Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Ke Palembang Lewat Jalan Tol

Bismillahirrohmanirrohim

Terakhir nulis di blog Januari 2020, sekarang nulis lagi pas di akhir tahun 2020. Sungguh  kemalasan yang tak patut ditiru. 😁😁

Pandemi masih belum berakhir yah, makanya saya dan suami selalu berpikir panjang  saat akan memutuskan melakukan perjalanan . Termasuk keraguan saat akan  bertemu mertua di Palembang. Apakah aman bepergian di tengah kondisi seperti ini, tapiiii satu sisi rasanya sangat  ingin menjenguk orang tua karena  lebaran lalu kami tidak bisa  mudik akibat si koronce sedang dalam puncaknya dan tempat tinggal kami juga di lock down.😌😌

Akhir Nopember lalu, kepikir lagi pengen mudik karena beberapa kali ibu mertua telpon selalu bilang kangen dengan cucu cucu dan akhirnya dengan berbagai pertimbangan, terutama dengan niat birrul walidain, saya dan suami memutuskan jadi berangkat ke Palembang. Salah satu alasannya akhir  bulan Nopember bukan musim liburan dimana jalanan tidak akan seramai saat liburan dan kemungkinan terhindar dari kerumunan manusia. Kami juga dengan ketat menerapkan protokol kesehatan, pakai masker, cuci tangan sesering mungkin dan menjaga jarak aman.

Kami  tidak naik pesawat karena  biayanya jadi berkali kali lipat disebabkan ada aturan wajib test swab. Lumayanlah ya, biaya pesawat  4 orang plus biaya test ini itu. Jadi diputuskan naik mobil. Selain  kepengen memberikan pengalaman baru untuk anak-anak  menyeberang pulau dengan naik kapal, kami juga ingin mencoba jalan  tol dari Lampung sampai Palembang.

Kami berangkat dari Bekasi jam 6 pagi dan sampai pelabuhan Merak pukul 8.30. Sesuai prediksi, jalanan sepi dan lancar jaya. Dengan pedenya langsung ke loket beli tiket untuk naik kapal dan ternyata ditolak, karena ternyata sekarang pembelian tiket kapal harus lewat online dengan menggunakan aplikasi  Ferizy. Selesai urusan tiket yang tidak terlalu lama, mobil kami masuk kapal. Buat saya ini sebenarnya pengalaman kedua menyeberang selat sunda. Dulu pertama kali naik kapal saat baru menikah, tapi tidak terlalu terasa karena naik bis dan malam hari pula. Tapi saat ini lebih menyenangkan karena pagi hari dan cuacanya bagus meskipun plus deg deg an sebab bawa dua bocah yang engga bisa anteng duduk diam. Mamak ngeri liat laut.πŸ˜„πŸ˜„

Setelah 2 jam perjalanan di kapal, akhirnya sampai juga di Lampung. Alhamdulillah selamat sehat wal afiat engga ada yang muntah dan pusing-pusing. Tapi saya agak menyesal karena cuma dapat sedikit foto yang bagus padahal cuaca benar benar cerah dan ombaknya pun santuy. Ini semua gegara sibuk megangin bocah, takut pada nyebur. 😩. Kami keluar pelabuhan setelah antri sebentar di kapal karena memang penumpangnya tidak banyak dan langsung masuk tol yang sepiiiiii dan masih jarang kendaraan. Mungkin karena  ini bukan akhir pekan dan bukan saat liburan panjang ditambah lagi pandemi masih belum berakhir, jadi jalanan benar benar lengang.

 Selama di tol Lampung , jalanan masih mulus, disuguhi pemandangan kebun pisang, sawit, nanas dll. Alhamdulillah kami sangat menikmati perjalanan. Tetapi saat memasuki tol wilayah Palembang  mulai banyak jalanan yang rusak dan terlihat diperbaiki oleh petugas. Kecepatan langsung dikurangi apalagi hujan turun deras dan jarak pandang hanya beberapa meter. Beberapa kali kami melewati lubang-lubang yang tergenang air. Kondisi seperti ini mengingatkan kami saat ke Dieng tahun lalu, menggunakan jalur yang tidak biasa, dimana perjalanannya sangat mencekam, hujan lebat, kabut, gelap dan tidak terlihat apa-apa di jalanan, sedangkan kanan kiri jurang menganga. Sungguh perjalanan yang menegangkan karena semua yang ada di mobil (kecuali pak sopir) nangis bareng-bareng πŸ˜„πŸ˜„. Ceritanya ada di sini ya

Pukul satu siang kami istirahat, sholat dan makan di rest area. Meskipun banyak rest area di sepanjang  jalan tol Lampung Palembang ini, tapi masih banyak yang belum berfungsi semuanya. Jadi kami memilih Rest Area yang ramai, ngeri lah ya kalau tempatnya sepi khawatir terjadi hal hal yang tidak diinginkan. Alhamdulillah Rest Areanya bersih dan terawat jadi kami nyaman di sana. Mungkin karena tidak terlalu ramai juga jadi kami merasa aman meskipun tetap menjaga protokol kesehatan.

Kira-kira satu jam kami istirahat dan langsung melanjutkan perjalanan. Huhuhu, kami kembali menemui jalan tol yang rusak, beberapa kali mobil tidak bisa menghindari lubang  dan kami semua di dalam mobil terguncang guncang. Mungkin jalan tol ini rusak salah satu penyebabnya kondisi tanah yang berbeda dengan Lampung ya atau mungkin juga ada penyebab lain. Eeeh kalau ada yang salah dimaafkan yah ke sotoy an saiah ini. *Sungkem sama yang bikin jalan tol πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Keluar Tol Palembang pukul 16.30 berbarengan dengan banyak truk dan kendaraan berat lainnya yang juga memasuki Palembang.  Sampai di pertigaan setelah keluar tol ada petunjuk arah, ke kiri Kertapati dan ke kanan Jakabaring. Suami memilih ke kiri, tapi feeling saya sih kami harusnya belok ke kanan. Meskipun saya baru beberapa kali ke Palembang, tapi nama Jakabaring  tidak asing dan itu sudah dekat dengan rumah mertua di 11 ilir. Tapi atas nama menurut sama pak suami ya sudahlah saya tidak banyak komentar. Ternyata benar, pak suami baru sadar kami salah jalan setelah perjalanan sudah jauh. Bukan salah jalan sih sebenarnya, hanya jalan yang kami lewati terlalu jauh. Akhirnya baru sampai rumah mertua 18.00 Alhamdulilah biar bagaimanapun, perjalanan ini cukup menyenangkan, dan yang terpenting kami semua sehat, selamat dan bisa bertemu dengan keluarga di Palembang.  πŸ€—πŸ€—

Semoga pandemi segera berlalu ya supaya bisa bebas bepergian tanpa rasa khawatir.

mau difoto, jadi masker copot dulu sementara 😁😁
Iklan
Tinggalkan komentar »

Libur Lebaran 1438 H

 

1500478999518

Libur lebaran tahun ini kami ke Palembang…Yeaaaayyy….. Terbayang pertama kali saat menyebut Palembang adalah makanannya yang enak-enak. Selain tentu saja karena ingin silaturahim dengan keluarga besar suami dan sungkem sama mertua.

Tiket pesawat sudah dipesan duaΒ  bulan sebelumnya dengan rencana hanya saya dan anak-anak yang naik pesawat sedangkan ayahnya berangkat seminggu sebelumnya dengan naik bis. Supaya bisa lebih banyak ngobrol dengan mertua karena secara kalau ada anak-anak tidak bisa leluasa. Awalnya sih saya agak ragu apa sanggup membawa dua bocah cilik yang lagi aktif-aktifnya. TapiΒ  demi pak suami bisa birrul walidain dengan ortunya saya nekat saja. Dulu saya juga pernah berdua saja dengan Kanaya saat usianya dua tahun. Insya Allah sekarang pasti bisalah.Tapi akhirnya di detik-detik terakhir keberangkatan pak suami engga tega membayangkan saya pergi bertiga. Akhirnya malah ikutan pesan tiket, untungnya masih tersedia seat untuk pesawat dengan waktu yang sama.

Kami berangkat dari bandara Halim Perdanakusuma jumat sore dan baru pertama kalinya naik pesawat dari sini menggunakan Citilink. Meskipun berangkatnya dua pekan setelah lebaran tetap yaaah penuuuh banget sampai di ruang tunggu tidak kebagian kursi. Alhamdulillah masih ada ruang menyusui yang meskipun kecil tapi tetap nyaman buat menunggu. Setelah beberapa lama ada pengumuman pesawat kami delay dua jam. Weeeeew…. meskipun dapet dispensasi nasi padang Sederhana tetap tidak bisa menutupi rasa kecewa karena anak-anak jadi rewel terlalu lama menunggu. Apalagi Kaysan terus-terusan menangis karena bosan dan mengantuk.

Akhirnya pesawat datang. Ini adalah pengalaman pertama kalinya untuk Kaysan naik pesawat, awalnya saya khawatir dia rewel tapi alhamdulillah meskipun tidak bisa diam sampai naik ke atas meja lipat, dia tidak menangis. Sampai Palembang pas magrib dan sampai rumah mertua jam 8 malam karena jalanan macet total. Kami langsung tepar karena kelelahan.

Paginya rumah mertua sudah ramai untuk persiapan acara Walimatus Safar pergi Haji bapak dan mimi . Hari ahadnya puncak acara, banyak orang di rumah sampai Kaysan dan Kanaya menangis karena kepanasan dan tidak terbiasa dengan ramainya orang. Senangnya acara hajatan di Palembang itu tidak terus menerus sampai malam seperti di Bekasi. Jam 12 siang acara selesai dan setelah itu rumah sudah rapi kembali.

Malamnya setelah magrib kami bersama saudara-saudara yang lain bisa jalan-jalan. Tujuan pertama adalah jembatan Ampera yang menjadi ikon kota Palembang. Beberapa kali saya ke tempat ini belum pernah berkunjung di malam hari dan ternyata rameeeeeee. Pemandangannya juga bagus, jembatannya lebih cerah karena lampu-lampu. Kelebihannya disaat malam cuaca tidak panas tapi sayangnya kami tidak bisa naik perahu. Padahal saya pengen banget ajak Kanaya Kaysan naik perahu.

Puas ngemil-ngemil di pinggiran sungai Musi, kami langsung ke restoran martabak Har. Bagi saya sih ini acara utamanya, heheheh. Kalau ke Palembang martabak Har itu adalah makanan wajib. Rasanya bikin nagih dan ngangenin. Meskipun kami ke sana jam 10 malam tapi kedai masih buka dan masih banyak pembeli juga. Makannya bergantian dengan pak suami karena anak-anak rewel pengen tidur. Lumayanlah meskipun kurang menikmati karena sambil meredakan rengekan anak-anak, tapi setidaknya sudah mencicipi lezatnya martabak Har.

Pulangnya kami menginap di rumah kakak ipar di daerah Borang. Ini juga jadi tempat favorit karena belakang rumah ada kebun buah yang saat kami datang, beberapa buahnya sedang panen. Lebih tepatnya dipaksakan panen supaya buah bisa dipetik segera karena tangan-tangan bocah sudah gemas ingin memetik buah langsung dari pohonnya. Buah yang jadi idola itu kelengkeng, meskipun masih muda tapi rasanya muaniiss. Saya baru tau kalau kelengkeng bisa juga tumbuh di Palembang karena selama ini lihat pohon Kelengkeng hanya di daerah Jawa Tengah saja.

Puas menjelajahi kebun, kami diundang makan siang oleh kerabat yang lain, lokasinya berdekatan. Makan siang yang menyenangkan karena ada menu penutup yang ditunggu-tunggu yaitu bakso. Jyaaah jauh-jauh ke Palembang cuma mau makan bakso yaaak. Eiits jangan salah ini bakso uenak banget rasanya asli daging sapi tanpa banyak campuran karena pemilik rumah itu penjual daging sapi. Pokoknya endeus tralala deh rasa baksonya.

Setelah itu lanjuuut ke rumah kakak ipar yang lain dan makan-makan lagi, kali ini menunya celimpungan, pempek, otak-otak, es buah, srikaya duren dan berbagai macam makanan ringan. Naksir berat sama otak-otaknya yang sebesar lontong. Ikan tenggirinya terasa banget, enggak tau lah saya habis berapa biji. Sadarnya saat perut terasa penuh hihihi.

Oh iya kami juga sempat pesta durian malam sebelumnya. Sudah pada tau kan kalau Palembang itu banyak durian enak. Tapi saya sih nonton saja keseruan mereka makan durian, karena engga doyan dan agak mual sama baunya.

Dua hari setelah acara walimatus safar di rumah mertua kami memang keliling Palembang untuk berkunjung ke beberapa rumah kerabat suami. Dan setiap kunjungan sudah dipastikan ada penambahan lemak di badan karena makanan yang disuguhkan terlalu sayang untuk ditolak hehehe. Sejenak mari kita lupakan timbangan.

Hari Rabu pagi kami sudah harus bersiap-siap terbang ke Jakarta. Kali ini menggunakan Batik Air menuju bandara halim perdanakusuma. Belajar dari pengalaman delay sebelumnya yang sampai dua jam, saya sudah mempersiapkan makanan untuk anak-anak dan saat sampai ruang tunggu sudah siap-siap menguasai ruang menyusui lagi. Alhamdulillah tidak ada delay dan penerbangan lancar jaya sampai Jakarta.

Selamat tinggal Palembang……

 

2 Komentar »

Cerita Lebaran

Sudah agak terlambat yah mau cerita tentang lebaran tahun ini ? Biarin dah lebih baik terlambat dari pada terlambat banget… hihi

photo_2016-07-19_13-21-27

Rina dan keluarga mengucapkan,

“Taqabalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kullu ‘aamin wa antum bikhair”

Mohon Maaf Lahir & Bathin…

SΞ΅lΞ±mΞ±Ο„ Hari Raya Idul Fitri,

1 Syawal 1437H

Dan semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan dalam kesucian diri dan kemantapan ibadah….Aamiin Aamiin Aamiin Allahumma Aamin

Lebaran kali ini, lebih meriah karena sudah ada Kaysan yang usianya masih 4 bulan. Maksudnya meriah adalah ramai dengan tangisan dan celotehnya. Awal Ramadhn sudah siap-siap sholat Idul fitri akan seru (baca : rempong) karena bawa dua krucil. Eh ternyata saya berhalangan tapi tetap diniatkan datang untuk mendengar khutbahnya saja. Pagi-pagi menjelang berangkat ke Mesjid, saya dan suami berbagi tugas, suami mengurus Kanaya dan saya kebagian mengurus Kaysan. Anak-anak sudah rapi semua, tapi bundanya belum mandi dan Kaysan tidur lelap, padahal sudah 6.45. Akhirnya suami memutuskan hanya mengajak Kanaya yang sudah mendekap mukenanya dari tadi. Tahu bundanya enggak ikutan ke mesjid, ada drama dooooong, Kanaya malah nangis. Tadinya mau dititipin tetangga eh sudah berangkat semua, yah terpaksa suami agak memaksa Kanaya untuk ikut saja, gimana nanti yang penting sudah sampai mesjid. Alhamdulillah sampai sana ketemu banyak tetangga jadi Kanaya aman.

Setelah keliling komplek cari angpau silaturahim dengan para tetangga, kami pulang ke rumah, tangis-tangisan, foto-foto, makan-makan, tidur-tiduran. Menjelang siang baru menemui mama di rumah adek, supaya terhindar dari macet. Tapiiiii yah namapun lebaran semua orang yang ga pernah keluar rumahpun jadi keluar rumah, jalanan muacet meskipun belum bisa mengalahkan macetnya Brexit.

Jadi dari lebaran sampai dengan hari Ahad, kami enggak kemana-mana, sodara-sodara pulang kampung semua. Mau jalan-jalan ke tempat wisata kok ya males banget yah sama rame dan antriannya. Jadi cukup menikmati liburan di rumah sambil menggemukkan badan.

Hari Senin saat sebagian orang sudah mulai aktivitas ,saya sekeluarga beserta mama, adik-adik dan keponakan malah menuju puncak. Rencana mau nginep di Villa Arga Sonya semalam saja. Alhamdulillah jalanan menuju puncak tidak macet, lancar jaya tidak ada hambatan. Meskipun ini sudah yang ketiga kalinya saya ke villa Arga Sonya, tapi tetaplah villa ini bikin jatuh cinta. Tempatnya luas, indah, dan nyaman buat anak-anak. Kanaya dan para sepupunya melihat tempat bermain seluas itu seperti baru keluar dari kandangnya, langsung berlarian kesana kemari, berenang, cari ikan, main layangan dan tidak lupa acara berantemnya.

Akhirnya kesampaian juga niat saya berenang di sini setelah bertahun tahun tidak pernah merasakan berenang lagi. Biasanya kalau ke kolam renang cuma jagain tas suami dan anak, atau kalau di kolam renang umum enggak pede mau nyemplung khawatir sama pakaiannya. Jadi jam setengah dua siang saat para penghni Villa tidur semua, saya menyelinap ke kolam renang, sambil menggeret pak suami minta ditemani. Suami yang baru saja selesai berenang dengan anak-anak menolak tapi tetap mau menemani di sekitar kolam renang saja sambil tilawah menyelesaikan odojnya. Widiiiiw, saya yang memang sudah lama kepengen berenang langsung norak kecipak kecipuk kesana kemari. Apalagi siang itu yang berenang hanya saya sendirian tidak ada orang lain , berasa kolam renang milik pribadi. Heuheuheu.

Malamnya adek ngajak keluar villa untuk makan jagung rebus, eh ternyata hujan deras, jadi kita makan mie rebus saja di dalam villa sambil ngobrol ngalor ngidul (yang penting agak mirip ada rebus-rebusnya). Paginya setelah subuh ngoprak ngoprak krucil mau diajak ke puncak pass, karena kalau siangan dikit biasanya macet di pasar Cisarua. Setelah keliling-keliling lalu kami sarapan di sekitar area Mesjid Ta’wun. Dari lima anak-anak cuma Kaysan aja yang enggak bisa jalan, jadi kalau kemana-mana selalu ada dalam gendongan emaknya. *Koyo mana koyo.

Siangnya setelah sholat zhuhur cuuuusss kami pulang menuju Bekasi dan sudah dihadang kemacetan sampai Gadog. Yah namapun lebaran yak, kurang afdol kalau enggak ada macetnya.

Nah begitu cerita lebaran tahun ini, capeeeek tapi menyenangkan bisa berlibur dengan orang-orang yang kita sayangi…

8 Komentar »

%d blogger menyukai ini: