Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Kenapa harus dengan kekerasan

pada 31 Oktober 2011

Belakangan ini, saya sudah tidak lagi mendengar cacian dan makian dari tetangga sebelah. Biasanya kata-kata keras, pukulan, tangisan mewarnai hari-hari di rumah itu. Yup, ternyata anak lelaki kelas 2 SD itu memilih tinggal bersama saudaranya di Surabaya untuk bersekolah disana. Satu sisi saya senang sudah tidak lagi mendengar cacian kasar atau pukulan yang membuat miris hati, tapi sisi lain saya kasihan bocah itu harus memilih tinggal bersama orang lain padahal orang tuanya masih ada dan seharusnya mampu mendidiknya dengan baik. “Aku mau sekolah disini saja, kalo dirumah dipukuli bapak terus “ begitu alasannya.

Duh, paling swedddiccch, kalo harus mendengar kekerasan yang terjadi pada anak, baik kekerasan fisik maupun secara lisan. Apalagi kalo di tivi ada berita, anak diperkosa, anak pukuli sampai babak belur uggghh, ga kepengen melanjutkan nonton, air mata pasti netes-netes karena ga tahan. Seperti apa ya mentalnya di masa depan? Apa pelaku kekerasan tidak berfikir dia masih punya masa depan yang harus diselamatkan? Kenapa juga sih harus dengan kekerasan? Apa dengan kelembutan susah banget yah? Pertanyaan-pertanyaan itu sering berputar di kepala saya.

Saya bukan orang yang ahli banget mendidik anak, lha jadi orang tua aja baru setahun. Tapi saya cuma tahu, anak adalah mahluk mungil yang sangat butuh perlindungan orang dewasa dan orangtuanya akan dimintai pertanggungjawaban terhadapa amanah Allah ini. Memang sih, kadang orang tua diuji kesabarannya menghadapi tingkah laku anaknya. Tapi pliiisssss….. tidak harus dengan kekerasan kan?

Doakan dirikuw ya, supaya diberi kemampuan oleh Allah untuk mendidik Kanaya dengan penuh kelembutan, seperti yang dilakukan Rasulullah pada anak-anak.

Jika anak dibesarkan dengan celaan,
ia belajar memaki.

 Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
ia belajar berkelahi.

 Jika anak dibesarkan dengan ketakutan,
ia belajar gelisah.

 

 Jika anak dibesarkan dengan rasa iba,
ia belajar menyesali diri.

 Jika anak dibesarkan dengan olok-olok,
ia belajar rendah diri.

 Jika anak dibesarkan dengan
dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.

 Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
ia belajar percaya diri.

 Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
ia belajar menahan diri.

 Jika anak dibesarkan dengan pujian,
ia belajar menghargai.

 Jika anak dibesarkan dengan penerimaan,
ia belajar mengasihi.

 Jika anak dibesarkan dengan dukungan,
ia belajar menyenangi.

 Jika anak dibesarkan dengan pengakuan,
ia belajar mengenali tujuan.

 Jika anak dibesarkan dengan rasa
berbagi
, ia belajar kedermawanan.

 Jika anak dibesarkan dengan kejujuran
dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan.

 Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,
ia belajar menaruh kepercayaan.

 Jika anak dibesarkan dengan persahabatan,
ia belajar menemukan kasih dalam kehidupan.

 Jika anak dibesarkan dengan ketentraman,
ia belajar damai dengan pikiran.

-Dorothy Law Nolte-

gambar diambil dari sini

Iklan

8 responses to “Kenapa harus dengan kekerasan

  1. Siti Hamidah berkata:

    iya mbak..aku juga sedih banget kl denger ada anak yang mengalami kekerasan. Kebayang bagaimana tidak berdayanya mereka menghadapi kekerasan itu apalagi jika pelakunya adalah ortu or orang2 dekat mereka sendiri…sediiiihhhhh… 😦

  2. miris yah. secara saya pernah dulu nemuin keluarga kayak gini. tetangga kosan..

  3. kok gak ada yg lapor ke polisi atau komnas anak? Minimal ya ke RT lah, utk dinasihati ortu nya

  4. hanifa syahida berkata:

    iyah sedihnya lagi ga mampu berbuat apa-apa….

  5. hanifa syahida berkata:

    saya sering juga nemuin keluarga kek gini, berarti ga sedikit ya

  6. hanifa syahida berkata:

    udah dinasehatin bu… tapi ga mempan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: