Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

dukaku atas sakitmu, dura…..

pada 27 November 2007

 

Seorang sahabatku, Laily, yang tinggal di Papua, sedang berada di Bekasi. Aku senang mendengarnya, karena sudah hampir 2 tahun kita tidak pernah bertemu. Tapi kegembiraanku berganti duka saat aku tahu ternyata kepulangannya ke Bekasi dalam rangka pengobatan Dura, putri semata wayangnya yang berusia dua tahun.

Kemarin sore aku berkesempatan untuk menjenguknya, duuuuuh gak tega deh lihatnya. Seusia Dura seharusnya sedang aktif berlari kesana kemari sambil berceloteh riang, tapi aku mendapati tubuhnya tergolek lemah. Dia hanya mengerang, merintih tapi tangisnya tanpa air mata. Tiga pekan lalu tubuhnya agak demam, ketika Laily dan suaminya memeriksakan ke Rumah Sakit ternyata diagnosa dokter sangat mengejutkan. Dura divonis terkena Hydrocephalus, kepalanya mengalami pembesaran karena ada cairan.Sebelumnya tidak ada gejala kelainan, dari proses kehamilan sampai usia 2 tahun ini Dura terlihat baik-baik saja, bahkan diantara teman-teman seusianya, Dura lah yang paling pesat perkembangannya. Belum lagi hilang keterkejutan Laily dan suami, mereka juga harus menghadapi kenyataan bahwa ternyata , di belakang kepala Dura didapati tumor. Robbana…..

Tapi Laily adalah seorang akhwat yang tegar, bahkan aku pernah menjulukinya akhwat perkasa karena diantara teman2nya dia yang paling berani mengajukan diri sebagai relawan ketika Aceh dilanda Tsunami. Berbulan-bulan di Aceh dia terbiasa menghadapi mayat, orang berpenyakit dan masalah-masalah lainnya.Tapi Laily tetaplah Laily seorang manusia dengan segala keterbatasan. Meskipun dia selalu tersenyum, aku tahu dia menyimpan duka yang dalam atas apa yang menimpa Dura

“Allah menganggap aku mampu menghadapi ini semua mbak, makanya aku berusaha untuk menjalaninya saja “

kata Laliy tidak lepas dari senyumnya. Bahkan dia masih bersemangat menceritakan proses pengobatan Dura. Kalaupun harus dioperasi, maka seumur hidup Dura harus memakai selang yang disambungkan dari otak sampai ke lambung. Setelah beberapa tahun, kepalanya harus dioperasi kembali untuk mengganti selang itu agar disesuaikan dengan perkembangan tubuh Dura. Belum lagi dengan masalah tumor otak, apabila harus dilakukan operasi pengangkatan tumor, juga beresiko tinggi, karena akan berefek kebutaan atau lumpuh. Sungguh resiko yang sangat berat Aku hanya mampu terpana mendengarnya, tidak mampu berkata-kata hanya membayangkan bagaimana aku bila ada di posisi Laily, sanggupkah aku.

Dura, aku ikut menangis untukmu sayang. Meskipun engkau tidak lagi lincah seperti foto-foto yang dikirimkan ummimu untukku, tapi engkau tetap anak manis yang menggemaskan. Aku melihat harapan di balik sorot matamu yang meredup. Aku melihat sebuah kekuatan di balik isakmu yang kadang tertahan. Allah menjadikan semuanya ini tiba-tiba setelah keceriaan hampir setiap hari menghiasi rumahmu, tapi aku yakin tidaklah sulit juga bagi Allah untuk menjadikan semua ujian ini berakhir. Doaku untukmu Dura.


Bekasi Selatan, 26/11/2007




Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: