Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Seminar Parenting : Mendidik Generasi Al Quran

Sudah lama sekali saya tidak ikut seminar parenting , lupa kapan terakhir. Sempat punya pikiran, aaah percuma dah ikutan seminar parenting kemana mana, enggak ada perubahan, tetap galak, enggak sabaran dan sumbu pendek sama anak. Tapi akhirnya merasa malu sendiri, kok cetek amat ini pemikiran, memang tidak  bisa diaplikasikan ilmunya 100% tapi setidaknya saya jadi punya rem untuk mengendalikan diri saat berhadapn dengan anak dan punya niat untuk memperbaiki diri. Udah ikutan seminar parenting aja masih amburadul begini, apalagi enggak ikutan. Saya bukan super mom dan malaikat yang enggak punya salah dalam mendidik anak kan, justru kesalahan ini bisa jadi pembelajaran untuk lebih baik lagi.

Saat di grup sekolah Kanaya ada yang share tentang kegiatan parenting saya langsung tertarik, apalagi lokasinya tidak jauh dari rumah. Penyelenggaranya Persaudaraan Muslimah (SALIMAH) kota Bekasi. Langsung saya daftar lewat online karena khawatir penuh, biasanya acara-acara yang diadakan SALIMAh selalu full dengan emak-emak yang haus ilmu dan senang berbagi.

Saya titipkan Kaysan pada mbahnya dan setelah mengantarkan Kanaya ke sekolah saya langsung cuuusss ke TKP. Masih sepi jadi bisa pilih-pilih tempat duduk yang nyaman, tapi tidak berapa lama mulai berdatangan peserta dari ibu-ibu majelis taklim maupun perorangan dan perwakilan beberapa sekolah. Saya bertemu dengan beberapa teman yang ikutan juga, cipika cipiki, reunian, ngobrol sebentar dan langsung fokus dengan materinya. Berikut ini beberapa point yang saya rangkum dari acara parenting ini. Saya catat sebagai pengingat diri, supaya suatu saat nanti bisa dibaca lagi .

Seminar Parenting ini mengambil tema Mendidik Generasi Al Quran yang disampaikan oleh sepasang suami istri yang kompak yaitu pak Satria Hadi Lubis dan Ibu Kingkin Anida. Saat melihat mereka bersinergi di panggung pikiran saya langsung mengembara, Masya Allah betapa indahnya rumah tangga seperti ini, satu dengan yang lainnya saling mendukung dan punya banyak manfaat buat masyarakat. Keluarganya juga harmonis dengan menjadikan Al Quran sebagai dasar untuk mendidik anak-anaknya.

Awal materi Pak Satria menyampaikan terlebih dahulu mengenai surat dalam Al Quran yang harus menjadi landasan dan doa yang tak pernah putus kita panjatkan kepada Allah. QS 25: 74 “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan anak-anak keturunan yang menjadi penyejuk mata kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa “

Dari Surat ini keluarga diharapkan menjadi teladan bagi keluarga lainnya.  Keluarga  yang dekat dengan Al quran adalah keluarga dengan generasi terbaik karena senantiasa belajar dan mengajarkan Al Quran serta akan menyelamatkan dirinya di dunia dan akhirat

Saat ingin menjadikan keluarga sebagai generasi AL Quran harus dimulai dari saat kita belum menikah. Pilihlah pasangan yang mempunyai  visi dan misi yang sama untuk membentuk generasi Al Quran.

Bila keluarga meninggalkan Al Quran maka perlahan kehidupannya akan buta dari cahaya kebenaran. Orang yang dihinakan oleh Al Quran salah satu cirinya adalah mengacuhkan Al Quran padahal sudah disampaikan kebenaran Al Quran padanya. Akhirnya dia akan lupa diri dan berteman dengan setan.

Di tengah-tengah materi, Ibu Kinkin memutar video tentang wawancara beberapa anak seusia SD yang ditanya tentang artis-artis idola mereka dan menjawab dengan lancar, tapi saat ditanya tentang berapa surat dalam Al Quran, berapa juz,  dan diminta untuk mengucapkan beberapa ayat Al Quran mereka kesulitan. Padahal anak-anak ini tinggal di negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Sungguh ini jadi peringatan buat kita orang tua bahwa serangan ghozwul Fikri (perang pemikiran) sudah sedemikian gencar, dan salah satu bentengnya adalah mendekatkan anak-anak kepada Al Quran.

Untuk dapat mencintai Al Quran tentu saja butuh proses. Awalnya mungkin harus dipaksa atau memaksakan diri untuk selalu berinteraksi dengan Al Quran, kemudian dijadikan hal itu sebagai kebiasaan. Setelah terbiasa nantinya akan menjadi kebutuhan, hati terasa kering dan resah jika sehari saja tidak tilawah. Akhirnya setelah menjadi kebutuhan akan terasa betapa nikmatnya dekat dengan Al Quran.

Ada penelitian dari Dr. Shalih bin Ibrahim yang membagi mahasiswanya menjadi dua kelompok masing-masing 170 orang. Kelompok yang satu tidak menghafal Al Quran sedangkan kelompok yang lain diminta untuk menghafal AL Quran. Hasil penelitiannya, Para mahasiswa yang memiliki hafalan yang bagus memiliki kesehatan jiwa yang lebih tinggi dan lebih cerdas dibandingkan dengan yang tidak pernah menghafal Al Quran.

Ada beberapa tips dari ibu Kinkin Anida supaya kita dekat dengan Al Quran yaitu dengan senantiasa membaca Al Quran pagi dan malam hari serta terus belajar membenarkan bacaan Al Quran. Kemudian kurangi mendegarkan musik dan ganti dengan murotal yang memberikan efek kesehatan.

Untuk anak-anak sebaiknya perkenalkan Al Quran sejak dalam kandungan, selalu memperdengarkan Al Quran, konsisten dan ajarkan dengan cara yang unik supaya mereka tertarik. Jangan lupa berikan penghargaan karena mau terus belajar mencintai Al Quran dalam setiap kondisi.

Pak Satria juga menjabarkan tentang  teknik menghafal Al Quran dimana setiap orang akan berbeda beda caranya. Gunakan metode yang sesuai dengan kemampuan yang penting adalah konsisten.

Semoga rangkuman dari seminar parenting tentang generasi Qurani ini dapat bermanfaat yah, dan semoga juga kita termasuk ke dalam orang-orang yang mencintai Al Quran. Aamiin.

 

 

3 Komentar »

Self Exploration Training

Tanggal 18 Oktober 2014 yang lalu saya dan suami berkesempatan ikut training SET (Self Exploration Training) for Parenting yang diadakan oleh komunitas Tangan Di Atas (TDA) Bekasi dengan pembicara Ibu Nunki Suwardi.

Sewaktu pertama kali membaca di milis TDA tentang acara ini saya langsung mendaftar, karena memang acara workshop oleh Bu Nunki sudah lama sekali saya nantikan. Mumpung acaranya di Bekasi dengan biaya yang masih terjangkau oleh kantong saya.

Bu Nunki ini adalah seorang Pendiri Pusat Studi Komunikasi Bawah Sadar di Indonesia. Beberapa stasiun TV pernah beberapa kali mengundangnya dan banyak tulisannya dimuat di koran. Bagi yang ingin mengetahui lebih jauh tentang Bu Nunki bisa cari di mbah google yaaa…

1238385_10203152220947214_6815763380025058740_n

Saya dan suami datang tepat pukul 9 pagi dan beberapa menit kemudian acara langsung dimulai. Bu Nunki yang ramah dan ceria ini langsung membuat peserta terbengong-bengong. Saat perkenalan peserta, beliau bisa menebak karakter dan masalah yang sedang kita hadapi dari gerak tangan. Ternyata gerak itu muncul tanpa disadari dari alam bawah sadar kita dan semua itu bisa dipelajari.

Pada Training parenting ini, Bu Nunki tidak akan menjelaskan tentang pola asuh atau cara mendidik anak dengan benar tetapi lebih mengeksplorasi diri kita sebagai orang tua untuk mencari penyebab dari kegagalan kita mengasuh anak. Pantas beberapa kali ikut seminar parenting dan membaca buku parenting, kok saya merasa tidak banyak perubahan dalam mendidik Kanaya. Masih sering marah, enggak sabar dan banyak kesalahan dalam menghadapi Kanaya meskipun di akhir drama biasanya menyesal karena sadar yang saya lakukan itu keliru.

DSC_1995

Bu Nunki

Menurut bu Nunki, kejadian-kejadian yang dialami seseorang ketika masih anak-anak (usia 0 sampai dengan 10 tahun) akan menentukan sikap atau perilaku orang tersebut terhadap pasangan dan anak-anaknya. Pengalaman masa anak-anak itu dengan tanpa sadar akan membekas dan kemudian menularkan lagi ke anak-anaknya. Termasuk pengalaman negatif yang mengendap di alam bawah sadar. Bisa jadi kita orang tua mudah sekali marah dengan anak karena dulu pun ketika masih anak-anak kita sering dimarahi oleh orang tua.

Saat materi ini dijelaskan oleh ibu Nunki, mata saya dan sebagian peserta sudah mulai berkaca-kaca. Yaaa… tanpa sadar ada pengaruh masa lalu yang sedang kita tularkan pada anak kita padahal kita tahu itu tidak baik. Harus ada komitmen dari orang tua untuk memutus rantai keburukan ini dengan mencari sumber masalah dan berusaha menyelesaikannya.

Ada beberapa fase rekam bawah sadar pada anak- anak :

1. Fase kandungan : rekaman sudah mulai berjalan melalui perasaan ibu. Ibu yang masa kehamilan banyak mengalami stress biasanya menghasilkan anak yang mudah stres juga.

2. Usia 0 – 2 tahun : filter bawah sadar belum terbentuk, jadi segala kejadian yang dilihat dan dirasakan akan masuk tanpa ada penghalang.

3. Usia 2 – 3 tahun : mulai terbentuk filter, biasanya anak sudah mulai melawan hal-hal yang orangtuanya minta

4. Usia 4 – 8 tahun : mulai kritis terhadap lingkungannya

5. Usia 10 tahun ke atas : filter sudah mulai permanen, fondasi kepribadian mulai terbentuk.

Dari fase ini dapat dilihat, usia 0- 2 tahun adalah masa emas bagi anak, dimana kita dapat memberikan masukan yang positif supaya yang terekam dalam otaknya adalah hal-hal yang positif juga. Sebaliknya hindari kata-kata atau tindakan negatif karena filter bawah sadarnya juga akan merekam hal-hal negatif dalam otaknya.

DSC_1997

seriuuus nonton video

Dalam training ini, Bu Nunki juga menyampaikan secara psikologi perbedaan laki – laki dan perempuan dalam menyelesaikan masalah. Kami diberi stimulus melalui game game yang seru. Ada game dimana suami harus memakai sepatu istri, dan istri harus memakai sepatu suami. Setelah itu kita diminta untuk lomba lari sambil bergandengan. Terbayang kan bagaimana hebohnya, setiap pasangan memakai sepatu yang berbeda, ada suami yang harus memakai sepatu istrinya yang ber hak tinggi. Ternyata ya, kita memang sekali sekali harus merasakan juga apa yang dirasakan pasangan kita supaya bisa lebih saling memahami.

Laki-laki dalam sebuah keluarga adalah seorang pemburu, yang pandangannya fokus ke depan. Dia akan konsentrasi mencari buruannya. Maka tidak heran kalau para suami sering terlalu fokus dan kurang peka dengan istrinya. Ketika ada permasalahan, maka laki-laki akan berupaya mencari solusi dan tidak banyak bicara.

Sedangkan perempuan dalam keluarga diibaratkan sebagai penjaga sarang yang pandangannya bisa 180 derajat. Dia bisa mengerjakan apa saja dalam satu waktu. Pantas ya, seorang ibu bisa multitasking, bisa masak, sambil ngajarin anak buat PR, sambil nyuci piring dll. Ketika permasalahan muncul, perempuan tidak selalu harus mendapat solusi. Didengar, diperhatikan curhatannya saja sudah membuat dirinya lega. Tapi terkadang perbedaan psikologis ini sering menyulut pertengkaran suami istri, si suami merasa kalau istrinya curhat langsung diberikan solusi, sedangkan si istri hanya ingin didengar dan diperhatikan saja. Alhamdulillah saat itu saya dan suami bisa hadir, hingga dapat menyerap ilmu ini secara utuh. Semoga bisa diaplikasikan dalam keluarga kita ya honey…….. *lirik pak suami…uhuk.

Semua materi dalam training ini sangat berkesan bagi saya tapi ada satu hal yang paling berkesan yaitu di sesi terakhir ketika peserta diminta untuk melakukan Memory Time Travel ke masa lalu saat berusia 0 – 10 tahun. Kami digiring untuk bisa menemukan kembali suatu kejadian yang pernah dialami di masa kecil atau memunculkan lagi perilaku orangtua yang mungkin bisa menjadi penyebab tingkah laku dan pola asuh pada anak kita saat ini. Sekitar 5 menit kami diminta untuk memejamkan mata dan rileks diiringi musik yang tenang.

DSC_2001

yang foto peserta ibu-ibu, bapak-bapaknya kabuuur

Di moment ini, saya sudah tidak bisa menahan air mata lagi. Ingatan masa lalu saat masih anak-anak seolah olah hadir lagi dihadapan. Saya merasakan perasaan sedih, kecewa, ketakutan dan merasa tertekan. Ternyata banyak hal negatif yang tanpa disadari membekas dalam otak, meskipun saya tidak memungkiri banyak juga hal positif yang saya dapat dari orang tua saya. Moment seperti ini bisa dijadikan juga sebagai muhasabah perjalanan waktu yang sudah terlewati.

Suasana hening, masing masing konsentrasi dengan alam pikirannya. Panitia acara, sampai berkeliling memberikan tissu karena sebagian peserta sudah mulai terisak isak.

Setelah itu kami diminta untuk menggambar tanpa tulisan secara spontan di kolom kertas yang sudah disediakan mengenai diri kami sejak lahir hingga usia 10 tahun. Kemudian gambaran mengenai, ayah, ibu, kakek, nenek, bagaimana perilaku mereka dan hubungan perasaan kami dengan mereka. Kami juga diminta untuk memberikan deskripsi singkat dan penilaian berupa lambang positif untuk menggambarkan perasaan senang dan lambang negatif untuk perasaan sedih. Ternyata kolom kolom yang sudah diberi gambar mengenai orang tua kita tadi menunjukkan bagaimana kondisi kami saat ini. Seperti bagaimana saat saya menghadapi masalah, menghadapi pasangan, perilaku pada anak serta psikogenetik Imprint yang diturunkan secara genetik dari orang tua dan kakek nenek.

Setelah kami memahami bagaimana kondisi dan sifat-sifat kami sesungguhnya. Kami diminta untuk menentukan sumber masalah terbesar dari perilaku yang ingin diselesaikan. Peserta kembali memejamkan mata, sambil membayangkan sumber masalah tersebut. Dengan perlahan dan penuh kesungguhan para peserta diharapkan mau berdamai dengan masalahnya dan memaafkan orang-orang yang sudah memberikan memori negatif dalam otak. Rekaman alam bawah sadar negatif inilah yang selama ini ternyata berpengaruh terhadap perilaku sehari hari. Dengan cara menggali akar maasalah dan menemukan solusinya ini diharapkan kami mulai sedikit demi sedikit merubah perilaku negatif dalam diri.

DSC_2003

Foto dengan Bu Nunki meski wajah sembab

Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa izin Allah, dan tidak mungkin semua hal terjadi tanpa hikmah yang bisa dipetik. Apabila kita sudah mengalami hal-hal negatif dan terekam dengan kuat di alam bawah sadar, maka satu hal yang bisa dilakukan adalah, maafkan supaya tidak ada lagi beban yang tersimpan. Supaya kita bisa menjadi orang tua yang baik melalui sikap dan perilaku yang positif.

Training selesai sampai magrib menjelang, saya pulang dengan membawa banyak ilmu yang siap untuk diaplikasikan. Memang tidak mudah merubah perilaku negatif, tapi saya yakin dengan kesungguhan hati proses ini dapat saya lalui. Insya Allah, semoga Allah mudahkan saya untuk bisa menjadi istri yang baik untuk suami saya dan orang tua yang baik untuk Kanaya . Aaamiin

23 Komentar »

Orang Tua Cerdas, Anak Berkualitas

 

Yeaaay… Seminar parenting lagi….

Setelah sebelumnya ikut seminar Menanamkan Pendidikan Karakter Model Rasulullah di Islamic Center Bekasi dan Be Smart With The Best Character di Pondok Hijau, aku ikutan lagi Seminar Parenting dengan tema Jadilah Orang Tua Cerdas Maka Anak Berkualitas. Acara berlangsung pada hari sabtu tanggal 6 April 2013 di Griya Wulan Sari Bekasi, penyelenggaranya Komite SDI Baabut Taubah. Pembicaranya Bapak Fauzan Ahmad dari Rumah Motivasi dan Inspirasi Indonesia (RUMI)

Tadinya sempat enggak jadi ikutan karena suami tiba-tiba ada acara di Bogor. Sebelumnya kami sepakat akan selalu menghadiri acara seminar parenting berdua, supaya ilmu yang terserap bisa dipraktekkan bersama. Tetapi akhirnya diputuskan berangkat juga karena sayang kalau enggak datang, temanya bagus. Apalagi ternyata dapet tiket gratis dan ada teman juga yang mau ikutan. * pecinta gretongan.

Acara dibuka oleh pak Fauzan dengan Ice Breaking yang banyak memberikan pertanyaan seputar anak-anak, kemudian dilanjutkan ke materi yang lebih dalam. Berikut aku rangkum beberapa materi yang disampaikan beliau.

Setiap orang tua pasti sangat mendambakan anak yang cerdas, kreatif, mandiri dan berakhlak mulia, tapi sayangnya tidak diiringi dengan kelimuan dalam merancang kemajuan anak. Ada orang tua yang fokus merancang prestasi keilmuan tapi minim dalam mengembangkan prestasi keimanan. Padahal prestasi keilmuan harus seimbang dengan prestasi keimanan.

IMG02552-20130406-1118

Anak yang semasa kecilnya sering mendapat penolakan dari orangtuanya, sebagaian besar ketika dia memasuki usia SMP atau SMA akan mengalami hambatan dalam pergaulan dan tidak terbuka dengan orang tuanya. Padahal kita orang tua, sangat ingin anak-anak terbuka dalam segala hal. Keadaan ini lah yang sering juga menyebabkan banyak permasalahan remaja seperti seks bebas, narkoba, tawuran pelajar dll.

Pak Fauzan menampilkan video tentang permasalahan remaja yang mengerikan. Diantara peserta terlihat sampai ada yang meneteskan air mata karena sedih melihat kondisi seperti ini. Beberapa tahun ke depan mungkin masalahnya akan lebih banyak lagi kalau orang tua tidak tanggap dengan anak-anaknya.

Sedemikan berpengaruhnya perlakuan orangtua ketika anak-anak masih balita, membuat kita harus lebih berhati-hati dalam berinteraksi. Anak kita bukanlah orang dewasa bertubuh kecil, tapi dia memang anak-anak yang butuh diajak berinteraksi dengan bahasa mereka. Penelitian menyebutkan bahwa dalam sehari anak membutuhkan minimal 13 kali pelukan dari orang tuanya, terutama usia balita. Hayyyoooo sudah peluk anaknya belum hari ini?

Anak-anak yang semasa kecil pernah dibentak sampai anak terkejut, akan kehilangan 500 sel otaknya. Terbayang kan kalau setiap hari anak menghadapi bentakan? Akan jadi apa anak kita. Rumah yang selalu penuh dengan amarah akan membuat anak menjadi sulit berkembang. Setiap anak itu istimewa, terlahir merdeka tanpa setitik dosa, punya hak yang sama dan punya potensi luar biasa. Jadi ciptakan suasana menyenangkan di dalam rumah kita.

IMG_0393

IMG_0394

Ketika Pak Fauzan bertanya ke beberapa peserta tentang kenalkah anda dengan anak masing-masing? Rata-rata menjawab kenal sambil menyebutkan nama, tingginya, bentuk wajah dll. Yaaa begitulah sebagian dari orang tua memang hanya mengenal anak secara fisik atau casingnya saja. Padahal di dalam anak kita sudah ada chip kesolehan, kecerdasan, kemamdirian yang belum diketahui oleh orang tuanya dan tidak dikembangkan dengan baik.

Beberapa informasi penting yang harus diketahui dan dimaksimalkan orangtua adalah pengetahuan tentang gaya belajar, pola energi, pola perilaku dan hemisfer Otak.

Ada beberapa cara manusia dapat meneria informasi yang erat kaitannya dengan cara belajar:

  1. Auditori

    Anak menerima informasi dengan pendengarannya yang lebih dominan. Anak dengan type ini memiliki sensitifitas yang tinggi, orang tua tidak boleh bicara dalam nada yang tinggi, tidak bisa belajar dalam keadaan berisik, tidak boleh belajar dalam hati. Cara belajarnya harus dengan bicara supaya telinga lebih mendengar. Jika ada masalah harus bicara berhadapan dari hati ke hati.

  2. Visual

    Menerima informasi dengan indera penglihatan yang lebih dominan. Boleh membaca dalam hati, bisa belajar di tengah keramaian. Cara mengajarkannya dengan metode maping (peta pikiran) dan banyak mengunakan kata, “dengarkanlah”, “perhatikan” dll yang mengaktifkan fungsi penglihatan

  1. Kinestetik

    Menerima informasi dengan indera penerima rangsang gerak, melibatkan banyak indera dan segala sesuatu yang berhubungan dengan gerak motorik Ciri-cirinya tidak bisa diam, selalu bergerak. Cara menyelesaiakn masalah dengan sentuhan dan pelukan. Anak Kinestetik sering di cap anak nakal karena tingkahnya yang selalu ingin bergerak, padahal begitulah caranya belajar.

Kita orang tua juga harus cerdas melihat apakah anak kita termasuk anak yang lebih banyak menggunakan otak kanan atau otak kirinya, karena dengan mengetahui hal ini akan lebih mudah mengarahkankan talentanya.

Seperti kita tahu, otak kanan didominasi dengan pusat khayalan dan kreativitas, seni, ekspresi, berpikir linear dan tidak terstruktur, tidak memikirkan hal-hal dengan detail, cara kerja memorinya jangka panjang dan apabila terjadi kerusakan pada area otak kanan yang terganggu adalah area kemampuan visual dan emosi.

Otak kiri didominasi perkembangan logika dan rasio, berpikir sistematis, bahasa verbal, berpikir linear, terstruktrur, analisis, cara berpikir jangka pendek dan apabila ada gangguan maka yang terganggu adalah kemampuan bicara, bahasa dan matematika.

IMG_0395

Dengan melihat dan mengenali seluruh potensi yang ada pada anak kita, diharapkan orang tua tidak salah dalam menyikapi karakter anaknya. Jadi benar ya, kecerdasan orang tua akan sangat berpengaruh dalam menjadikan anak-anak kita anak yang berkualitas.

Alhamdulillah seminar selesai sekitar 13.30. Pulang ke rumah dengan semangat baru untuk memberikan pola asuh terbaik untuk amanah yang telah Allah berikan ini. Tetap ya … ikutan seminar seperti ini belum menjamin jadi orang tua yang baik, masih terus belajar, belajar dan belajar supaya bisa memberikan yang terbaik buat Kanaya.

Mohon maaf kalau tulisannya semrawut, mudah-mudahan bermanfaat.

30 Komentar »

Be Smart With The Best Character

Bismilahirrohmanirrohim

Menjalani peran sebagai orang tua itu bukan perkara mudah. Terutama buat saya yang pengalamannya minim. Anak baru satu dan usianya masih piyik 27 bulan membuat saya selalu merasa harus meng up grade ilmu mendidik anak. Kadang saya sering merasa bingung bagaimana menghadapi Kanaya yang tantrum, kritis bertanya ini itu dan sering gamang bagaimana mendidiknya dengan cara yang tepat. Apalagi sekarang arus teknologi sedemikian modernnya, enggak kepengen Kanaya justru dapat pola pengasuhan dari media-media tersebut.

Sejak jadi orang tua saya jadi pecinta berat artikel-artikel parenting dan memperbanyak teman sesama emak-emak rempong yang sudah terlebih dahulu memiliki pengalaman mendidik anak. Kemudian salah satu yang menjadi minat saya adalah ikut dalam seminar-seminar Parenting yang diadakan di Bekasi. Bukannya males kalau jauh-jauh tapi karena masalah waktu dan jarak yang terbatas. Makanya sempat mupeng berat saat supermoms mengadakan seminar-seminar parenting di Jakarta beberapa waktu yang lalu.

Nah, saat mba Lidya menawarkan untuk ikut seminar parenting di sekolah anaknya, saya langsung tertarik dan mendaftar. Alhamdulillah ayahnya Kanaya juga bisa ikut jadi tambah semangat deh. Memang saya selalu berusaha mengajak si ayah ikutan seminar seperti ini supaya kami selalu mempunyai visi, misi dan ilmu yang sama dalam mendidik anak.

 IMG02384-20130203-0701

Acara seminar bertema `Be Smart With The Best Character’ pembicaranya bapak Irwan Rinaldi dari Yayasan Sahabat Ayah. Tempatnya di aula SDIT Thoriq bin Ziyad tanggal 2 Februari 2013 yang lalu. Menurut info sih acara mulai jam 8.00 tapi jam segitu saya masih di rumah karena hujan turun deraaaas sekali. Setelah ditunggu tidak reda akhirnya nekat juga boncengan naik alphard motor menembus hujan.

Sampai tempat acara, peserta baru sedikit tapi setelah hujan reda akhirnya yang lain mulai berdatangan. Setelah sambutan sambitan yang segambreng itu akhirnya acara dimulai juga. Sebenernya saya sudah niat mencatat materi seminar etapi karena banyakan terpukau dengan yang disampaikan pak Irwan jadinya malah ga banyak catatan. Mendengarkan beliau bicara ternyata jauh lebih menarik.

 IMG_0155

Di awal materi, Pak Irwan menyampaikan pengalamannya ketika berkunjung ke Bosnia (Bosnia apa Palestina ya..) bertemu dengan anak-anak yang mempunya semangat luar biasa. Mereka bahkan sudah terbiasa dengan cuaca yang ekstrim dan ketika Pak Irwan menawarkan makanan mereka menolak Kami tidak butuh makanan , yang kami butuhkan al quran. Subhanalllah. Pak Irwan pun merasakan ada sesuatu yang berbeda ketika mereka akhirnya berbaris dan memekikkan takbir. Ada kekuatan yang tidak biasa dari takbir yang keluar dari anak-anak kecil itu. Ya mereka memang berbeda dari anak-anak Indonesia yang sering kita temui, karena mereka memiliki karaker yang kuat yang sudah tertanam bahkan sejak mereka masih dalam kandungan.

 IMG_0169

IMG_0162

Ketika sedang mengikuti seminar, saya memasang status di BBM dan ternyata ada yang request tentang isi Seminar, tapiii ……..ya berhubung saya kebanyakan melongo mendengarkan Pak Irwan, jadi saya rangkum poin-pointnya saja ya….

  • Pengasuhan yang berkarakter akan menciptakan generasi yang Cerdas dan berakhlak mulia

  • Pola pengasuhan pendidikan selama ini lebih sibuk pada menghafal daripada memahami. Padahal tujuan utama dari pendidikan adalah bukan untuk mengisi otak anak dengan informasi melainkan dengan pemahaman dan mempraktekannya.

  • Kesuksesan hidup 80 % -90% ditentukan oleh karakter seseorang atau akhlakul kharimah. Tentunya kesuksesan hidup versi Islam ya.

  • Anak mengenal dan mengetahui nilai-nilai melalui panca inderanya, dari sana akan terlahir sikap dan tindakan yang dominan sehingga terbentuklah karakter, maka karakter inilah yang akan membentuk kepribadiannya. Nah anak-anak tentunya akan mencerna segala sesuatunya berawal dari rumah, maka ayah dan bunda adalah orang yang paling berperan dalam mengembangkan karakter anak

  • Karena panca indera anak akan sangat berpengaruh terhadap karakter, maka usahakan anak jangan dibiasakan terlalu sering di depan tivi. Ayah dan ibu harus kreatif dengan menciptakan hiburan-hiburan di rumah.

  • Anak akan meniru bagaimana orangtuanya menyelesaikan masalah, terutama ia akan melihat figur ayahnya dalam menghadapi pemasalahan di rumah.

  • Setiap anak yang melakukan kesalahan menjadi peluang bagi orang tua untuk mendapatkan pahala karena orang tua menunjukkan yang benar.

Cuma sedikit sih catatannya.Intinya, orang tua memiliki perang yang sangat besar dalam membentuk karakter anak, jadi dari kecil sudah dibiasakan untuk ditanamkan nilai-nilai positif.

Kadang kita orang tua ini terlalu kaku ketika berinteraksi dengan anak. Pak Irwan mencontohkan, ketika kita pulang ke rumah dan mengucapkan salam biasanya dilakukan di depan pintu. Cobalah sekali kali untuk mengucapkan salam sambil bersembunyi di balik jendela atau mengetuk kaca jendela. Perhatikan mimik wajah anak saat kita melakukan sesuatu yang tidak biasa. Sekali kali kita juga bisa berganti peran saat kegiatan mendongeng, minta anak untuk bercerita dengan memancing pertanyaan.

Orang tua juga harus banyak memberikan pujian terhadap hal positif yang dilakukan anak, karena itu bisa membuat dia percaya diri, tapi juga harus memberikan konsikuensi apabila anak melakukan kesalahan.

Ada yang bikin saya menangis saat pak Irwan mengatakan bahwa perlakuan orang tua di masa kecil akan terus membekas sampai si anak dewasa. Itu sangat benar dan saya merasakannya sendiri. Trauma berkepanjangan yang sangat sulit saya hilangkan dan saya berharap semoga saya tidak menciptakan kesalahan yang berulang pada Kanaya.

Acara yang singkat dengan materi yang padat itu terasa kurang buat saya, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dan Pak Irwan juga tampak kewalahan menanggapi pertanyaan dari para peserta seminar. Tapi senengnya si ayah dapet hadiah dari panitia karena menjawab pertanyaan yang diajukan, meskipun sampai rumah bengong ternyata bukunya tidak ada hubungannya sama sekali dengan parenting. 🙂

Yang terpenting, setelah seminar ini banyak hal yang harus diperbaiki dalam merapkan pola pendidikan untuk Kanaya dan juga masih harus terus belajar dan berdoa untuk bisa menjadi orang tua yang baik untuk Kanaya. Doakan yaaa…

33 Komentar »