Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Alhamdulillah Kanaya lulus S1 ASI Exlusive……

pada 20 April 2011

Alhamdulillah, sepenuh syukur bisa terlewati 6 bulan penuh perjuangan untuk memberikan kanaya makanan terbaik. Tidak menyangka akhirnya gelar sarjana ASI bisa melekat padanya, meskipun perjalanan masih panjang untuk menyempurnakan pemberian ASI hingga 2 tahun kedepan, tapi setidaknya aku sudah lega bisa melalui segala rintangan selama 6 bulan ini. Apalagi kalo ingat di awal-awal bulan melahirkan, ppfffiuuh… penuh cerita dan air mata..


Ketika hamil aku memang lebih fokus menyiapkan diri untuk menjaga kandunganku dan berpikir bagaimana caranya aku bisa melahirkan dengan lancar. Segala macam artikel tentang kehamilan dan kelahiran aku baca, tapi aku lupa menambah ilmu tentang segala hal pasca melahirkan. Jadilah aku yang minim informasi ini terkaget-kaget melihat banyak kejadian diluar dugaan. Yang aku tahu hanyalah aku ingin memberikan ASI untuk bayiku, tapi aku tidak tahu bagaimana manajemen laktasi yang benar. Sampai akhirnya aku benar-benar merasa terbantu ketika ikut milis Asi For Baby, yang para anggotanya saling menyemangati agar bisa memberikan asi untuk bayinya.


Hari pertama bayiku lahir, aku minta pihak rumah sakit tidak memberikan sufor pada bayiku, tetapi ketika kususui tidak ada sedikitpun air susu yang keluar, bayiku menangis, aku sungguh tidak tega melihatnya, dengan berat hati aku menyerahkan pada suster dan bisa ditebak, mereka memberikan sufor pada bayiku…. ihiks…ihiks…Padahal meskipun 3 hari bayi yang baru lahir tidak disusui ditubuhnya masih tersimpan cadangan makanan. Sayangnya ilmu itu baru aku ketahui setelah 1 bulan melahirkan. Aku ingin cepat-cepat pulang supaya di rumah nanti aku dan bayiku bisa lebih sering bersama dan aku bisa lebih leluasa menyusui. Sesampainya di rumah ternyata tidak seindah yang dibayangkan, bayiku selalu menangis disetiap malam, dan apabila tangisnya tidak juga mereda ibuku langsung ke dapur membuatkan susu yang memang diberikan oleh rumah sakit saat aku pulang. Uggh… menyesalnya memilih rumah sakit yang tidak pro ASI.


Aku pernah menyampaikan keberatanku atas pemberian sufor ini pada ibuku, tapi alasan beliau air susuku belum lancar, bayiku sering menangis dan kasihan melihat aku saat harus menyusui pasca operasi. Ah aku hanya bisa pasrah, terbayang aku akan gagal memberikannya ASI Eksklusive Hingga suatu hari aku memberanikan diri meminta ibuku untuk tidak lagi memberikan sufor, karena aku yakin air susuku banyak karena aku sudah berusaha makan makanan bergizi supaya asiku berkualitas dan juga melimpah. Jadilah setiap hari aku berjuang supaya bayiku bisa menyusui dengan lancar, meskipun harus menahan nyeri jahitan operasi, dan masih agak kaku saat harus memangkunya..


Suatu malam bayiku menangis terus, tidur hanya sebentar selebihnya hanya menangis dan menangis. Aku agak panik, padahal wajar bayiku sering menangis karena ASI sangat mudah terserap usus sehingga bayi yang diberi ASI memang jadi cepat lapar. Aku yang masih nervous karena baru saja menjadi ibu menjadi tambah bingung dan serba salah. Tidak disangka ternyata tekadku untuk hanya memberi asi membuat ibuku kecewa, malam itu di tengah tangis bayiku, ibuku juga menangis karena tidak tega melihat bayiku seperti kelaparan dan memohon supaya aku memberinya sufor. Aku hanya terdiam dan akhirnya menangis juga, tinggal suamiku yang kebingungan berada di tengah-tengah 3 perempuan yang saling bertangisan. Ah, beratnya mempertahankan idealisme, jadilah malam itu kembali untuk kesekian kalinya bayiku mencicipi sufor. Hiks… sedih sekali rasanya. Suamiku menguatkan bahwa aku harus pelan-pelan memberi pengertian kepada orang tua supaya tidak tersinggung. Insya Allah suatu saat ibu pasti akan mengerti. Kata-kata suamiku itu menjadi pemacu semangatku hingga aku terus mengupayakan supaya ASIku berlimpah.


Alhamdulillah perlahan-lahan dalam waktu yang tidak lama setelah kejadian malam itu, asiku mulai berlimpah dan bayiku sudah jarang menangis hingga tidak ada alasan lagi untuk memberinya sufor. Ibuku juga kelihatan mulai mendukung pemberian ASI tanpa sufor, apalagi setelah dari hari kehari tubuh anakku mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, berat badannya selalu bertambah tiap bulan dan terlihat sangat sehat. Bahkan ibuku sering bangga memamerkan ke setiap orang yang dikenal bahwa cucunya gemuk dan sehat meskipun hanya minum ASI saja.


Perjuanganku belum berhenti sampai disini, aku harus menyiapkan diri apabila masa cuti 3 bulan selesai. Aku mulai cari info di internet bagaimana manajemen laktasi ibu bekerja. Ternyata aku sudah harus mulai memikirkan stock ASI Perah (ASIP) sejak belum masuk kerja. Mulailah hari-hariku dipenuhi dengan kegiatan memompa asi. Bayiku juga aku latih minum asip supaya tidak kaget apabila bundanya mulai bekerja nanti. Aku juga mulai menyiapkan breastpump, botol kaca untuk tempat asip, blue ice, cool bag, sterilizer untuk mensteril perlatan bayi, warmer untuk menghangatkan asip dan perlengkapan lainnya, bahkan sempat terlintas ingin membeli kulkas yang dua pintu karena kulkasku yang satu pintu sangat kecil kapasitasnya.. Heboh deh pokoknya, aku sampai bongkar celengan untuk membeli semua keperluan tersebut. Semua demi kanayaku tercinta.


Hari pertama kerja adalah hari paling mendebarkan buatku. Meskipun kanaya kutinggal bersama ibuku yang sangat menyayanginya tapi hatiku tetap masih was was. Tapi ibuku bilang kanaya akan rewel atau tidak itu tergantung aku, kalau aku bisa mengendalikan perasaan untuk tidak selalu mengingatnya maka kemungkinan kanaya tidak rewel dan sebaliknya, lagipula kualitas dan kuantitas asiku juga akan mempengaruhi kalo aku terlalu stres. Berbekal dari nasihat ibuku ini, aku mulai menata hati dan pikiranku. Sulit sekali pada awalnya, pernah seharian aku ingat kanaya terus dan rasanya mau menangis karena kangen ingin bertemu, tetapi benar kata ibuku, hal ini langsung berpengaruh karena hasil perahan asiku jadi sedikit. Duh, kalo seperti ini, ingin sekali rasanya jadi Full Time Mother yang bisa seharian bertemu kanaya, tapi ada banyak pertimbangan yang menyebabkan aku harus menjadi working mother. Semoga keadaan ini selalu berbalut keikhlasan


Demi memberikan ASI eksklusif untuk kanaya aku lebih rajin memompa, karena banyak dan sedikitnya asi tergantung juga dari intensitas memompa selain seringnya menyusui. Bangun pagi setelah sholat subuh aku langsung memompa asi, setelah beberes dan memandikan kanaya aku bersiap berangkat kerja dengan perbekalan seperti orang mau perang. Cool bag diisi 6 botol kaca kosong untuk menampung hasil perahan asip di kantor dan blue ice untuk menjaga agar tetap dingin. 2 buah breastpump kumasukan ke dalam tas beserta bekal makan siang, cemilan, tisu/handuk kecil, air minum, payung dll. Pundak kiri dan kanan full tas yang berat-berat. Makanya tiap bulan wajib dipijat karena badan rasanya ga karu-karuan saking pegelnya.


Sampai di kantor langsung sibuk sama pekerjaan. Pukul 10 mulai deh sesi pertama pompa memompa, dilanjutkan pkl 14 dan 16.30. Alhamdulillah bosku mengizinkan aku untuk bisa memompa asi di ruanganku (ruangan tertutup). Sesampainya di rumah setelah mandi biasanya kanaya kangen menyusu langsung dari bundanya, nah kalo dia tidur aku baru mulai memompa lagi. Jadi sehari bisa sampai 5 kali aku memompa. Masih sedikit dibandingkan teman-teman di milis yang sehari bisa sampai 8 kali pumping!!. Alhamdulillah asipku selalu melimpah, bahkan pernah frezerku tidak menampung lagi hasil perahan.


Tetapi ternyata, kemudahan ini membuatku terlena, aku tidak menyadari ternyata stok asipku mulai menurun hingga suatu hari aku melihat hanya tinggal 5 botol saja. Bersamaan dengan itu hasil pumpingku juga mulai ada penurunan, biasanya full satu botol mulai tinggal setengah sekali pumping. Tentu saja aku jadi panik. Segera aku mengkonsumsi berbagai macam makanan yang dapat memperbanyak asi. Mulai dari habbatusauda, sari kurma berbagai merk, madu, sayur pare, susu uht, kacang-kacangan sampai makan tape ketan yang sebetulnya aku tidak suka. Karena agak panik dan stres ternyata justru malah berpengaruh terhadap asiku, semakin hari semakin berkurang jumlahnya. Tetapi aku tidak patah semangat, aku tanamkan dalam pikiranku bahwa asiku cukup untuk bayiku. Setiap hari aku memompa lebih sering meskipun hasilnya sedikit. Alhamdulillah lama kelamaan membuahkan hasil. Asiku banyak seperti biasanya. Uggh… lega banget, pengalaman ini membuatku jadi lebih memperbaiki manajemen asi.


Terkadang rasa jenuh juga menghinggapiku karena dalam sehari harus beberapa kali memompa, belum lagi apabila pekerjaan sedang banyak dan sering stres. Tapi apabila kulihat foto kanaya yang sedang tersenyum, aku langsung bersemangat lagi. Aku hanya ingin memberi yang terbaik untuknya, meskipun harus mengorbankan apapun.


Hari ini 20 April 2011… alhamdulillah, terlewati masa-masa sulit sekaligus menyenangkan buatku. Genap 6 bulan kanaya mendapatkan asi meskipun sempat mencicipi sufor. Dari artikel yang aku baca, gelar S1 Asi Eksklusive bukan sekedar bayi mendapatkan asi tanpa tambahan makanan atau minuman apapun, tapi termasuk kedalamnya adalah perjuangan untuk memberikan asi padanya. Ah, gelar apapun sebenarnya tidak terlalu penting buatku, yang terpenting adalah kanaya tumbuh sehat dan mudah-mudahan asi akan bermanfaat untuk pertumbuhannya kelak. And now….. kanaya mulai masuk ke dunia baru, yaitu MPASI, dan mudah-mudahan akan tetap mendapatkan ASI sampai usia 2 tahun nanti..aamiin.


20 April 2011





Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: