya sampai stres karena dipaksa mama berdandan seperti teman-teman lainnya. Disuruh pakai kebaya saja saya sudah pusing eh ini ketambahan disuruh berdandan pula. Beruntung tetangga sebelah rumah, pernah kerja di salon dan tahu banget saya enggak suka dengan dandanan yang menor. Akhirnya demi memuaskan mama, saya mau didandani asalkan dilakukan oleh tetangga saya itu. Beliau pintar sekali membuat wajah saya tetap natural tidak terlihat tebal riasannya. Sampai sekolah malah saya dianggap aneh oleh teman-teman karena dandanannya beda sendiri. Bodo amat lah….

Masalah muncul lagi saat saya menikah dan mengadakan resepsi pernikahan di rumah. Saya menghadapi banyak orang terutama dari pihak keluarga besar yang protes saat saya menolak didandani. Lagi-lagi tetangga saya ini penyelamatnya. Meskipun kata orang dandanannya sederhana sekali tapi lumayanlah yang penting buat saya tidak mencolok. Itupun rasanya kepingin cepat-cepat acara selesai, supaya bisa cuci muka.

Setelah menikah di Bekasi tempat orangtua saya, resepsi diadakan lagi di Palembang tempat orang tua suami. Disinilah masalah muncul lagi. Ternyata meskipun pesta diadakan di rumah, saya harus berdandan dengan adat Palembang. Semua sudah dipesan satu paket untuk pernikahan termasuk juga periasnya. Waduuuuh…… saya benar-benar terpojok, tapi tetap cerewet menolak ini itu. Si ibu baru memoleskan bedak, saya sudah bilang, jangan tebal-tebal ya bu, saya tidak mau alisnya dicukur, dll.

Suasana mulai memanas saat ibu perias ingin memasangkan bulu mata palsu. Saya menolak, tapi dia tetap ngotot. Akhirnya saya minta dipanggilkan suami dan bilang bahwa suami saya yang melarang saya memakai bulu mata palsu. Suami bengong karena bingung engga tau masalahnya. Dengan kode colek-colek tangannya saya minta dia mengangguk saja untuk menyetujui. Si Ibu mengalah dengan wajah cemberut.

Tidak pakai bulu mata palsu, alis tidak dikerok mungkin merupakan musibah bagi perias karena hasilnya menurut dia tidak maksimal. Tapi bagi saya ini sudah luar biasa, seumur hidup baru kali ini saya didandani semenor ini, sampai saya tidak mengenali diri saya sendiri karena kok jadi cantik begini.*kemudian dikeplak orang satu kampung.

Buat pengantin lain, berdiri di atas panggung seperti raja dan ratu sehari pasti membahagiakan tapi buat saya, yang paling membahagiakan adalah saat acara usai, bisa cuci muka dan saya bisa makan pempek.

Hahahaha, remeh temeh kebahagiaan saya mah.

6 Komentar »