Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Rumah Berantakan? It’s Ok

pada 28 Maret 2014

Rumah yang rapi dan bersih pasti membuat nyaman penghuninya. Sebelum punya anak, rumah saya termasuk kategori rapi dan bersih. Sampai ada teman yang bilang rumah saya itu bikin betah, meskipun mungil dan rada sempit. Maklumlah rumah type sangat strategis. ( ke kamar mandi deket, ke ruang tidur deket :))). Pernah ada teman yang khusus bawa kamera untuk foto-foto di dalam rumah saya, katanya mau nyontek penataan perabotannya. Jyyyaaah….

Tapi itu cerita dulu yaaah, sebelum ada anak. Kalau sekarang lain lagi ceritanya. Rumah saya bisa rapi dan bersih cuma kalau Kanaya tidur saja. Itu pun dengan catatan saya lagi mood beberes, ga ngantuk, ga cape, dan tidak berpikiran… aaah besok juga berantakan lagi. :))). Pemandangan sehari hari di dalam rumah mungil dengan satu anak usia 3 tahun yang aktif dan senang berimajinasi, tanpa seorang asisten adalah mirip dengan kapal pecah. Ada panci dan talenan di rak buku, boneka di dalam kulkas, kertas warna warni yang bertebaran, jejak kaki, dan sapu ijuk yang bertengger dengan gagahnya di atas kursi.

Dinding yang bersih di rumah dengan anak balita adalah sesuatu yang langka. Saya sudah menyediakan media papan tulis dan banyak kertas kosong untuk menuangkan kreasinya, etapi ternyata tembok lebih menarik untuknya. Awalnya saya melarang, tapi belakangan ini saya biarkan saja. Orang tua yang baik tidak boleh membatasi kreatifitas anaknya kan yaaa *kekepin buku parenting. Tidak terlalu buruk juga sih, malah kelihatannya dinding rumah jadi lebih berseni . *menghibur diri daripada nangis guling guling.

Tersangka berikutnya yang membuat rumah berantakan adalah Pak Suami. Kertas-kertas kerja, kabel aneka rupa, dan barang-barang sisa jadi tukang amatiranย  berhamburan juga di lantai. Jaket, helm, dan tas juga sering nangkring di tempat yang tidak semestinya. Rumah semakin semrawut, dan kepala saya jadi tambah cekot cekot. *urut-urut kening.

Sabtu lalu, saya sendirian di rumah. Anak belum pulang dari play group dan suami pergi karena suatu urusan. Selesai beberes rumah termasuk nyapu, dan ngepel, pencitraan saya duduk santai menikmati rumah yang bersih, rapi dan wangi. Huuaaaah nyaman banget deh rumah saya ini. Tidak ada mainan berserakan dan barang-barang pak Suami bergeletakan yang mengganggu pemandangan mata.

Etapi kok ada yang aneh yaaa, meskipun senang karena rumah kelihatan kinclong, saya merasa sepi. Seperti ada yang hampa dan membuat saya merasa aneh. Ya, rumah ini terlihat rapi dan bersih tapi tidak ada suami yang bercerita lucu atau teriakan Kanaya minta dibuatkan susu. Sepi, hampa, tidak ada yang membuat saya tersenyum. Duh kesadaran ini datang justru di saat sedang sendiri seperti ini.

Kalau ada pilihan rumah bersih tapi tidak ada suami dan anak atau rumah berantakan tapi ada suami dan anak, tentu saya memilih rumah bersih tapi ada suami dan anak opsi yang kedua. Kehadiran mereka jauuuh lebih penting dibandingkan dengan rumah yang rapi dan bersih. Tidak butuh waktu yang lama kan ya membersihkan rumah, apalagi rumah saya yang cuma seuprit ini. Apalah artinya beberes rumah asalkan bisa melihat senyum orang-orang yang saya sayangi.

Emak-emak bawel ini sedang berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak banyak berkicau saat melihat rumah berantakan. Penampakan rumah yang semrawut memberi tanda bahwa ada suami dan anak tercinta yang siap mewarnai hari-hari saya, dan itu tidak ternilai dengan apapun.

DSC_0135

Iklan

21 responses to “Rumah Berantakan? It’s Ok

  1. Bibi Titi Teliti berkata:

    Buuuun…
    makanya aku mah gak pernah berambisi untuk membuat rumah rapiii…
    Percumaaaa…hanya angan angan belakaaaa…hihihi…
    *semacam cemen*
    Abah pun suka turut berpartisipasi ngeberantakin Bun, makanya dia gak pernah berani komentar kalo rumahnya suka kayak kapal pecah…hihihi…

  2. Hasani berkata:

    Terima kasih bunda tulisannya

  3. Baginda Ratu berkata:

    Huwaaahhh, jangan ngomongin rumah kami deh mbak Rin, udah macem b8ahtera nuh pecah! Hahahaha..
    Itu yg paling bikin mata sepet ya grafiti A3 di semuaaaaa dinding rumah. Zzzzz..

  4. Lidya berkata:

    aku stress kalau berantakan, jadinya nyuruh anak-anak ikut berresin & menyimpan maianan sebelum ganti mainaan lainnya ๐Ÿ™‚

  5. naniknara berkata:

    hihihi sama dong
    dulu masih lajang rasanya aneh lihat kamar kost berantakan.
    kini rasanya aneh klo klo liat rumah nggak berantakan ๐Ÿ™‚

  6. della berkata:

    Iya bener, dinding putih bersih jadi hal yang mewah banget kalo punya balita/batita, wkwkwk.. untungnya gue dari dulu bukan orang yang resik, Rin ๐Ÿ˜€
    Si mbak di rumah aja ud gue wanti-wanti, “Kamu beresin maenannya nanti aja kalo Nadya udah tidur.” Soalnya gue takut dia stres tiap hari bisa empat-lima kali beberes, ntar minta pulang kan gawat :p

  7. Lyliana Thia berkata:

    hahahaa… mbak Rinaaaa,….
    betul banget… di rumah kalau yg bawel ngeliat tembok penuh coretan adalah si Oma.. hahaha… beberapa kali.. panggil tukang utk bersihin tembok, tapi begitu liat tembok bersih kinclong Vania malah semakin semangat… =D

    lama2 Oma pasrah… dan emang biarin aja deh.. mungkin tembok bisa di cat ulang kalao anak udah kelas 3-4 SD kali yah mbak? kata buku parenting opo? hihihi.. *jarang baca* ๐Ÿ˜›

    • rinasetyawati berkata:

      hihihi… iyak akupun rencana ngecat ulang kalau Kanaya udah SD…etapi masih lama beneeeerrr… klo kata buku parenting biarkan anak berekspresi jangan dilarang-larang… hmmmmm

  8. myra anastasia berkata:

    kayaknya kalau punya anak masih susah deh punya rumah rapi ๐Ÿ˜€

  9. Rumah berantakan pertanda ada aktivitas di dalamnya.
    Rumah berantakan pertanda ada proses kreatif bagi para penghuninya.
    Apalagi ada anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang.

  10. […] kalau bisa bikin rumah sendiri serapih dan seindah itu. Apalagi saya kayaknya setipe sama ceritanya Bunda Kanaya, sebelum married […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: