Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Cinta yang tak pernah usai

pada 22 Desember 2011

Setiap orang pasti punya kenangan tersendiri tentang ibunya dan kenangan itu selalu menjadi yang terindah dalam hidupnya. Begitupun saya, selalu ada air mata apabila mengingat wajahnya, mengingat cintanya, mengingat segalanya yang telah dicurahkan untuk hidup saya.

Saya memanggilnya Mama, sosok yang begitu saya kagumi karena ketegarannya dalam mengarungi kehidupan ini. Begitu banyak masalah datang bertubi-tubi dari suami dan anak-anaknya, tetapi beliau tetap sabar menghadapinya. Saya dan adik-adik selalu merasakan cinta yang berlebih setiap hari. Tapi kami membalasnya dengan segudang masalah yang membuatnya sedih. Saya sangat menyesal, sering menyakiti hatinya saat itu. Ah selalu ada senyum di setiap tangisnya, untuk kami anak-anaknya.

Ketika papa meninggal, saya masih kuliah dan adik-adik baru lulus sekolah. Mama mencari uang dengan berjualan nasi uduk di depan rumah. Jam 2 pagi mama sudah bangun, menyiapkan segalanya. Semua dilakukan sendiri karena tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Ketika saya dan adik-adik sudah bekerja dan bisa menghidupi diri sendiri, mama tetap bersikeras berjualan, meskipun saya melarangnya. “simpan saja uangnya, mama masih punya uang “ begitu selalu kata mama setiap saya memberinya uang.

Mama berhenti berjualan saat saya dinyatakan hamil oleh dokter. Alasannya ingin merawat saya yang kehamilannya dinanti selama 4 tahun. Yaaaa…. mama benar-benar mendampingi kehamilan saya sampai saya melahirkan, beliaulah yang paling menyemangati saat saya lemah karena muntah terus menerus, membelikan semua perlengkapan bayi, mengantar ke dokter kandungan apabila suami saya berhalangan, dan membuatkan makanan yang bergizi tinggi.

Saat puteri kecil saya lahir, mama juga yang membantu mengurusnya, dan yang paling terberat bagi saya adalah saat mama bersikeras ingin mengasuh anak saya, Kanaya , saat saya harus kembali bekerja. Mama tidak ingin Kanaya di asuh oleh orang lain termasuk pembantu. “mama tahu, kamu masih banyak cicilan, kebutuhanmu masih sangat banyak, bekerjalah, jangan khawatir kanaya akan baik-baik saja sama mama … “itu yang selalu dikatakannya, kalo saya bilang ingin resign dari kantor.

Sungguh, saya tidak tega membiarkan mama, mengurus Kanaya yang super aktif, menyuapinya, memandikannya, aaah .. saya sering merasa bersalah. Tapi saya juga tidak ingin menyakiti hatinya dengan membantah kata-katanya.

Suatu hari, saya membaca dalam postingan seseorang pada sebuah blog yang menceritakan bahwa dia tidak ingin merepotkan orang tuanya dengan menitipkan anaknya saat dia bekerja. Perasaan bersalah dan bimbang kembali menerpa. Saya sms ke mama saat itu, “ ma, aku berdosa ya, menitipkan anakku sama mama? “ mama menjawab, “ya enggak lah… kan ini maunya mama….” uggh, jawaban mama belum sepenuhnya melegakan, aku tetap merasa bersalah.

Mama, selalu punya stok cinta yang banyak buat anak-anaknya bahkan sekarang cintanya meluas hingga ke cucu, dan menantunya. Cinta yang tak pernah usai, terus bersemi sepanjang masa. Rasanya tak akan terbalas dengan apapun. Melihat kami anak-anaknya, menantunya, cucunya bahagia adalah kebahagiaan untuknya dan cinta mama adalah cahaya bagi kami semua. Love you ma……

Iklan

3 responses to “Cinta yang tak pernah usai

  1. Siti Hamidah berkata:

    kasih sayang ibu g akan pernah ada habisnya, mengalir dan mengalir terus untuk anak2 bahkan ke cucu cicitnya

  2. hanifa syahida berkata:

    iya mbak, mengalir tanpa pernah putus yaa…

  3. kasih sayang ibu g akan pernah ada habisnya, mengalir dan mengalir terus untuk anak2 bahkan ke cucu cicitnya ====> sepakat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: