Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Jilbabnya harus di lepas yah bu…

pada 12 Juni 2009

 

Subhanallah …. ternyata memang nikmat sehat itu tak ternilai harganya. Berbaring tak berdaya 3 hari di rumah sakit membuatku seperti “mati gaya” ( halaaaah…. iklan banget dah). Aku yang terbiasa aktif pecicilan kesana kemari tiba-tiba harus diam tidak boleh banyak bergerak karena tangan dijerat infus. Kata bu dokter sih asam lambung meningkat dan HB rendah banget. Yaahh…. terima nasib aja, itung-itung istirahat total. Meskipun judulnya sakit, fesbukan mah teuteup, yang sakit kan lambungnya bukan jarinya…hehehe. Sampai-sampai temanku yang di Tangerang baca statusku di FB ga percaya kalo aku sakit dan sampai harus menelepon untuk memastikan aku benar-benar di rawat di RS. “aku kirain status di FB itu becanda mba….” (piss ah ..dini… 🙂 )

Untuk memastikan kondisi lambungku, dokter memutuskan untuk endoskopi. Haduuuh…. ngebayangin ada alat yang dimasukan ke dalam tubuh kok jadi ngeri. Tapi mama dan suamiku setiap waktu tidak berhenti memberi semangat, supaya aku tidak terlalu takut. Bismillah… jam 3 sore masuk ruang endoskopi langsung ditangani 2 orang perawat. Pasang selang ini itu, di jepit jari tengahnya, nyiapin alat dsb, lalu sampailah dialog itu…..


“ Jilbabnya harus di lepas yah bu…”


Hah?????…..ini kaget beneran..

“ tapi di ruangan ini nantinya perempuan semua kan mbak…dan tidak ada laki2 yang masuk kan ?”


“ Dokter anastesinya laki-laki bu …”


Tambah kaget…..

“yaah gimana dong…. masa harus buka jilbab sih…. apa ga bisa kalu tetap dipakai aja suster? “


“ ga bisa bu…. semua yang akan diendoskopi memang harus dibuka jilbabnya, nanti kan akan dipasang oksigen dsb…. “


Hiks… Ya Allah mudahkanlah… jeritku dalam hati… ga rela harus buka jilbab di hadapan laki2 bukan muhrim. Tidak lama…Bu dokter yang menangani sakitku masuk ruangan dan langsung aku ajukan permohonan untuk bisa tetap berjilbab….


“ hmmm…. gimana yah, sebenernya bisa sih pakai jilbab… coba nanti kita tanya dokter anastesinya yah…” hatiku masih gerimis, berharap sekali pak dokter setuju.


“nah itu pak dokter…. gimana dok, bisa gak pasien ini tetap pakai jilbabnya?…”


“Ooohh…. boleh saja, tapi maaf yaa nanti jilbabnya agak saya naikkan sedikit “kata pak dokter tersenyum ramah. Alhamdulillah…..Legaaaaaaaaaa, aku bisa tertidur tenang di alam bius.


Eh…btw cerita beginian dituntut kek Prita Mulyasari gak yah….hhehehe


Istiqomah dengan jilbab memang bukan perkara mudah, apalagi ketika kita berada di area publik yang tidak semua orang faham. Di rumah sakit misalnya. Banyak ditemui muslimah harus melepas jilbabnya karena aturan medis, padahal sebenernya masih bisa disiasati dan tergantung juga muslimah tersebut mau pasrah aja sama keadaan atau mau memperjuangkan jilbabnya. Masa’sih Allah mewajibkan jilbab untuk menyulitkan pemakai nya….. Aku yakin banget ketika kita berusaha maksimal menjalankan perintahnya, maka akan berbanding lurus dengan kemudahan yang Allah berikan. Eh…. serius amat yaks aye….

Indahnya berjilbab juga aku rasakan ketika saat-saat terakhir di rumah sakit. Bu dokter yang menangani penyakitku harus ke luar kota, sebelum pergi dia menyampaikan hal ini padaku. Iseng-iseng aku bertanya…

“Penggantinya siapa dokter? “


“ Ooh ada… namanya Dokter Karta “


Waaaakss…. ga ada kan nama Karta dimiliki oleh seorang perempuan. Hmmm… dokter laki-laki…Aku membayangkan seorang dokter yang tidak ramah, tangannya masuk ke bajuku dan menempelkan stetoskopnya di dadaku.. Hiiiiiii….Setengah hati menunggu kedatangan dokter ini.


Tapi ternyata menjelang sore…..

Seorang dokter masuk ruangan tempat aku di rawat inap yang dihuni oleh 3 orang dan aku kebagian di bed paling ujung. Jadi paling terakhir nih. Setiap pasien disapa ramah…. selamat sore…..selamat sore…. dan giliranku…. Assalamualaikum… dia berdiri agak jauh, bertanya ini itu dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Maap yah … saya periksa sebentar…. dia langsung menempelkan stetoskopnya di dadaku tanpa membuka bajuku dan tetap berada di atas jilbab lebarku.Alhamdulillah …. maap yah pak dokter tadi buruk sangka dikiiit.. kataku dalam hati(keknya buruk sangka mo banyak mo dikit tetep sama dosanya yaks…hehe )


Begitu banyak keuntungan dan keindahan berjilbab…. kenapa masih banyak orang yang ragu memakainya yaks…….



9 Juni 2009

Iklan

7 responses to “Jilbabnya harus di lepas yah bu…

  1. ario muhammad berkata:

    udah sembuh bu ?
    Berat euy…

  2. hanifa syahida berkata:

    alhamdulillah sudah….. makasih yah

  3. novita maizir berkata:

    cepat fit ya bu..
    btw, sekrg banyak koq dokter yang meriksa tanpa harus membuka baju…
    heheheh

  4. Semoga lekas pulih total mbak 🙂
    Jaga kesehatan ya….^_^

  5. hanifa syahida berkata:

    oo gitu yah.. ya alhamdulillah klo begitu supaya muslimah merasa nyaman… dan baiknya sih emang cari dokter perempuan, biar tambah nyaman…. tengs yah..

  6. hanifa syahida berkata:

    amiiin ya Allah…. makasih doanya yach ^_*

  7. kanny d berkata:

    Masya Allah…
    tetep istiqomah ukht, semoga kelak di akhirat Allah menutup keburukan & dosamu. Amiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: