Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Mengasah Empati

pada 28 Januari 2015

Beberapa waktu yang lalu aku mampir ke blognya Mami Ubii yang sedang mengulas tentang “ Jangan Ucapkan Ini pada Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus “ dan aku langsung mbrebes mili. Terharu rasanya membaca kesabaran para orang tua ABK dalam membesarkan anak mereka termasuk dalam menghadapi komentar negatif dari orang-orang sekeliling.

Ini adalah sebuah pelajaran tentang lisan. Terkadang kita tidak menyadari komentar dari lisan begitu mudahnya keluar tapi terasa begitu menyakitkan bagi orang lain. Seperti yang Mami Ubii tulis, menunjukkan perhatian itu baik, tapi bila ditunjukkan dengan cara yang tidak tepat maksud yang baik jadi tidak tampak. Atas nama perhatian, apakah sang pemberi komentar berhak berkomentar apa saja ?. Lha wong akukan ngasih perhatian lho, tanda sayang begitu. Oh ya?

Aku teringat dulu pernah punya tetangga yang anaknya berkebutuhan khusus. Mungkin karena tetangga yang lain tidak mengerti mengapa ada perbedaan fisik dengan anak yang lainnya, jadilah keluarga itu bahan perbincangan dan mulai keluar komentar-komentar negatif. Sedih rasanya kalau sore hari anak itu di bawa keluar rumah, ada sebagian orang yang meledeknya, dijadikan bahan tertawaan, sehingga orang banyak berkerumun seperti ada tontonan menarik. Biasanya kalau si anak sudah tidak nyaman, ibunya membawa masuk ke rumah. Aku bisa merasakan kesedihan ibunya. Beberapa kali dia curhat padaku tentang perlakuan dan komentar para tetangga yang kurang menyenangkan.

Aku juga pernah mengalami komentar dan sikap dari beberapa orang yang membuatku jadi kepengen garuk garuk aspal agak sedih. Tubuh Kanaya memang mungil jika dibandingkan anak-anak seusianya karena ada sedikit masalah pada enzim pencernaannya. Aku sudah mengupayakan segala hal supaya berat badannya bisa normal. Tapi tentu saja tidak semua orang tau bagaimana perjuanganku dan yang mereka lihat hanyalah tubuh Kanaya yang mungil.

Saat bertemu pertama kali biasanya akan ada yang bertanya, kok kecil banget yah Kanaya? Tanpa tanya lagi, langsung kasih statement, ini masakan ibunya enggak enak kali, makanannya kurang variatif mungkin, dikasih vitamin ini itu dong. Kalau sedang enak suasana hatinya, biasanya aku jawab oh iyah makasih sarannya. Tapi kalau pas banget lagi pms, keluar deh taringnya, iyah semua sudah saya lakukan, yang belum tinggal ke dukun ajah..… wkwkwkwk.

Ada lagi komentar yang lain, Hah? Segini umurnya 4 tahun??, kecil amat? Sambil matanya terbelalak. Pernah juga membawa Kanaya ke sebuah pertemuan dengan teman-teman lama. Setelah bersalaman dengan Kanaya dia bertanya, berapa tahun umur Kanaya rin? 4 tahun , jawabku. Dia tidak berkomentar apapun hanya tampak mengernyitkan dahi saja, tapi matanya terasa seperti menelanjangi, dia lihat dari kepala Kanaya sampai ke kaki, lalu diperhatikan lagi dari kaki sampai kepala. Lamaaaa sekali, sampai akhirnya Kanaya yang memang dasarnya agak malu bila bertemu orang baru, merasa jengah dan langsung memelukku. Sebelum dia berkomentar aku sudah mendahuluinya, iya Kanaya mungil, ada masalah dengan enzim pencernaannya, sekarang sedang diterapi. Dia hanya menjawab, ooooohhh… kemudian setelah teman itu berlalu aku peluk dan ciumi Kanaya. Aku ingin mengatakan dengan bahasa tubuhku, meskipun orang bersikap tidak menyenangkan saat melihat tubuh mungilnya, aku tetap menyayanginya.

Kejadian yang aku alami ini mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan komentar-komentar yang Mami Ubii tulis di blognya. Tapi setidaknya aku bisa memahami bagaimana perasaan orangtua ABK apabila ada yang berpandangan negatif tentang anak mereka. Termasuk yang sedang ramai pembicaraan mengenai penyalahgunaan kata autis. Bisa di cari di mbah google mengenai grub band yang dilirik lagunya menggunakan kata autis secara tidak tepat. Hayuuk ah kita mulai mengasah empati lagi .

Ketika membuat tulisan ini, aku tidak bermaksud menyudutkan siapapun, hanya ingin kita bersama sama saling mengingatkan untuk lebih menjaga sikap dan komentar. Apalagi komentar itu disampaikan di depan anak yang bersangkutan, itu akan mempengaruhi jiwanya selain mungkin juga menyakiti hati orang tuanya. Hal ini juga sebagai pengingat untukku, yang mungkin saja pernah tanpa sadar berkomentar yang menyakitkan tentang sesuatu, mohon dimaapkan yaah, #sentil mulut 7 kali.

Iklan

17 responses to “Mengasah Empati

  1. naniknara berkata:

    Saya juga sudah baca tulisan mami ubii itu mbak.
    Salut untuk para ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Saya sering mikir, apakah saya sanggup menjadi seperti mereka?
    Saya aja, yang punya anak normal sering senewen klo anak saya dikomentari macam2, dibanding-bandingkan dengan anak lain.

  2. jampang berkata:

    kadang nggak tahu intinya dan baru ngeliat luarnya aja udah komentar macam-macam yah

    semoga saya nggak demikian

  3. saya better ga komen takut salah dan menyinggung bun…

  4. nyonyasepatu berkata:

    Langsung meluncur buat baca tulisannya

  5. Lyliana Thia berkata:

    yes, empathy…
    tapi mbak… mungkin tergantung orangnya juga kali… hihihi…

    jujur, waktu pertama kali ketemu Kanaya aku nggak ngeh badan kanaya kecil…
    karena memang mnrt aku ya anak2 macem2 kayak manusia macem2… kondisinya maksudku…

    first impression kanaya buat aku itu, kanaya anak yang cerdas…
    soalnya bisa kepikiran hal2 yang orang lain nggak…
    jadi inget komentarnya tentang balon itu waktu di mobil (aku lupa persisnya, tapi dlm hati, ih kok bisa kepikiran yah?) hihihi….

    ah tentang empathy ini mbak, aku waktu kecil dan vania skarang pun sering menerima komentar2 yang …. yaaa begitulah! hmmm…. jadi kepikiran ingin menulis.. ^_^

    • Lyliana Thia berkata:

      aku juga udah baca tulisan mami ubi yg mbak rina link di fb… dan aku smpe gak percaya di belahan dunia mana itu ada orang yang bisa dengan entengnya mengucapkan kalimat2 itu… hadeh…

      • rinasetyawati berkata:

        iyah pasti akan ada saja yang komentarnya negatif. Belajar dari orang-orang yang suka komen negatif ini aku jadi hati hati kalau mau mengomentari sesuatu… karena tau banget sakitnya tuh disini…. *nunjuk kepala *lhooo

  6. elsayellowlife berkata:

    ngerti banget rasanya digituin. secara, Dija dan Kanaya sama sama mungil.

    tentang anak berkebutuhan khusus, aku juga mengerti mbak, soalnya aku punya adik yang menderita down syndrom. jaman dulu, ketika dia masih kecil sekali… tak sedikit yang mencemooh, tak ada empathy…. bahkan ada yang menganggap bahwa adikku begitu karena dijadikan tumbal pesugihan. Bayangkan…. betapa sakit rasanya dikatain seperti itu.

  7. Lidya berkata:

    masalah kita sama bun soal tubuh mungil 🙂

  8. Rivanlee berkata:

    umumnya begitu karena manusia ketika ada stimulus, bawaannya merespons. tapi merespon ya butuh ketelitian juga sih.. semoga selalu sehat 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: