Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Ekspresikan cintamu

Bicara cinta tidak pernah ada habisnya, cinta kepada suami, orang tua, anak , teman dan cinta yang paling tinggi terhadap Allah dan RasulNya.  Kali ini ngebahas si cinta yang sekarang menemani hari hari indahku *eciyeee.

Aku sebenarnya type orang yang romantis. *uhuk,  dan menikah dengan seseorang yang “kurang romantis” di awal pernikahan. Tapi sekarang…. pak suami ini  ternyata sudah jauuuuh lebih romantis dari diriku sendiri. Lha kok bisa sih…. *ga terima dibalap beginih.

Bersyukur, alhamdulillah….

Kepengen banyak cerita bagaimana romantisnya dia, tapi khawatir banyak yang ngiri *kabooor menghindari timpukan sendal.

Jadi mari kita mencintai pasangan sah kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia ada disamping kita karena Allah sudah memilihkan yang terbaik.  Sudah bilang I love You belom hari ini??… hayuuk atuh sms, bbm, telpon.

Ini postingan ga jelas banget deh, padahal intinya cuma pengen ikutan give awaynya mba Felia  yang meminta peserta untuk mengekspresikan ungkapan cinta kepada orang-orang yang ada di sekeliling.

Berhubung lagi ga kreatif, jadi aku repost puisi yang pernah aku buat waktu 2 tahun pernikahan. Senyum-senyum malu sendiri pas dibaca lagi. Doakan semoga cinta kami selalu tumbuh dan tumbuh terus ya….

 

Selaksa masa….
Menghadirkan sebuah kenangan tentang kita
24 bulan yang lalu…..
Ada senyum mengembang
Haru menyusup
Juga harap yang melangit
Seperti baru kemarin ketika keningku kau sentuh
untuk pertama kali
dan hari-hari menjadi taman bunga
Wangi melati itu masih tercium sampai saat ini
Tidak ada yang berubah…
Kecuali sebentuk cinta yang kian bertambah
dan syukur yang semakin menggunung
untuk sebuah kesempatan ada disampingmu
Tetaplah menjadi matahariku
yang tak meredup, meski awan menghalangi
Menghangatkan jiwa yang kadang letih tak terperi
Saat ini….di putaran masa pernikahan kita
aku hanya ingin menggenggam tanganmu
kemudian menatap lekat mata beningmu
Sayang, ……semoga seiring waktu
kan bertambah ketaatan kita pada Sang Pemilik Diri
Hingga akhirnya, kaki-kaki ini bisa menapaki SurgaNya yang Abadi

15 Januari 2008
milad 2 tahun meretas sunah bersejarah

 

tulisan ini diikut sertakan dalam Giveaway-Wedding annivesarry ke 6.

38 Komentar »

Memelihara Cinta


gambar dr sini

Pagi ini saya membuka email dan mendapati sebuah artikel yang mengharukan dari sebuah milis. Kisah tentang pasangan-pasangan suami istri yang memelihara cinta mereka dalam kondisi apapun. Cinta yang terus bertahan hingga usia sudah tidak muda lagi. Cinta yang indah. Saya sampai menangis saat membacanya. Di tengah banyaknya angka perceraian, perselingkuhan, KDRT dan lain lain, ternyata masih banyak pasangan-pasangan yang selalu berusaha menjaga cinta mereka.

Kemudian saya teringat dengan suami, terutama dengan cinta kami yang alhamdulillah terus menjadi indah di usia pernikahan yang ke 6 tahun. Pertengkaran selalu ada karena kami bukanlah pasangan sempurna, tetapi justru dengan pertengkaran itu membuat kami semakin menjadi dewasa.

Suami saya adalah lelaki luar biasa yang Allah pilihkan untuk saya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia lah yang membuat hari-hari saya penuh warna, terkadang saya dibuat tertawa oleh tingkah lucunya, dibuat menangis karena sikapnya yang tidak saya fahami atau membuat saya merenung saat mendengarkan cerita-ceritanya.

Teringat suatu siang, dia membawa satu plastik bunga segar untuk memberi kejutan pada saya. Tingkahnya persis gaya sang romeo merayu juliet seperti di film film. Saya tanya bunga dari mana??

dia jawab sisa hiasan pelaminan pernikahan teman, sayang dari pada di buang. Jyyaaaahhh…. atau saat tiba-tiba dia menggenggam erat tangan saya saat kita duduk berdua sambil berucap terima kasih ya sudah mau menjadi istriku…… so sweeetttt…..

Saat membaca artikel yang saya ceritakan di awal tulisan tadi, saya langsung mem forward ke email suami dengan tambahan kata kata

air mata meleleh mas bacanya….
semoga cinta ini selalu indah ya mas sampai akhir masa kita

Tidak beberapa lama ada email masuk balasan darinya

aamiin cintaku … semoga kita pun seperti itu dan menularkannya ke semua orang

tambah meleleeeeh. Ugggh … benar-benar pagi yang melow

Allah, berilah kami kesempatan untuk bisa bersama sama menjadi lebih baik dengan pernikahan ini. Jagalah cinta kami, karena cinta yang indah ini akan terus tumbuh dengan izin MU, jadikan pernikahan ini membuat kami semakin lebih dekat dan lebih cinta dengan MU..

ini dia artikel dari milis yang membuat saya meleleh pagi ini.


Cinta Indah Begini

 
Di sebuah kereta listrik jurusan bogor, sepasang suami
isteri berusia senja duduk berdampingan sambil menikmati perjalanan. Sekilas
tidak ada yang istimewa dengan kakek-nenek ini, seperti layaknya pasangan suami
isteri yang lain yang biasa kita lihat di banyak tempat. Duduk berdampingan,
jalan beriringan, berbincang tentang apa yang dilihat dan dirasa, semuanya
terlihat biasa. Namun, sesaat kemudian beberapa penumpang di gerbong itu,
terutama mereka yang berada persis di depan atau samping pasangan tua itu
terharu dengan apa yang mereka lihat. Ternyata, sepanjang perjalanan keduanya
saling berpegangan mesra, layaknya sepasang pengantin baru. Lengan si nenek
melingkar mesra mengait lengan kekasihnya, sementara tangan si kakek erat
memegang jemari dan punggung tangan belahan hatinya. Aih…
 
Di sekitar Sawangan Depok, seorang perempuan muda duduk
di jok belakang sepeda yang dikayuh suaminya. Lengannya erat melingkar di
pinggang sang pengayuh, saat jalan menurun pegangannya semakin erat dengan
kepala bersandar di punggung suaminya. Takut? Bukan. Itu lebih terlihat sebagai
sebuah keyakinan seorang perempuan kepada lelaki tempatnya berpegang, yang akan
senantiasa membawanya pada keselamatan. Ketika jalan mendaki ia turun dari
sepeda dan membiarkan suaminya mendaki sampai ke jalan datar, sebuah sikap
bijaksana seorang isteri untuk saling meringankan beban. Indahnya…
 
Di sebuah rumah sakit di Jogjakarta, setelah peristiwa
letusan Merapi tahun 2010, seorang perempuan menemani suaminya yang terkena
luka bakar di sekujur tubuh. Tak ada yang bisa dilakukan sang suami dengan
kondisi luka yang teramat parah itu, maka isterinya lah yang menjadi tangan dan
kakinya. Ia menyuapi suaminya, membasuh peluhnya, membersihkan lukanya, dan
mendengarkan rintihannya. Seorang dokter mengatakan kepadanya bahwa suaminya
akan sembuh dalam waktu lama dan tubuhnya akan penuh bekas luka bakar. Perempuan
itu nampak tegar dan wajahnya menyiratkan satu kata, “saya akan terus
menantinya”.
Meski tubuh suaminya penuh luka bakar, namun ia yakin satu hal cintanya tak
ikut hangus terbakar.
 
Masih sebuah kisah di rumah sakit, seorang suami meminta
izin cuti selama beberapa hari dari kantornya hanya untuk menemani isterinya
yang sedang koma. Isterinya mengalami pendarahan hebat usai melahirkan buah hatinya.
Kebahagiaan bercampur kesedihan di hatinya, hadirnya si kecil diiringi dengan
belum sadarnya sang isteri. Setelah sepekan belum menunjukkan kesembuhan, ia
meminta cuti tambahan dari kantornya. Sebenarnya ia masih bisa bekerja, karena
masih ada orang tuanya yang bisa bergantian menunggui isterinya, namun lelaki
itu cepat-cepat berkata, “Saya ingin saat ia membuka matanya kembali senyum ini
yang ia lihat pertama kali”.
 
Di depan sebuah rumah kontrakan kecil, seorang suami
hendak berangkat mencari nafkah. Ada adegan yang tak pernah ia lewatkan dan
selalu terulang sejak pertama kali mereka menikah dua belas tahun lalu, dengan
mesra isterinya mencium punggung tangan sang suami dan suami pun membalas
mencium kening kekasihnya serta sedikit kecupan di bibir. Kepahitan hidup akan
bisa diimbangi dengan manisnya cinta. Tak hanya saat berangkat, kembali ke
rumah pun kecupan hangat yang sama dengan pagi hari tetap ia dapatkan dari
isterinya. Tak berkurang mesranya hanya karena sang suami belum membawa
harapannya,dan  belum membelikan yang
diinginkannya.
 
Berapa banyak cinta yang bertahan sampai usia senja,
berapa banyak cinta yang semakin tebal ketika keadaan ekonomi mendesak, berapa
besar cinta yang terjaga ketika pasangan tak berdaya, berapa banyak cinta yang
tetap bersemi dengan keyakinan yang tak luruh sedikitpun, berapa banyak cinta
yang tetap manis saat kepahitan hidup terus mendera, berapa banyak cinta yang
tetap tulus ketika jalan yang dilalui tak selamanya mulus? Yang punya cinta
yang bisa menjawabnya, kita pun bisa miliki cinta yang indah begini.
(Gaw/LifeSharer)
 
Bayu Gawtama

LifeSharer
SOL – School of Life

085219068581 – 087878771961

twitter:
@bayugawtama

@schoolof_life

4 Komentar »

Kamu Makin Cantik Kalau Marah

Rating:
Category: Other

artikel dr teman…

“Kamu Makin Cantik Kalau Marah !”

Buat yang udah nikah, yang mau nikah atau yang punya niat untuk nikah.

Bertengkar adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah
tangga, kalau ada seseorang berkata: “Saya tidak pernah bertengkar dengan
isteri saya!”. Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri atau ia
tengah berdusta.
Yang jelas kita perlu menikmati saat-saat bertengkar itu, sebagaimana
lebih menikmati lagi saat-saat tidak bertengkar.

Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan
dalam muatan emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam
bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah, betapa tidak, justru dalam
pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang
sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi,
pesan-pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa-basi
tanpa emosi.

Salah satu di antaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita
bertengkar, dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya,
tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun
harus bertengkar, maka :

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah.

Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada
tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang
berjama’ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia
marah dan saya mau menyela, segera ia berkata “STOP ini giliran saya!”
Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam
hati :”Kamu makin cantik kalau marah, makin energik…” Dan dengan diam
itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi
tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi… “Duh
kekasih…bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka di
padang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ….”

Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka”, saya
menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah
sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak
berani marah sama siapa-siapa kecuali pada isteri saya:) maka kini giliran
dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah.
Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada
sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah 🙂

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat
masa.

Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa
silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun
tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang
mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga
harapan, bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang
masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua
hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian
mahal dibangunnya.

Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas
keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah “ungkapan rindu yang
keras”. Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu
lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya
terpuruk jatuh.

Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas
apapun saya marah, maka itu adalah “harapan ingin disayangi lebih tinggi”.
Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat,
plus tuduhan “Sudah tidak suka lagi ya dengan saya”, maka saya telah
menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu,
ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya
mati, saya juga yang susah … OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa,
saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini …..

3. Kalau marah jangan bawa-bawa keluarga!

Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu
dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga
ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak
menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).
Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau
ibu saya diajak serta, jangan coba-coba.

Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan
siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang
lain ke kancah “awal cinta yang panas ini”.

Kata ayah saya: “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak.”
Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari maafnya daripada
ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..”. Dunia sudah
diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!

4. Kalau marah jangan di depan anak anak!

Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia
tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus
menonton komedi liar rumah kita? Anak yang melihat orang tua nya
bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya.
Membela ibu, tapi itu ‘kan bapak saya.

Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar (based on true story):
Ibu: “Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang
main suruh begitu, emang saya ini babu?!!!”
Bapak: “Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku
harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang
saya ini kuda????!!!!
Anak: “Yaaa …ibu saya babu, bapak saya kuda …. terus saya ini apa?”

Kita harus berani berkata: “Hentikan pertengkaran!” ketika anak datang,
lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada
tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata
basi hati kita???

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat!

Pada setiap tahiyyat kita berkata: “Assalaa-mu’alaynaa wa
‘alaa’ibaadilahissholiihiin” Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas
hamba-hambamu yang sholeh…. Nah andai setelah salam kita cemberut lagi,
setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah
mendustai-Nya, padahal nyawamu di tangan-Nya.

OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho
itu janji dengan Ilahi ….. Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat
waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya … Atau habis isya sebatas….???
Nnngg……. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang
tidak bertengkar … 🙂

6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling memaafkan

Hikmah yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran (resensi
sebuah film). Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar
hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens”. Ternyata ada yang
masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki.

10 Komentar »

4 kunci rumah tangga harmonis

Rating: ★★
Category: Other

Harmonis adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna apa pun bisa cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi.
Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih, akan memberikan corak tersendiri yang bisa menghilangkan kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan hitam-putih jika ditata secara apik, akan menimbulkan kesan dinamis, gairah, dan hangat.
Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola. Rumah tangga merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangan.
Nah, di situlah letak keharmonisan. Tidak akan terbentuk irama yang indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.
Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu. Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi. Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan dengan mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antar mereka.
Ada empat hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga.keempatnya adalah:
1. Jangan melihat ke belakang
Jangan pernah mengungkit-ungkit alasan saat awal menikah. “Kenapa saya waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak?” Buang jauh-jauh lintasan pikiran ini.
Langkah itu sama sekali tidak akan menghasilkan perubahan. Justru, akan menyeret ketidakharmonisan yang bermula dari masalah sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut, tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.
Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Inilah masalah kita. Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke belakang. Atau, na’udzubillah, membayangkan sosok lain di luar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu setan sehingga kian meracuni pikiran kita.
2. Berpikir objektif
Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak terlibat. Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi sudah melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah tangga tidak secara utuh.
Jadi, cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah pihak yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu dibenahi.
Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan disikapi emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang tidak becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini terjadi, reaksi balik pun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri bawel, materialistis, dan kurang pengertian.
Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa disiasati dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak tertutup kemungkinan, isteri pun ikut mencari penghasilan, bahkan bisa sekaligus melatih kemandirian anak-anak.
3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya
Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita. Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang dimiliki. Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita meletakkan sudut pandangnya.
Mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak kekurangan. Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di sinilah uniknya berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu.
Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita. Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Allah sudah merupakan kelebihan yang tiada tara. Luar biasa nilainya di sisi Allah. Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segala kekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita miliki. Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.
4. Sertakan sakralitas berumah tangga
Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.
Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik masalah, Allah swt. Pasangkan rasa baik sangka kepada Allah swt. Tataplah hikmah di balik masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi.
Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan doa. Bisa jadi, dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terlihat ringan. Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata. Insya Allah!
Kirim ke teman | Print | Trackback | del.icio.us | Ke atas

Artikel Terkait:
Buah Tarbiyah Ailiyah
Agar Pernikahan Membawa Berkah

Ada 10 komentar:
1.30 January 2007 pukul 13:28
Abdullah Hadits Borneo menulis:
Mudah-mudahan Allah curahkan keberkahan kepada Tim Dakwatuna.
Tema tentang keluarga adalah tema yang vital dan amat urgen untuk dikaji. Lihatlah fenomena yg tjd sekarang. Perzinaan di kalangan muda, perselingkuhan di kalangan tua,barter suami istri, perceraian, kebobrokan moral remaja, kedurhakaan anak pada orang tua, pelarian yang salah,pemerkosaan di bawah umur, nikah sirri dan lain-lain bermula dari kebobrokan sebuah keluarga.Sikap istri yang dingin dan cuek, tak pernah berdandan/genit, merayu suami/bercanda/ bersikap lembut/mesra pada suami,adalah awal dari bencana keluarga.Karena suami akan mencari perhatian wanita lain yang lebih perhatian.Demikian jg suami yang tidak bisa memegang janji, memuaskan lahir batin, menjadi pelindung istri,pengertian,perhatian, ksh sayang dan jujur, istri bisa jadi luntur kesetiaannya pada suami.
Maka harus ada kerjasama yang baik dalam kebajikan dan taqwa.

oleh:tim dakwatuna

Tinggalkan komentar »

ketika mars sembunyi dalam guanya

Rating:
Category: Other

Mars tercipta
sebagai pelengkap hadirnya venus
Lebih dari sekedar maskulin yang membingkai feminim
Tapi sosok Qowwam dengan jundinya yang taat

Mars terlahir
sebagai peneduh venus dari panasnya mentari
hingga terasa ada di rindangnya dedaunan pohon
Bersandar pada kokohnya
Berlabuh pada setianya

ada saat…..
Mars bersembunyi dalam guanya
Hingga venus mencarinya tak tentu masa
Biarkan ia dalam diamnya
Mungkin batu-batu gua
sedang mengajarinya tentang sebuah makna
Pada saatnya ia akan kembali pada venus
dengan membawa setumpuk cinta yang hangat.

24 juli 2007
ternyata aku semakin sayang…

Tinggalkan komentar »

cinta dan perkawinan

Rating:
Category: Other

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?
Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”
Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”
Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”
Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”
Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar / subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”
Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”
Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”
CATATAN – KECIL :
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

4 Komentar »

tentang memuji pasangan

Suatu saat saya berbincang dengan seorang ibu rumah tangga tentang memuji pasangan. Dia terkejut ketika tahu bahwa saya dan suami sering saling memuji, karena dia berpikir itu bukanlah hal penting dan bisa membuat pasangan GR. Saya tersenyum, mengingat betapa seringnya kami saling memuji hingga kadang pipi memerah karena senangnya. Tadinya saya pikir kebiasaan saling memuji ini hanya bertahan selama awal pernikahan saja, tetapi ternyata setelah sekian lama, kami masih sering melakukan hal itu. Ada perasaan berbunga bunga ketika suami memuji kecantikan saya saat saya berdandan rapi atau ekspresinya ketika memakan kue buatan saya, hmmm..uenak banget dek…padahal saya tahu kuenya tidak terlalu enak karena saya baru mulai belajar memasak ketika menikah. Saya juga pernah melihat suami saya tersenyum senyum bangga saat saya bilang..mas ganteng banget deh kalo pakai baju ini…..meskipun setelahnya dia jadi sering memakai baju itu sampai warnanya memudar dan bahannya menjadi rusak. Memuji pasangan, mungkin bukan perbuatan yang mudah tetapi juga tidak terlalu sulit,. Untuk sebagian pasangan, memuji mungkin bukan hal yang penting tetapi bisa jadi penting untuk suatu kondisi tertentu. Terkadang manusia butuh penghargaan untuk memotivasi dirinya. Seperti halnya ketika suami memuji masakan saya, meskipun saya tahu rasanya tidak jelas, tetapi itu justru membuat saya bersemangat untuk membuat masakan dengan rasa yang lebih enak lagi, saya tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya saya kalau suami mencela masakan saya. Seperti yang dikatakan teman saya tadi, bisa jadi pasangan GR setelah dipuji, tetapi saya yakin tidak ada orang yang tidak senang ketika dipuji, dan bukankah Islam pun menganjurkan dalam rumah tangga untuk saling menyenangkan satu sama lain. Bahkan Rasulullah pun sering menghargai dan menyenangkan hati istri-istrinya dengan pujian. Begitu banyak pahala yang bertaburan dalam suatu rumah tangga, dan memuji pasangan merupakan salah satu pahala yang bertaburan itu, tinggal bagaimana kita apakah mau meraihnya atau tidak. So…kenapa masih pelit memuji pasangan?

4 Komentar »

di detik-detik menjelang akhir lajang………

Rating:
Category: Other

…..DI DETIK DETIK MENJELANG AKHIR LAJANG……..

Hari hari kian merayap pada satu titik, jam berganti, menit menit saling berkejaran hingga terhitung detik demi detik. Adalah salah satu karakteristik waktu yang sedemikian cepatnya beranjak, menyisakan kenangan dan menorehkan beragam takdir kehidupan. Saya tidak sedang menghitung hari, tetapi saya sedang meresapi waktu yang bergeser menjelang akhir masa lajang saya. Saya resapi dalam-dalam untuk memaknai dengan lekat setiap detik yang berpindah ke detik selanjutnya. Saya tak kuasa menahan lajunya waktu, untuk sebentar saja memberikan saya kesempatan menikmati sedikit lagi masa lajang saya.
Bukan…..….bukannya saya tidak bahagia dengan kado sebuah pernikahan yang Allah anugerahkan pada saya. Ini adalah kado terindah dalam hidup saya. Saya hanya sedang membuat ‘pesta kecil’ dalam benak saya untuk pergantian status ini. Hmmm……Status lajang menjadi seorang istri (ciee..). Menghadirkan kembali penggalan kisah kehidupan saya sebelum melangkah ke sebuah gerbang bernama rumah tangga, mengambil sebanyak banyaknya hikmah dari semua kejadian yang berhasil saya lewati. Tidak pernah menyangka akhirnya saya bisa melewati masa masa yang sulit, ujian terhadap kesabaran dan keistiqomahan saya. Sungguh janji Allah itu sudah pasti kebenarannya. Betapapun perihnya saat berbagai ujian itu datang silih berganti, semuanya telah terlewati, dengan izin Allah.
Sekian tahun menjadi lajang, cukupkah mendewasakan saya? Ternyata tidak, proses pendewasaan itu akan terus berlanjut, apapun status saya. Karena kehidupan hakakekatnya adalah proses pembelajaran, supaya saya bisa survive menghadapi apapun. Hanya saja, pengalaman hidup ketika lajang, saya harap bisa dijadikan sebagai bagian dari proses itu. Saya sadar, kehidupan saat lajang pasti akan sangat berbeda dengan kehidupan ketika berumah tangga. Kewajiban dan tanggung jawab akan bertambah, ujian pun akan sangat berbeda. Dan perahu yang saya kayuh pun kini punya seorang nahkoda, seorang partner dakwah yang mendampingi hari-hari saya selanjutnya. Bersama menghadapi badai dan gelombang yang sewaktu waktu akan menghampiri pelayaran ini.
Ketika saya sudah melewati ujian-ujian ketika lajang, bukan berarti saya bisa berteriak bebaaaaas, justru dalam sebuah pernikahanlah medan ujian sesungguhnya bagi kedewasaan saya dalam menghadapi berbagai masalah.
Menikah bukanlah prestasi, bukan juga saatnya untuk berbangga diri atau sekedar terjebak dalam romantisme sepasang manusia yang terbungkus indahnya mitsaqon gholizho. Saya sadar saya sedang menggerakan kaki saya untuk melangkah di sebuah “dunia lain”. Dunia penuh warna yang sebagian warna-warnanya tidak saya jumpai ketika saya masih lajang. Kini saya sedang berada di depan gerbangnya, saya kuatkan pijakan kaki saya dan berusaha menopang kokoh dagu saya untuk tidak menoleh ke belakang. Saya hanya ingin menatap lurus ke depan, biarlah jejak-jejak langkah yang pernah saya toreh di masa lajang tetap berada di belakang saya. Saya hanya ingin mengambil beberapa serpihan hikmah untuk saya jadikan bekal dalam memasuki dunia baru ini.
Detik-detik ini akan segera berlalu, dan detik detik selanjutnya akan saya temui. Lajang atau menikah bukan ukuran terhadap kualitas diri. Saya tetap harus terus, terus dan terus memperbaiki diri, karena Allah tidak pernah melihat seseorang dari status, DIA hanya melihat ketakwaan saya padaNYA. DIAlah yang akan menyaksikan apakah pernikahan ini akan membuat saya semakin dekat denganNya atau justru menjauh dariNya.
Di detik-detik terakhir menjelang akhir lajang ini, saya merasakan sepenuh cinta yang Allah berikan kepada saya dan kehidupan saya. Meski sadar ibadah seumur hidup pun tak kan mampu membalas cintaNya, tapi saya ingin memberikan cinta terbaik yang saya miliki untuk NYA dan untuk orang-orang yang mencintaiNYA dengan sepenuh hati. Selamat tinggal dunia lajang, insya Allah saya siap menyambutmu wahai dunia baru.

Mampang, 11.01.06-23.15 wib
Bersiap menjemput sesuatu yang Allah janjikan………
Hanifa Sy

Tinggalkan komentar »

%d blogger menyukai ini: