Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Memelihara Cinta

pada 23 Februari 2012


gambar dr sini

Pagi ini saya membuka email dan mendapati sebuah artikel yang mengharukan dari sebuah milis. Kisah tentang pasangan-pasangan suami istri yang memelihara cinta mereka dalam kondisi apapun. Cinta yang terus bertahan hingga usia sudah tidak muda lagi. Cinta yang indah. Saya sampai menangis saat membacanya. Di tengah banyaknya angka perceraian, perselingkuhan, KDRT dan lain lain, ternyata masih banyak pasangan-pasangan yang selalu berusaha menjaga cinta mereka.

Kemudian saya teringat dengan suami, terutama dengan cinta kami yang alhamdulillah terus menjadi indah di usia pernikahan yang ke 6 tahun. Pertengkaran selalu ada karena kami bukanlah pasangan sempurna, tetapi justru dengan pertengkaran itu membuat kami semakin menjadi dewasa.

Suami saya adalah lelaki luar biasa yang Allah pilihkan untuk saya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia lah yang membuat hari-hari saya penuh warna, terkadang saya dibuat tertawa oleh tingkah lucunya, dibuat menangis karena sikapnya yang tidak saya fahami atau membuat saya merenung saat mendengarkan cerita-ceritanya.

Teringat suatu siang, dia membawa satu plastik bunga segar untuk memberi kejutan pada saya. Tingkahnya persis gaya sang romeo merayu juliet seperti di film film. Saya tanya bunga dari mana??

dia jawab sisa hiasan pelaminan pernikahan teman, sayang dari pada di buang. Jyyaaaahhh…. atau saat tiba-tiba dia menggenggam erat tangan saya saat kita duduk berdua sambil berucap terima kasih ya sudah mau menjadi istriku…… so sweeetttt…..

Saat membaca artikel yang saya ceritakan di awal tulisan tadi, saya langsung mem forward ke email suami dengan tambahan kata kata

air mata meleleh mas bacanya….
semoga cinta ini selalu indah ya mas sampai akhir masa kita

Tidak beberapa lama ada email masuk balasan darinya

aamiin cintaku … semoga kita pun seperti itu dan menularkannya ke semua orang

tambah meleleeeeh. Ugggh … benar-benar pagi yang melow

Allah, berilah kami kesempatan untuk bisa bersama sama menjadi lebih baik dengan pernikahan ini. Jagalah cinta kami, karena cinta yang indah ini akan terus tumbuh dengan izin MU, jadikan pernikahan ini membuat kami semakin lebih dekat dan lebih cinta dengan MU..

ini dia artikel dari milis yang membuat saya meleleh pagi ini.


Cinta Indah Begini

 
Di sebuah kereta listrik jurusan bogor, sepasang suami
isteri berusia senja duduk berdampingan sambil menikmati perjalanan. Sekilas
tidak ada yang istimewa dengan kakek-nenek ini, seperti layaknya pasangan suami
isteri yang lain yang biasa kita lihat di banyak tempat. Duduk berdampingan,
jalan beriringan, berbincang tentang apa yang dilihat dan dirasa, semuanya
terlihat biasa. Namun, sesaat kemudian beberapa penumpang di gerbong itu,
terutama mereka yang berada persis di depan atau samping pasangan tua itu
terharu dengan apa yang mereka lihat. Ternyata, sepanjang perjalanan keduanya
saling berpegangan mesra, layaknya sepasang pengantin baru. Lengan si nenek
melingkar mesra mengait lengan kekasihnya, sementara tangan si kakek erat
memegang jemari dan punggung tangan belahan hatinya. Aih…
 
Di sekitar Sawangan Depok, seorang perempuan muda duduk
di jok belakang sepeda yang dikayuh suaminya. Lengannya erat melingkar di
pinggang sang pengayuh, saat jalan menurun pegangannya semakin erat dengan
kepala bersandar di punggung suaminya. Takut? Bukan. Itu lebih terlihat sebagai
sebuah keyakinan seorang perempuan kepada lelaki tempatnya berpegang, yang akan
senantiasa membawanya pada keselamatan. Ketika jalan mendaki ia turun dari
sepeda dan membiarkan suaminya mendaki sampai ke jalan datar, sebuah sikap
bijaksana seorang isteri untuk saling meringankan beban. Indahnya…
 
Di sebuah rumah sakit di Jogjakarta, setelah peristiwa
letusan Merapi tahun 2010, seorang perempuan menemani suaminya yang terkena
luka bakar di sekujur tubuh. Tak ada yang bisa dilakukan sang suami dengan
kondisi luka yang teramat parah itu, maka isterinya lah yang menjadi tangan dan
kakinya. Ia menyuapi suaminya, membasuh peluhnya, membersihkan lukanya, dan
mendengarkan rintihannya. Seorang dokter mengatakan kepadanya bahwa suaminya
akan sembuh dalam waktu lama dan tubuhnya akan penuh bekas luka bakar. Perempuan
itu nampak tegar dan wajahnya menyiratkan satu kata, “saya akan terus
menantinya”.
Meski tubuh suaminya penuh luka bakar, namun ia yakin satu hal cintanya tak
ikut hangus terbakar.
 
Masih sebuah kisah di rumah sakit, seorang suami meminta
izin cuti selama beberapa hari dari kantornya hanya untuk menemani isterinya
yang sedang koma. Isterinya mengalami pendarahan hebat usai melahirkan buah hatinya.
Kebahagiaan bercampur kesedihan di hatinya, hadirnya si kecil diiringi dengan
belum sadarnya sang isteri. Setelah sepekan belum menunjukkan kesembuhan, ia
meminta cuti tambahan dari kantornya. Sebenarnya ia masih bisa bekerja, karena
masih ada orang tuanya yang bisa bergantian menunggui isterinya, namun lelaki
itu cepat-cepat berkata, “Saya ingin saat ia membuka matanya kembali senyum ini
yang ia lihat pertama kali”.
 
Di depan sebuah rumah kontrakan kecil, seorang suami
hendak berangkat mencari nafkah. Ada adegan yang tak pernah ia lewatkan dan
selalu terulang sejak pertama kali mereka menikah dua belas tahun lalu, dengan
mesra isterinya mencium punggung tangan sang suami dan suami pun membalas
mencium kening kekasihnya serta sedikit kecupan di bibir. Kepahitan hidup akan
bisa diimbangi dengan manisnya cinta. Tak hanya saat berangkat, kembali ke
rumah pun kecupan hangat yang sama dengan pagi hari tetap ia dapatkan dari
isterinya. Tak berkurang mesranya hanya karena sang suami belum membawa
harapannya,dan  belum membelikan yang
diinginkannya.
 
Berapa banyak cinta yang bertahan sampai usia senja,
berapa banyak cinta yang semakin tebal ketika keadaan ekonomi mendesak, berapa
besar cinta yang terjaga ketika pasangan tak berdaya, berapa banyak cinta yang
tetap bersemi dengan keyakinan yang tak luruh sedikitpun, berapa banyak cinta
yang tetap manis saat kepahitan hidup terus mendera, berapa banyak cinta yang
tetap tulus ketika jalan yang dilalui tak selamanya mulus? Yang punya cinta
yang bisa menjawabnya, kita pun bisa miliki cinta yang indah begini.
(Gaw/LifeSharer)
 
Bayu Gawtama

LifeSharer
SOL – School of Life

085219068581 – 087878771961

twitter:
@bayugawtama

@schoolof_life

Iklan

4 responses to “Memelihara Cinta

  1. tulisan pak bayu
    idola saya… makanya jadi niru2 gaya tulisan beliau 🙂

  2. hanifa syahida berkata:

    idola saya juga pak… buku2nya berderet di rumah… hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: