Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Senyumnya beda yaaa…

pada 29 Desember 2011

Rumah sakit, dokter, perawat, obat adalah dunia yang tidak terlalu asing buat saya. Sejak kecil saya sudah sering berhubungan dengan dokter karena pernah gegar otak ringan, saat remaja juga sudah beberapa kali dirawat inap karena terserang thypus. Pernah juga bolak-balik ke dokter karena demam, pusing, sakit maag, dan penyakit lain yang mampir ke tubuh saya. Dan dari sekian interaksi itu saya menilai peyanan kesehatan di negara kita ternyata memang belum memuaskan.

Beberapa kali saya menghadapi kondisi harus mengantri panjang untuk bisa berkonsultasi dengan seorang dokter dan ternyata dokternya sedang asyik ngobrol sambil tertawa-tawa dengan dokter lain di ruangannya, padahal antrian diluar sudah mengular.

Belum lagi diagnosa seorang dokter yang tidak tepat yang pernah membuat saya hampir shock. Suatu hari perut saya kembung karena sudah hampir satu minggu tidak BAB. Saya bergegas ke dokter terdekat yang praktek di dekat rumah. Sampai di ruangan dokter, dia hanya menanyakan apa keluhan saya, kemudian tanpa memeriksa kondisi tubuh saya, dia langsung menulis surat rujukan ke rumah sakit yang dia tunjuk.

Ibu harus ke rumah sakit ini ya, nanti perut ibu akan diperiksa lebih lanjut dan kemungkinan usus ibu akan dipotong.

Saya langsung lemas mendengarnya, apa iya dia bisa langsung memberikan diagnosis seperti itu tanpa memeriksa saya atau melewati proses rontgen atau proses apa saja yang bisa mendeteksi keadaan perut saya?. Akhirnya saya menuruti sarannya untuk berobat ke Rumah Sakit yang ditunjuk, dan langsung konsultasi dengan dokter yang ada disana. Dokter di Rumah Sakit tertawa mendengar cerita saya, dia hanya meresepkan obat pencahar perut dan menyarankan saya makan makanan berserat. Besoknya saya bisa BAB lancar tanpa harus dipotong ususnya. Bagaimana jadinya ya setiap saya tidak bisa BAB solusinya harus potong usus?

Pelayanan kesehatan yang juga membuat saya mengelus dada adalah masalah pelayanan rumah sakit. Teman saya seorang yang tidak mampu, harus segera dirawat di rumah sakit umum daerah karena kondisi penyakitnya makin parah. Kami teman-temannya berusaha membantunya agar mendapat kamar perawatan di rumah sakit. Berhubung kamar kelas 1, 2 dan 3 sudah penuh terisi, maka temanku dimasukan sementara ke ruangan VIP, yang terpenting dia segera mendapat pertolongan. Besoknya di kamar kelas 3 ada yang kosong dan temanku ini segera dipindahkan ke sana. Ketika menjenguk, kami bertanya bagaimana keadaannya? Apakah ada pelayanan dari rumah sakit yang tidak memuaskan? Dia hanya berujar, ternyata senyum perawat disini beda ya dengan senyum perawat di kelas VIP. Yah begitulah, siapa bayar mahal pasti dapat senyum yang lebih lebar.

Saya tidak bermaksud menyudutkan pihak tertentu dalam tulisan ini, toh dokter juga manusia yang punya kekhilafan atau Rumah Sakit pun memiliki manajemen yg dikelola oleh sekumpulan manusia yang bukan tidak mungkin berbuat kesalahan. Saya hanya merasa sudah saatnya pelayanan
kesehatan di Indonesia lebih maju lagi. Seharusnya yang dikedepankan dalam pelayanan kesehatan adalah bagaimana memberikan pelayanan sebaik-baiknya untuk masyarakat tidak hanya semata-mata mengejar profit.


Bagi kalangan masyarakat yang mampu mungkin tidak sulit memilih pelayanan yang lebih baik, mereka bisa berobat ke luar negeri yang menawarkan banyak kenyamanan dan kualitas dokter yang lebih baik.. Tetapi buat masyarakat kebanyakan apa hanya bisa pasrah menikmati kondisi pelayanan kesehatan yang buruk ini.

Semoga masih ada harapan.

Iklan

6 responses to “Senyumnya beda yaaa…

  1. insya Allah masih ada harapan #optimis#

  2. yaya syahrir berkata:

    insyaallah pelayanan kesehatan semakin dibenahi. semoga.

  3. semoga…. semoga kita selalu dilimpahkan ni'mat kesehatan. aamiin.

  4. hanifa syahida berkata:

    slalu optimis ya dok…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: