Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

asalkan istriku senang, asalkan anakku tidak kecewa

pada 3 Mei 2007

Dua pekan ini badan rasanya capeee banget. Kerja, aktivitas partai, ta’lim, nungguin suami ngajar, ke rumah ortu dan ketambahan bolak-balik nengokin calon rumah baru yang sedang direnovasi. Berhubung ada aktivitas tambahan  mengawasi pekerjaan renovasi rumah, jadi capenya dobel. Tapi tetep seneng sih apalagi membayangkan sebentar lagi bakalan pindah rumah dan memulai langkah-langkah baru di sana.

 

Pekan ini tukang bangunan mulai mengerjakan dapur….aku ke sana pas banget selesai pengerjaannya. Wewew…..aku tertegun, karena hasilnya tidak seperti yang aku bayangkan. Meja kompor tingginya hampir sedada, tempat cucian piring lebih tinggi lagi. Tubuhku yang mungil, imut-imut dan manis ini (halah!),  pasti ga nyaman dengan kondisi dapur seperti ini. Ketika aku tanyakan dengan pak tukang, dia menjawab bahwa ukuran meja dapur ini sudah standar……Lha….standarnya siapa…kalo standar orang bule yang tinggi-tinggi sih mungkin iya, tapi aku kan mungil  begini, masa’dapurnya setinggi itu. Duh…aku sedih banget deh , padahal sebelumnya dah kasih ukuran yang aku pinta ke bapak tukang itu. Sampai rumah aku cerita ke mama dan suamiku, intinya aku kecewa sama kondisi dapurnya. Tapi juga ga tahu harus berbuat apa karena sudah terlanjur jadi.

 

Paginya, mama dan suamiku ternyata langsung menuju ke sana dan melihat dapur yang aku ceritakan. Tanpa aku duga sebelumnya  mereka meminta pak tukang untuk membongkar dapur yang sudah jadi itu. Kata suamiku, dibongkar saja deh pak, gak papa, yang penting istri saya senang. Trus mama menambahkan, iya pak enggak apa –apa kita rugi bahan bangunan asalkan anak saya tidak kecewa…. Padahal aku tahu kita sedang mengirit biaya renovasi karena persediaan uang menipis, dengan membongkar dan mengulangi pembuatan dapur berarti menambah biaya kan?…..

 

Sesaat aku merenung….bukan merenungkan dapur yang akhirnya dibongkar, tapi merenungkan mama dan suamiku, dua orang yang sangat aku sayangi. Bayangkan mereka hanya ingin aku senang,  aku tidak kecewa. Merasa tersanjung gak sih ada orang yang memperlakukan kita seperti itu?…Duuuuh gimana ya… aku mengungkapkan perasaanku terhadap mereka. Mama buatku adalah sosok ibu ideal. Seorang wanita yang persediaan kasih sayangnya tidak pernah habis dari sejak aku kecil hingga aku sudah menikah bahkan mungkin nanti sampai salah satu diantara kita pergi menghadap RAbb.

 

Ketika menikah, alhamdulillah Allah memberikan lagi satu orang yang kasih sayangnya terhadapku juga luar biasa. Banyak cara yang sudah suamiku lakukan untuk membuat aku senang. Dari perhatiannya terhadapku, aku merasakan ketulusan kasih sayang. Sungguh suatu nikmat yang tiada terkira, memiliki orang-orang seperti mereka. Entah dengan cara apa aku harus membalas kebaikan mereka. Diam-diam aku bergegas merangkai sebait doa , “sayangi mereka ya Allah, lebih dari mereka menyayangi aku, karena mereka pantas mendapatkan kasih sayangMU…..”

 

Hanifa.syahida

Luv you so much mom…and my dear….

2 mei 2007

Iklan

2 responses to “asalkan istriku senang, asalkan anakku tidak kecewa

  1. Seriyawati - berkata:

    jazakillah…ikut senang sekali dengan keadaan mba…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: