Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Mamaku Inspirasi Hidupku

pada 1 Desember 2014

       Perempuan sederhana dengan keriput di wajahnya itu kupanggil mama. Selalu ada air mata yang tumpah tak tertahan setiap bercerita tentang dirinya. Memandang wajah tuanya, meresapi perasaannya dan berbicara banyak hal dengannya selalu menumbuhkan rasa haru dalam diriku. Aku selalu merasa mama banyak berkorban untuk kami anak-anaknya tapi kami tidak bisa secara maksimal membahagiakannya. Bahkan seringkali banyak permasalahan yang membuat mama sedih meskipun tidak pernah ditunjukkan di depan anak-anaknya. Mama jarang menangis, masalah apapun akan dihadapi dengan tegar. Beliau adalah perempuan paling tangguh yang aku kenal, tapi meski demikian aku tahu dalam diamnya mama sering menahan perasaannya.

       Mama adalah salah satu tokoh idolaku, dari pengalaman hidupnya aku belajar banyak hal. Satu cerita mama yang sangat membekas bagiku sampai saat ini adalah perjuangan hidup mama ketika hijrah dari Semarang ke Jakarta karena tidak ingin terpisah dari papaku. Mama membawa aku yang berusia 2 tahun dengan adikku yang baru berusia 40 hari ke Jakarta menggunakan bis. Sampai di terminal Pulo Gadung, dengan segala kerepotannya membawa dua anak, mama mengurusku yang buang-buang air. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi mama dan kedua adikku saat itu.

       Kondisi pekerjaan papa yang masih merintis membuat kami harus hidup sangat sederhana. Tinggal di rumah kontrakan yang sempit dengan dinding dari bilik tidak membuat mama berubah pikiran ingin pulang ke kampung. Mama tetap sabar dengan kondisi yang serba terbatas. Apapun yang terjadi asalkan keluarga kami bisa berkumpul dan tidak terpisah pisah itu sudah melegakan hati mama.

      Dua tahun di rumah kontrakan itu aku mempunyai adik lagi. Jadi mama mengurus tiga anak perempuannya sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga. Aku ingat, meskipun kami hidup serba kekurangan tapi mama selalu berusaha supaya aku bisa bersekolah dan aku tahu mama menghemat banyak pengeluaran. Sistem pengaturan uang rumah tangga ini ternyata aku praktekkan saat aku dewasa. Aku terbiasa berhemat karena melihat sendiri bagaimana mama mengatur uang.

       Beberapa tahun kemudian alhamdulillah kami sekeluarga pindah ke rumah dan lingkungan yang lebih baik. Tapi Allah memberi ujian lagi untuk keluargaku. Papaku sakit parah selama hampir dua tahun. Saat itu papa sudah tidak bekerja dan sambil merawat papa yang sakit, mama mencoba untuk mendapatkan penghasilan dari berjualan nasi uduk di depan rumah. Entah kenapa setiap mengenang perjuangan mama saat mendapatkan penghasilan ini hatiku selalu sedih. Selama pernikahannya dengan papa, mama tidak pernah mencari uang, tapi saat dihadapkan dengan keadaan yang sulit mama mampu melakukan apa saja.

           Setelah papa akhirnya meninggal, mama tetap berjualan nasi uduk padahal aku sudah melarangnya karena tidak tega melihatnya kelelahan. Saat itu aku sudah bekerja dengan penghasilan yang tidak terlalu banyak tapi insya Allah cukup memenuhi kebutuhan keluargaku. Mama beralasan, kalau tidak berjualan dan tidak melakukan aktivitas apapun, malah jadi sedih karena tidak ada yang dikerjakan. Akhirnya kubiarkan saja mama menjalani pekerjaan yang menyenangkan untuknya.

      Ketika aku menikah, sesekali mama tinggal denganku tapi masih tetap berjualan. Kemudian ketika aku hamil mama sudah tidak berjualan nasi uduk lagi karena ingin menunggu aku melahirkan cucu yang sangat diharapkannya sekian lama.

        Setelah anakku lahir, ada sebuah dilema yang sering mengganggu pikiranku. Aku dihadapkan pada pilihan yang sulit karena aku harus tetap bekerja dan pengasuhan anakku selama aku bekerja diambil alih oleh mama. Banyak konflik terjadi sejak mama tinggal bersamaku, terutama masalah pola asuh anakku. Aku selalu berhati hati jika ingin menegur mama, tapi tetap saja mama tersinggung. Mungkin ini juga ujian buatku untuk selalu sabar menghadapi orang tua. Belum lagi masalah orang-orang sekeliling yang memojokkan aku karena membiarkan orang tua mengasuh anakku. Mereka bilang tidak pantas pola asuh anak selama aku bekerja diserahkan pada neneknya. Iya aku faham hal itu , tapi mereka tidak tahu kondisi sesungguhnya. Suatu kebahagiaan buat mama bisa lebih dekat dengan cucunya. Mengasuh anakku adalah keinginan mama sejak dulu, mama tidak bermaksud membedakan dengan cucu yang lainnya, mungkin karena anakku adalah cucu pertama dan kehadirannya sangat ditunggu makanya mama merasa lebih senang apabila bisa bersama sama dengan anakku. Sebaliknya mama justru sangat sedih apabila dijauhkan dari anakku.

        Mama dimataku adalah seorang ibu yang luar biasa. Dia lah satu-satunya orang di dunia ini yang paling mengerti aku, bahkan dalam diamku mama tahu apa yang aku rasakan. Aku sulit menyembunyikan sesuatu dari mama, karena biasanya mama akan tahu melalui firasatnya. Entah melalui mimpi atau dari perasaan seorang ibu.

       Darinya aku juga banyak belajar tentang berbagai hal, tentang ketulusan, kesabaran, ketegaran dan pengorbanan. Mama selalu jadi inspirasi bagiku ketika saat ini menjadi seorang istri dan seorang ibu. Hati mama yang seluas samudera selalu siap menampung keluh kesahku dan mampu memaafkan segala kekhilafan anak-anaknya. Aku memang tidak bisa memberikan kebahagiaan yang sempurna untuk mama, tapi dalam doaku tak pernah aku lupa, semoga Allah selalu menjaga mama, memberikan kesehatan untuknya , memberkahi usianya dan menyayangi mama melebihi sayangnya mama terhadapku.

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera

Hati-Ibu-Seluas-Samudera-300x295

Iklan

13 responses to “Mamaku Inspirasi Hidupku

  1. Pakde Cholik berkata:

    Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

  2. Pakde Cholik berkata:

    Sahabat tercinta,
    Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

    Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk

    1. Mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.
    2. Memberikan ijin kepada saya untuk mengumpulkan artikel peserta dan menerbitkannya menjadi buku. Cek email dari saya tentang permintaan ijin ini dan silahkan dibalas.
    3. Bergabung dengan Grup Penulis Naskah Buku Hati Ibu Seluas Samudera di Facebook. (https://www.facebook.com/groups/669571076492059/)

    Terima kasih.

  3. dani berkata:

    Mba Rinaaaaaa. Berkaca-kaca saya bacanya. Hiks. Semoga sehat selalu buat Ibunya ya Mba dan semoga menang 🙂

  4. jampang berkata:

    ibu jadi guru bagi anak-anaknya ya mbak

  5. Faris berkata:

    Sama mbak, Mama itu bagaikan apa ya kalau dalam hidup saya… hmmm, intinya gak ada tandingan nya deh ama perempuan manapun. 🙂

  6. della berkata:

    Mama emang yang paling hebat, ya.
    Itu cuekin aja orang-orang yang ngritik pola asuhmu. Tiap orang punya masalah beda, pasti jalan keluarnya juga beda. Tetep semangat yaaaaaaaaaaa ^^

  7. myra anastasia berkata:

    seringkali kalau terjadi perbedaan pola asuh dengan orang tua memang suka serba salah. Biar gimana kita harus pelan-pelan menyelesaikannya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: