Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

seorang intan di sebuah pertokoan

pada 8 Maret 2007

 Sore itu matahari hampir terbenam, aku bergegas meninggalkan sebuah pertokoan di daerah Bekasi ketika seorang anak perempuan  berusia sekitar 9 tahun mengikutiku dari belakang.  Dia masih mengenakan seragam putih merah dengan jilbab putih yang sudah agak lusuh.

“ Beli jepit rambut saya bu “ katanya menawarkan.



Aku menggeleng “ Oh enggak dik, makasih ya “ kataku tersenyum tanpa menghentikan langkah, hari sudah sore dan aku tidak mau terlalu malam sampai di rumah. Tetapi dia tetap mencoba mengikuti langkahku.



“ Tolong dibeli bu, uangnya buat bayaran sekolah” katanya setengah memaksa.



Sejenak aku terhenyak, buat bayaran sekolah? Ada pertentangan dalam hatiku apakah aku membeli saja jepit rambut yang di tawarkan, toh hitung hitung membantunya membayar sekolah, tapi ….apakah benar benar buat bayaran sekolah, bagaimana kalau dia termasuk komplotan penipu yang sering mengunakan anak kecil dalam menjalankan operasinya. Otakku langsung dipenuhi pemberitaan di Koran dan di milis tentang maraknya penipuan seperti ini. Sementara sisi benakku yang lain menyuruhku untuk segera bergegas meninggalkan tempat itu karena hari sudah semakin sore. Duh aku benar benar bingung.



Anak itu masih saja mengikuti langkahku, kali ini sambil merengek dia mencoba merayu aku membeli barang dagangannya.



“ Ayo dong bu, dibeli jepitan rambutnya,”



“ Berapa “ tanyaku tanpa mengurangi kecepatan langkah. Seperti mendapat angin dia juga mulai mempercepat langkahnya



“Lima ribu”



“Mahal amat”



Wajahnya tanpa ekspresi tapi aku tahu dia sangat berharap aku membeli jepit rambut itu. Hatiku Luluh. Akhirnya kuhentikan Langkahku tepat di depan gerbang toko.



“Oke….ibu tidak membeli jepit rambut kamu, tapi ibu mau membayar biaya sekolahmu, berapa biayanya dek?”



Dia kelihatan tertegun dengan pertanyaanku



“Mmm…….2 bulan, 40 ribu” katanya pelan



“Ibu akan bayar besok, tapi nanti ibu akan datang langsung kesekolahmu ya?, dimana sekolahnya?” dia terdiam sejenak kemudian menyebutkan salah satu sekolah negeri di daerah kranji.



Aku mengeluarkan secarik kertas dan pulpen, kucatat nama sekolahnya kemudian aku bertanya , “ namanya siapa dek”



Intan,  Jawabanya pelan, hampir tidak terdengar.



“ Intan percaya kan sama Ibu, Insya Allah besok ibu akan datang ke sekolah Intan dan membayar tunggakan biaya sekolah Intan” dia mengangguk.



“Sekarang kita pulang bareng yuk, hari sudah sore nanti  kemalaman”



Kali ini dia mengeleng



“Kenapa?, Intan di Mall ini mencari bantuan untuk biaya sekolah kan?, nah Insya Allah ibu akan membayarnya besok”



“Masih pengen disini” jawabnya tanpa menatap wajahku



“Disini mau apa?”



“Enggak mau apa apa, masih pengen disini aja”



Aku mulai curiga, mataku menyisir setiap sudut, apakah ada orang yang mengawasi kami berdua. Tetapi aku tidak mendapati orang orang yang mencurigakan. Prasangkaku di awal pertemuan dengannya tadi langsung muncul kembali.



“ Jadi Intan enggak mau pulang sekarang? “



Dia menggeleng. Aku coba menggertak,



“ Kalau Intan tidak mau pulang sekarang, ibu akan membatalkan bantuan untuk biaya sekolah “



Dia tertegun, kemudian menjawab mantap



“ Enggak apa-apa”



Kali ini aku yang tertegun. Aku tidak menyangka dia akan menjawab seperti itu, aku pikir dia sangat membutuhkan uang itu dan ancaman tadi maksudku hanya sekedar gertakan agar dia mau pulang. Setelah aku minta maaf , akhirnya kami berpisah. Aku masih sempat menoleh ke belakang, melihat tubuhnya menghilang di tengah keramaian pusat perbelanjaan.



Sebuah pertemuan yang singkat, tapi membuatku tidak bisa memejamkan mata semalaman. Bagaimana jika seandainya dia benar benar membutuhkan biaya sekolah itu,  bagaimana jika prasangkaku tentang komplotan penipu itu tidak benar . Aku dihinggapi perasaan bersalah. Wajahnya yang pucat dan letih terus membayangi aku. Besoknya aku menceritakan hal ini pada temanku dan menurutnya dia juga sering bertemu dengan anak bercirikan seperti Itan di pertokoan yang sama. Ia mengambil kesimpulan bahwa Intan termasuk ke dalam komplotan penipu. Aku tidak tahu apakah aku harus berlega hati dengan keterangan temanku karena ternyata aku tidak salah mengambil keputusan. Tetapi perasaanku belum tenang, kalaupun Intan termasuk kedalam komplotan penipu, dia hanyalah seorang anak kecil yang dimanfaatkan oleh oknum tertentu. Setidaknya saat itu mungkin aku bisa melepaskannya dari jeratan komplotannya.



Beberapa hari kemudian aku kembali mengunjungi pertokoan itu dan berharap dapat bertemu dengan Intan, tetapi tidak kutemui. Aku semakin sedih ketika ternyata kertas kecil untuk mencatat sekolah Intan juga hilang. Penyesalan selalu datang belakangan. Dari sini aku banyak belajar, bahwa di luar sana banyak anak-anak yang ya membutuhkan kita. Aku yakin mereka sesungguhnya bukan benar benar  orang yang jahat, mungkin lingkungan, keadaan dan orang orang dewasa yang berpikiran jahat yang mempengaruhi mereka. Karena sesungguhnya fitrah mereka adalah hanif 





13 OKTOBER 2006.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: