Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

tipisnya batas kematian

pada 26 Juni 2007

Tutatitut tutatitut…..itu bukan suara kereta api atau suara orang  k****t, tapi suara HP ku yang ngasih kode ada sms masuk. Dari siapa ya? Ouw kakak iparku rupanya. Isinya apa ya? (hmm…mau tauuuk aza…hehe).wah… beliau mengundang aku dan suami untuk bisa hadir di acara syukuran kelahiran anaknya yang ketiga. Duuuh pengen banget ngeliat keponakanku yang pasti imut-imut. Waktu aku sampaikan hal ini ke suamiku, dia cuma tersenyum, aku balas tersenyum lagi, jadilah kita saling tersenyum. Senyum getir tepatnya. Krena aku tahu arti senyum itu begitu dalam, menandakan kita gak punya ongkos untuk memenuhi undangan itu….Hehehe .Maklumlah butuh ongkos lumayan banyak untuk bisa sampai ke selatan pulau Sumatera itu. Kita baru aja pindah rumah dan uang tabungan sudah habis terkuras. Gimana caranya ya, ….Olala….subhanallah….kakakku itu ternyata pengertian banget, demi adiknya dia rela transfer uang untuk ongkos kita pulang kampung. Jadi ceritanya biaya akomodasi ditanggung nih.

 

Seneng banget deh akhirnya bisa ke palembang, ngebayangin makan mpek mpek sepuasnya, makan mie celor di 26 ilir, jalan-jalan ke sungai musi…Horeeee… Palembang I’m coming…..tapi eiit ntar dulu….ke Palembang , cuti cuma dapat sehari, berarti harus naik pesawat terbang dong…..Huuuaaaa…..suamiku ketawa  waktu aku usul gimana kalo kita ga usah naik pesawat, tapi berenang aja menyusuri selat sunda. Aku takut nih naik pesawat, kalo naik pesawat telpon atau pesawat televisi, berani deh!. Meskipun ini ke 4 kalinya aku naik pesawat terbang, tapi tetep aja ga bisa ngilangin perasaan takut. Apalagi belakangan banyak kejadian menimpa pesawat dari mulai hilangnya Adam Air sampai terbakarnya pesawat Garuda. Waduh…. secara dosa masih menggunung tinggi.

 

Akhirnya aku coba kuatin hati, merefresh kembali makna kematian, bahwa ajal itu bisa datang dimana aja, tidak harus naik pesawat kalo memang sudah waktunya meninggal ya pasti akan meninggal. Bahkan kita ga bisa sembunyi meskipun di balik benteng yang kokoh. Jadi inget kisah Khalid bin Walid, seorang panglima perang di zaman Rasulullah yang jam terbang perang dah banyak, akhirnya meninggalnya di tempat tidur karena sakit. Padahal dari sekian banyak pengalamannya berperang, nuansa kematian itu begitu dekat dengannya. Bisa aja kan beliau syahid karena di tebas pedang lawan, tapi ternyata Allah punya kehendak lain. Banyak juga orang yang sehat , segar bugar habis ketawa ketiwi tiba-tiba sudah tak bernyawa. Jadi kesimpulannya, kita  harus dalam kondisi siap menghadapi kematian kapanpun dimanapun dalam kondisi apapun. Dosa segunung galunggung?? Ya dikurangi dong….selagi masih bisa bernafas, itulah kesempatan berharga memperbaiki diri. Yup….sedikit-sedikit perasaan takut naik pesawat terbang agak berkurang, kini berganti kepasrahan yang sungguh.

 

Zuhur dah sampai bandara, aku bergegas ke mushola. Di sana doaku jadi lebih khusyu, aku bilang sama Allah, ya Allah kalo memang ajalku berakhir di pesawat terbang, aku mohon ampun atas segala kekhilafan, dan apabila Engkau masih memberi kesempatan aku untuk memperbaiki diri, mudahkanlah dan selamatkanlah aku dalam penerbangan ini. Setelah itu kepasarahan semakin kokoh dan aku mantap melangkahkan kaki ke dalam kabin.

Mungkin karena sudah sangat pasrah, aku justru menikmati penerbanganku kali ini. Posisi dekat jendela di kursi untuk dua orang. Romantis deh, kaya tuan dan nyonya di gedongan hehehehe….Aku segera mengabadikan pemandangan menakjubkan di luar jendela dengan kameraku. Mulutku tah henti-hentinya bertasbih, ketika menyaksikan awan-awan putih yang berarak seperti kapas dan debur ombak di selat sunda. Aku masih jeprat-jepret mengabadikan fenomena alam itu ketika tiba-tiba mbak pramugari mengingatkan penumpang untuk tetap berada di tempat dan menggunakan sabuk pengaman karena memasuki pulau sumatera ternyata cuaca buruk. Sambil deg deg an aku memasukan kamera ke dalam tas, lalu mengambil posisi diam duduk dengan tangan terlipat seperti anak TK. Jujur, rasa takut mulai merayap, tapi lalu ingat tadi sebelum berangkat aku sudah sedemikian pasrah. Kurangkai doa supaya aku lebih tenang.

 

Alhamdulillah, mba pramugari yang cantik itu mengumumkan kita sudah sampai di Palembang dan sebentar lagi mendarat di bandara Sultan Mahmud Baddarudin 2……Cihuy….pesawat sukses sampai di landasan. Senyumku kembali merekah. Akhirnya 45 menit penerbangan itu usai. Sepanjang perjalanan menuju rumah mertua, aku merenung, ternyata begitu tipis batas antara kehidupan dan kematian . Seandainya tadi mas  Pilot sedikit saja melakukan kesalahan atau ada sedikit saja kerusakan pesawat, mungkin saat ini aku sudah jadi bubur. Ups….Pelajaran lain, manusia itu ternyata sangat bergantung pada Allah, seperti pengharapanku tadi. Dalam keadaan sedih, terdesak, ketakutan hanya Allah saja yang mampu menenangkan. Kemudian, sudah seharusnya kita menyadari bahwa sesungguhnya di setiap desahan nafas kita ada maut yang selalu mengintai, karenanya betapa luar biasanya Allah yang masih memberi kita kesempatan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Nah …ketika sudah sampai di darat, bercengkarama dengan Keluarga, disibukkan dengan rutinitas duniawi, apa getar-getar dzikrul maut itu masih berdenyut kencang?…atau justru kembali lalai?….hmmm…. doakan aku yah, supaya istiqomah.

 

20 juni 2007

Terima Kasih Allah, yang telah melenyapkan rasa takutku

Iklan

12 responses to “tipisnya batas kematian

  1. Lolly aja berkata:

    Abis jalan-jalan dari Palembang ya Rin…???

  2. ruy ruhiyah berkata:

    assalamualaikum asyik donk ke palembang…gimana kesannya mbak….btw saya tinggal di palembang lo…. coba kalo qt kenal dari kemarin ya…mb bisa main kerumah ku… 🙂 Palembangnya di bagian mana mb?

  3. Lintang Karainan berkata:

    subhanallaah cerita sederhana tapi maknanya begitu dalam, jadi bahan renungan bwt saya juga ttg maut yg mengintai setiap saat, makasih sekali sudah mengingatkan (walo tak secara langsung).

  4. Lintang Karainan berkata:

    hihihi….geli deh bacanya…;-)

  5. hanifa syahida berkata:

    aku aja nulisnya geli, bu hanif…alhamdulillah klo bermanfaat

  6. hanifa syahida berkata:

    aku juga geli nulisnya…hehehe…alhamdulillah klo bermanfaat

  7. hanifa syahida berkata:

    di palembang rumah mertua, di 11 ilir dekat pasar kuto…palembangnya dimana?…..wah kalo ke sana lagi insya Allah mampir deh.

  8. hanifa syahida berkata:

    iya niy mba loly..ke palembang…mo ngasih oleh2 sih…tapi .jauh…halah!

  9. Handi Handiana berkata:

    Subhanalloh….
    Tulisannya keren-keren banget ……..!

  10. hanifa syahida berkata:

    makaih….baru belajar kok pak…^_

  11. Wayan Lessy berkata:

    🙂 sama mbak..suka deg deg an kalau terbang..aneh..padahal sering bgt terbang..jarak jauh malah….namun semakin sering semakin deg degan. Obatnya ya cuma satu pasrah dan berdoa…sambil mengingat tujuan kita terbang untuk apa.

  12. hanifa syahida berkata:

    hehehe….tapi emang itu terapinya kali ya wayan….supaya bisa lebih sering dzikrul maut…lam kenal yaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: