Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

suatu sore di dalam angkot

pada 16 Maret 2007

Sore hari sepulang kerja, saya naik angkot yang di dalamnya berisi beberapa penumpang. Di tengah perjalanan, naik dua orang laki-laki yang usianya sekitar 20 an. Saya melihat sekilas penampilan mereka dengan anting-anting bulat di kedua telinga, kuku yang di cat hitam dan dilengkapi assesoris gelang aneka bentuk. Asap rokok mengepul dari bibirnya yang hitam. Jalanan sore itu macet, tetapi saya malah tertarik mendengarkan percakapan mereka. Yang saya tangkap dari pendengaran saya, mereka sudah lama tidak pulang ke rumah. Mungkin kost di dekat kampusnya, pikir saya. Dengan tertawa sinis, pria yang satunya menduga keadaan keluarganya di rumah sedang kacau. Perbincangan dilanjutkan ke masalah minuman,  obat atau sesuatu yang saya tidak jelas maksudnya karena mereka menggunakan istilah-istilah yang tidak saya kenal. Saya hanya mendengar laki-laki itu dengan bangganya menyebutkan bahwa dia beberapa kali drop setelah memakan “sesuatu” itu. Perbincangan meluas ke masalah wanita , dari mulai ingin mengoleksi pacar, sampai ke masalah sex, yang ternyata mereka sering melakukan hubungan terlarang itu di tempat kost. Lucunya, salah satu dari mereka menggunakan kata ya Allah, ketika mengutuk temannya yang tidak melakukan kemaksiatan itu ketika ada kesempatan.

Saya memaknai kejadian yang baru saja saya alami  sebagai suatu pelajaran bahwa pergaulan di luar sana sudah sedemikian rusaknya. Saya tidak ingin menuduh mereka anak-anak berandalan yang tidak punya akhlak yang baik, hanya karena melihat penampilan dan isi perbincangan mereka. Mungkin mereka belum tersentuh oleh dakwah. Saya hanya merasa sedih membayangkan bagaimana perasaan orang tua mereka. Saya yakin tidak ada orang tua yang tidak berharap anaknya menjadi pelaku kemaksiatan. Tahukah orang tua mereka bahwa pergaulan di luar sudah sangat mengerikan, terbayangkah oleh mereka bahwa anaknya sudah sangat jauh melangkah ke dalam kubangan maksiat.

Saya dibesarkan di tengah-tengah pergaulan orang-orang yang baik dan saya sangat mensyukurinya, karenanya saya tidak pernah tahu seberapa gelap kehidupan pergaulan di luar sana. Mungkin lebih gelap dari yang saya bayangkan. Saya ingin peduli tetapi saya tidak tahu harus memulai dari mana dan bagaimana mengekspresikan kepedulian saya terhadap mereka. Di antara perbincangan seru tentang petualangan mereka, saya sisipkan sebait doa dalam hati,

“ ya Allah yang Maha membolak balikkan hati, condongkan hati mereka pada hidayahMU, agar mereka dapat lebih memaknai hidup ini”

 

Hanifa Syahida,

rina@takaful.com

K 19, suatu sore di tengah kemacetan bulak kapal

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: