Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

sok jadi pengamat….

pada 17 September 2008

 

Hmmm…. lama banget niy diriku gak posting di MP. Jarang di jenguk pula, untungnya Mp ga kek dodol yang klo didiemin lama jadi berjamur.(hehehe…kata dodol, kok bawa2 nama gw siich!!). Belakangan ini memang agak sibuk (sok sibuk tepatnya), mengurusi baksos, amanah dakwah, persiapan ramadhan dll. Ide tulisan sih buanyak tapi kalo si Mister muales udah datang, kok rasanya jari-jari ini lemes untuk mengetik kalimat-kalimat, halah…. bilang aja emang pemalas, susye bener ngomongnyah hehehe. Gimana mau jadi penulis profesional kalo latihan menulis aja banyak malesnya daripada rajinnya. Nulis satu artikel selesai, liburnya sampai satu bulan. Hmmmm….

Mudah-mudahan ramadhan ini jadi momentum untuk semangat lagi menulis, terutama menulis tentang realita sosial di sekitar kita. (kiiita??). Hampir setiap hari berjibaku dengan kerasnya suasana jalanan, membuat aku secara tidak sadar menjadi seorang pengamat amatiran. Dari mulai perilaku pengendara mobil atau motor sampai mengamati kondisi jalan yang cepat sekali berlobang (halah!… sok banged dah si rina)…

Seperti suatu sore di perempatan lampu merah beberapa hari sebelum ramadhan. Aku sedang memperhatikan seorang pengemis perempuan yang menggendong anaknya, kira-kira umur 3 tahun. Pakaian lusuh, wajah penuh debu, penampilan khas seorang pengemis. Aku lihat anak tersebut menangis dan ibunya berusaha menenangkan tapi tangisnya tak juga mereda. Tiba-tiba seorang penjual asongan mendekati mereka dan memberikan minuman kemasan. Ambil saja, enggak apa-apa, katanya penuh ketulusan, dan tangis anak itupun berhenti. Ah… pemandangan yang mengharukan. Berapalah keuntungan seorang pedagang kecil seperti dia, tapi tanpa harus berpikir lama, dia rela berbagi. Aku jadi teringat beberapa pengusaha yang keuntungan bisnisnya berlimpah tapi susaaaahnya minta ampun kalau disodori proposal kegiatan dakwah, diminta berzakat profesi pun masih berhitung-hitung, kebutuhan sudah terpenuhi belom yah, bahkan malah ada yang berdebat zakat profesi ga ada perintah dari Allah atau hadist yang shahih….. lhaa…..

Ketika lampu lalu lintas menyala hijau, pandanganku masih tidak mau lepas dari adegan itu. Seharusnya orang-orang yang kaya tapi kikir terhadap hartanya malu melihat orang yang dengan keterbatasannya justru bisa memberi untuk orang lain. Aku hanya bisa berdoa dalam hati untuk bapak penjual asongan itu, semoga Allah mengganti apa yang engkau keluarkan dengan rezeki yang berlimpah dan berkah. Amiiin

Kranji, 17 September 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: