Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Dandan? Ogah ah !

pada 13 Februari 2017

Saya enggak suka dandan dari dulu hingga sekarang. Suami juga tidak pernah mempermasalahkan. Pernah coba pakai lipstik di depan suami malah diketawain, enggak usah dandan macam-macam lah katanya. Padahal cuma pakai lipstik doang dengan warna natural. Alhamdulillah, saya sih senang saja karena memang pada dasarnya tidak suka wajahnya di make up. Kalau keluar rumah juga cuma pakai bedak tipis atau malah pakai pelembab saja, selesai.

Awal masuk rohis di kampus dan ikut kajian yang membahas tentang berdandan keluar rumah, makin bersoraklah saya. Yeaaaaay ……. ternyata ketidaksukaan saya pada poles poles wajah itu dilegalkan oleh Al Quran. Saya selalu punya alasan yang tepat kalau mama tanya, kok kamu enggak pakai lipstik? Kok dandannya cuma begitu doang?. Dulu sebelum tahu bahwa dandan berlebihan di luar rumah itu dilarang oleh Allah, saya selalu bingung bagaimana menjawabnya karena jawaban saya enggak suka dandan selalu dibantah lagi dengan pernyataan, kamu kan perempuan, enggak pantes kalau enggak berdandan. Errrr….

Sewaktu sekolah, hari yang paling menyiksa adalah saat hari Kartini. Siswinya wajib pakai kebaya dan wajah di make up. Saya sampai stres karena dipaksa mama berdandan seperti teman-teman lainnya. Disuruh pakai kebaya saja saya sudah pusing eh ini ketambahan disuruh berdandan pula. Beruntung tetangga sebelah rumah, pernah kerja di salon dan tahu banget saya enggak suka dengan dandanan yang menor. Akhirnya demi memuaskan mama, saya mau didandani asalkan dilakukan oleh tetangga saya itu. Beliau pintar sekali membuat wajah saya tetap natural tidak terlihat tebal riasannya. Sampai sekolah malah saya dianggap aneh oleh teman-teman karena dandanannya beda sendiri. Bodo amat lah….

Masalah muncul lagi saat saya menikah dan mengadakan resepsi pernikahan di rumah. Saya menghadapi banyak orang terutama dari pihak keluarga besar yang protes saat saya menolak didandani. Lagi-lagi tetangga saya ini penyelamatnya. Meskipun kata orang dandanannya sederhana sekali tapi lumayanlah yang penting buat saya tidak mencolok. Itupun rasanya kepingin cepat-cepat acara selesai, supaya bisa cuci muka.

Setelah menikah di Bekasi tempat orangtua saya, resepsi diadakan lagi di Palembang tempat orang tua suami. Disinilah masalah muncul lagi. Ternyata meskipun pesta diadakan di rumah, saya harus berdandan dengan adat Palembang. Semua sudah dipesan satu paket untuk pernikahan termasuk juga periasnya. Waduuuuh…… saya benar-benar terpojok, tapi tetap cerewet menolak ini itu. Si ibu baru memoleskan bedak, saya sudah bilang, jangan tebal-tebal ya bu, saya tidak mau alisnya dicukur, dll.

Suasana mulai memanas saat ibu perias ingin memasangkan bulu mata palsu. Saya menolak, tapi dia tetap ngotot. Akhirnya saya minta dipanggilkan suami dan bilang bahwa suami saya yang melarang saya memakai bulu mata palsu. Suami bengong karena bingung engga tau masalahnya. Dengan kode colek-colek tangannya saya minta dia mengangguk saja untuk menyetujui. Si Ibu mengalah dengan wajah cemberut.

Tidak pakai bulu mata palsu, alis tidak dikerok mungkin merupakan musibah bagi perias karena hasilnya menurut dia tidak maksimal. Tapi bagi saya ini sudah luar biasa, seumur hidup baru kali ini saya didandani semenor ini, sampai saya tidak mengenali diri saya sendiri karena kok jadi cantik begini.*kemudian dikeplak orang satu kampung.

Buat pengantin lain, berdiri di atas panggung seperti raja dan ratu sehari pasti membahagiakan tapi buat saya, yang paling membahagiakan adalah saat acara usai, bisa cuci muka dan saya bisa makan pempek.

Hahahaha, remeh temeh kebahagiaan saya mah.

Iklan

6 responses to “Dandan? Ogah ah !

  1. rayamakyus berkata:

    sama kayak saya sih. Waktu selesai resepsi pernikahan sy maunya cuci muka. Mekapnya ketebalaaan,hahahaha

  2. ndu.t.yke berkata:

    Aku pas nikah jg alis nggak dicukur (periasnya udah kenal lama dgn ku). Beliau rada cemberut tp hasilnya tetep paripurna kok. Ya lumayan lah, hahaha.

  3. rinasetyawati berkata:

    nah engga dicukur alis aja tetep bagus hasilnya yah, aku pun juga merasa hasilnya bagus banget tapi periasnya tetap enggak puas

  4. menurut saya juga wanita yang cantiknya natural, tanpa make up jauh lebih mendekati sempurna …. anggun dan berwibawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: