Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Self Exploration Training

pada 28 Oktober 2014

Tanggal 18 Oktober 2014 yang lalu saya dan suami berkesempatan ikut training SET (Self Exploration Training) for Parenting yang diadakan oleh komunitas Tangan Di Atas (TDA) Bekasi dengan pembicara Ibu Nunki Suwardi.

Sewaktu pertama kali membaca di milis TDA tentang acara ini saya langsung mendaftar, karena memang acara workshop oleh Bu Nunki sudah lama sekali saya nantikan. Mumpung acaranya di Bekasi dengan biaya yang masih terjangkau oleh kantong saya.

Bu Nunki ini adalah seorang Pendiri Pusat Studi Komunikasi Bawah Sadar di Indonesia. Beberapa stasiun TV pernah beberapa kali mengundangnya dan banyak tulisannya dimuat di koran. Bagi yang ingin mengetahui lebih jauh tentang Bu Nunki bisa cari di mbah google yaaa…

1238385_10203152220947214_6815763380025058740_n

Saya dan suami datang tepat pukul 9 pagi dan beberapa menit kemudian acara langsung dimulai. Bu Nunki yang ramah dan ceria ini langsung membuat peserta terbengong-bengong. Saat perkenalan peserta, beliau bisa menebak karakter dan masalah yang sedang kita hadapi dari gerak tangan. Ternyata gerak itu muncul tanpa disadari dari alam bawah sadar kita dan semua itu bisa dipelajari.

Pada Training parenting ini, Bu Nunki tidak akan menjelaskan tentang pola asuh atau cara mendidik anak dengan benar tetapi lebih mengeksplorasi diri kita sebagai orang tua untuk mencari penyebab dari kegagalan kita mengasuh anak. Pantas beberapa kali ikut seminar parenting dan membaca buku parenting, kok saya merasa tidak banyak perubahan dalam mendidik Kanaya. Masih sering marah, enggak sabar dan banyak kesalahan dalam menghadapi Kanaya meskipun di akhir drama biasanya menyesal karena sadar yang saya lakukan itu keliru.

DSC_1995

Bu Nunki

Menurut bu Nunki, kejadian-kejadian yang dialami seseorang ketika masih anak-anak (usia 0 sampai dengan 10 tahun) akan menentukan sikap atau perilaku orang tersebut terhadap pasangan dan anak-anaknya. Pengalaman masa anak-anak itu dengan tanpa sadar akan membekas dan kemudian menularkan lagi ke anak-anaknya. Termasuk pengalaman negatif yang mengendap di alam bawah sadar. Bisa jadi kita orang tua mudah sekali marah dengan anak karena dulu pun ketika masih anak-anak kita sering dimarahi oleh orang tua.

Saat materi ini dijelaskan oleh ibu Nunki, mata saya dan sebagian peserta sudah mulai berkaca-kaca. Yaaa… tanpa sadar ada pengaruh masa lalu yang sedang kita tularkan pada anak kita padahal kita tahu itu tidak baik. Harus ada komitmen dari orang tua untuk memutus rantai keburukan ini dengan mencari sumber masalah dan berusaha menyelesaikannya.

Ada beberapa fase rekam bawah sadar pada anak- anak :

1. Fase kandungan : rekaman sudah mulai berjalan melalui perasaan ibu. Ibu yang masa kehamilan banyak mengalami stress biasanya menghasilkan anak yang mudah stres juga.

2. Usia 0 – 2 tahun : filter bawah sadar belum terbentuk, jadi segala kejadian yang dilihat dan dirasakan akan masuk tanpa ada penghalang.

3. Usia 2 – 3 tahun : mulai terbentuk filter, biasanya anak sudah mulai melawan hal-hal yang orangtuanya minta

4. Usia 4 – 8 tahun : mulai kritis terhadap lingkungannya

5. Usia 10 tahun ke atas : filter sudah mulai permanen, fondasi kepribadian mulai terbentuk.

Dari fase ini dapat dilihat, usia 0- 2 tahun adalah masa emas bagi anak, dimana kita dapat memberikan masukan yang positif supaya yang terekam dalam otaknya adalah hal-hal yang positif juga. Sebaliknya hindari kata-kata atau tindakan negatif karena filter bawah sadarnya juga akan merekam hal-hal negatif dalam otaknya.

DSC_1997

seriuuus nonton video

Dalam training ini, Bu Nunki juga menyampaikan secara psikologi perbedaan laki – laki dan perempuan dalam menyelesaikan masalah. Kami diberi stimulus melalui game game yang seru. Ada game dimana suami harus memakai sepatu istri, dan istri harus memakai sepatu suami. Setelah itu kita diminta untuk lomba lari sambil bergandengan. Terbayang kan bagaimana hebohnya, setiap pasangan memakai sepatu yang berbeda, ada suami yang harus memakai sepatu istrinya yang ber hak tinggi. Ternyata ya, kita memang sekali sekali harus merasakan juga apa yang dirasakan pasangan kita supaya bisa lebih saling memahami.

Laki-laki dalam sebuah keluarga adalah seorang pemburu, yang pandangannya fokus ke depan. Dia akan konsentrasi mencari buruannya. Maka tidak heran kalau para suami sering terlalu fokus dan kurang peka dengan istrinya. Ketika ada permasalahan, maka laki-laki akan berupaya mencari solusi dan tidak banyak bicara.

Sedangkan perempuan dalam keluarga diibaratkan sebagai penjaga sarang yang pandangannya bisa 180 derajat. Dia bisa mengerjakan apa saja dalam satu waktu. Pantas ya, seorang ibu bisa multitasking, bisa masak, sambil ngajarin anak buat PR, sambil nyuci piring dll. Ketika permasalahan muncul, perempuan tidak selalu harus mendapat solusi. Didengar, diperhatikan curhatannya saja sudah membuat dirinya lega. Tapi terkadang perbedaan psikologis ini sering menyulut pertengkaran suami istri, si suami merasa kalau istrinya curhat langsung diberikan solusi, sedangkan si istri hanya ingin didengar dan diperhatikan saja. Alhamdulillah saat itu saya dan suami bisa hadir, hingga dapat menyerap ilmu ini secara utuh. Semoga bisa diaplikasikan dalam keluarga kita ya honey…….. *lirik pak suami…uhuk.

Semua materi dalam training ini sangat berkesan bagi saya tapi ada satu hal yang paling berkesan yaitu di sesi terakhir ketika peserta diminta untuk melakukan Memory Time Travel ke masa lalu saat berusia 0 – 10 tahun. Kami digiring untuk bisa menemukan kembali suatu kejadian yang pernah dialami di masa kecil atau memunculkan lagi perilaku orangtua yang mungkin bisa menjadi penyebab tingkah laku dan pola asuh pada anak kita saat ini. Sekitar 5 menit kami diminta untuk memejamkan mata dan rileks diiringi musik yang tenang.

DSC_2001

yang foto peserta ibu-ibu, bapak-bapaknya kabuuur

Di moment ini, saya sudah tidak bisa menahan air mata lagi. Ingatan masa lalu saat masih anak-anak seolah olah hadir lagi dihadapan. Saya merasakan perasaan sedih, kecewa, ketakutan dan merasa tertekan. Ternyata banyak hal negatif yang tanpa disadari membekas dalam otak, meskipun saya tidak memungkiri banyak juga hal positif yang saya dapat dari orang tua saya. Moment seperti ini bisa dijadikan juga sebagai muhasabah perjalanan waktu yang sudah terlewati.

Suasana hening, masing masing konsentrasi dengan alam pikirannya. Panitia acara, sampai berkeliling memberikan tissu karena sebagian peserta sudah mulai terisak isak.

Setelah itu kami diminta untuk menggambar tanpa tulisan secara spontan di kolom kertas yang sudah disediakan mengenai diri kami sejak lahir hingga usia 10 tahun. Kemudian gambaran mengenai, ayah, ibu, kakek, nenek, bagaimana perilaku mereka dan hubungan perasaan kami dengan mereka. Kami juga diminta untuk memberikan deskripsi singkat dan penilaian berupa lambang positif untuk menggambarkan perasaan senang dan lambang negatif untuk perasaan sedih. Ternyata kolom kolom yang sudah diberi gambar mengenai orang tua kita tadi menunjukkan bagaimana kondisi kami saat ini. Seperti bagaimana saat saya menghadapi masalah, menghadapi pasangan, perilaku pada anak serta psikogenetik Imprint yang diturunkan secara genetik dari orang tua dan kakek nenek.

Setelah kami memahami bagaimana kondisi dan sifat-sifat kami sesungguhnya. Kami diminta untuk menentukan sumber masalah terbesar dari perilaku yang ingin diselesaikan. Peserta kembali memejamkan mata, sambil membayangkan sumber masalah tersebut. Dengan perlahan dan penuh kesungguhan para peserta diharapkan mau berdamai dengan masalahnya dan memaafkan orang-orang yang sudah memberikan memori negatif dalam otak. Rekaman alam bawah sadar negatif inilah yang selama ini ternyata berpengaruh terhadap perilaku sehari hari. Dengan cara menggali akar maasalah dan menemukan solusinya ini diharapkan kami mulai sedikit demi sedikit merubah perilaku negatif dalam diri.

DSC_2003

Foto dengan Bu Nunki meski wajah sembab

Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa izin Allah, dan tidak mungkin semua hal terjadi tanpa hikmah yang bisa dipetik. Apabila kita sudah mengalami hal-hal negatif dan terekam dengan kuat di alam bawah sadar, maka satu hal yang bisa dilakukan adalah, maafkan supaya tidak ada lagi beban yang tersimpan. Supaya kita bisa menjadi orang tua yang baik melalui sikap dan perilaku yang positif.

Training selesai sampai magrib menjelang, saya pulang dengan membawa banyak ilmu yang siap untuk diaplikasikan. Memang tidak mudah merubah perilaku negatif, tapi saya yakin dengan kesungguhan hati proses ini dapat saya lalui. Insya Allah, semoga Allah mudahkan saya untuk bisa menjadi istri yang baik untuk suami saya dan orang tua yang baik untuk Kanaya . Aaamiin

Iklan

23 responses to “Self Exploration Training

  1. ayanapunya berkata:

    iya, saya setuju. pola kita dibesarkan bisa jadi bakal diturunkan ke kita. makanya saya kadang takut apa bakal bisa jadi ibu yang sabar nggak ya? heu

  2. setia1heri berkata:

    mantabz…boleh tuh dicoba dipraktekan

  3. nyonyasepatu berkata:

    amin…semoga bisa jadi ibu dan istri yang baik ya

  4. jampang berkata:

    hiks…
    jadi kekerasan itu bersifat turun-temurun dan nggak akan terputus yah?

  5. belalang cerewet berkata:

    Jujur baru dengar tentang sosok bu Nunki yang saya kira salah tulis dari Nunik 😉
    Saya juga suka banget ikut pelatihan pengasuhan, Mbak. Rasanya banyak yang harus kami pelajari sebagai orangtua untuk menyiapkan anak-anak di masa depan.
    Saya sepakat bahwa masa lalu, baik atau buruk, mempengaruhi pola pengasuhan kita terhadap anak masa kini. Memang betul, harus dimaafkan dan mencoba memperbaiki diri, walaupun berat banget untuk melupakannya.
    Pelatihannya sangat bermanfaat ya, apalagi suasana santai dengan lesehan seperti itu 😀
    Terima kasih.

  6. Una berkata:

    Menarik Mbak… pengen juga belajar beginian. Ibuku juga belajar yang alam bawah sadar alam bawah sadar gitu *gak mudeng* Trus nanya-nanya ke aku, suruh inget kejadian apa yang bikin kecewa di masa lalu, trus pengen matinya kayak gimana, paling pengen gak mati kayak gimana hihihihi…

  7. lovelyristin berkata:

    aku sampe 2 x nulis komen disni ga masuk masuk, hihi.. pengen jadinya mbak aku ikut seminar bu nunki, ga nyangka jg klo ajaran negatif ke anak itu krn ada faktor turun temurun, ingin menjadi lebih baik pastinya, mutusin sifat negatif selama ini

  8. Lidya berkata:

    TDA sering mengaakan acara ya bun

  9. ded berkata:

    Mudah2an bu nunki punya kesempatan lebih banyak agar terjun lebih sering lagi ke masyarakat 🙂

  10. Alhamdulillaah…, training yang sangat bermanfaat itu, Mbak. Saya juga kepengen jadinya. Semoga bisa mengaplikasikan dalam kehidupan. Semoga segala hal yang neghatif tergantikan dengan sikap yang positif sehingga hidup kita senantiasa dalam rahmat-Nya.

  11. della berkata:

    Emang bener ya, kalo mau mendidik anak jadi baik, orang tuanya harus baik dulu 🙂
    TFS, Rin. Alhamdulillah suami juga bisa ikut, ya. Semoga bisa segera diaplikasikan. Kanaya beruntung banget 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: