Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

1 Syawal 1438 H

1498392059437

_Kami sekeluarga mengucapkan ;_

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H

Taqabalallahu Minna wa Minkum
Shiyamana Washiyamakum

Semoga Amal Ibadah kita di bulan Ramadhan ini mendapatkan RIDHA Allah Subhana wa ta’ala dan dosa-dosa kita diampuni-NYA

Aamiin Ya Robbal Aalamiin

Rina & Keluarga

Tinggalkan komentar »

Fotografi dengan Smartphone

fotografi dengan smartphone

Sejak malas buka Facebook karena banyak huru hara, saya malah jadi rajin mengunjungi Instagram. Awalnya banyak follow selebgram yang sering mendekor rumah dengan cara DIY. Saya yang senang banget dengan dekorasi rumah dan kerajinan tangan jadi makin betah di IG. Mulai deh coba bebenah rumah dan membuat printilannya dari barang-barang bekas.

Waaaah foto hasil DIY nya selebgram cakep cakep banget. Setelah tertarik dengan DIY nya sekarang malah tertarik bagaimana bisa foto sebagus itu. *emakemaklabil.

Berhubung saya enggak punya kamera canggih yang harganya bisa bikin kepala nyut nyutan dan cuma punya kamera hp, jadi saya maksimalkan apa yang saya punya. Mulailah atas nama penasaran hampir tiap hari saya ngubek ngubek google untuk cari tau bagaimana teknik foto yang baik, terutama foto dengan menggunakan smartphone. Cusss langsung praktekin foto apa saja yang ada di rumah.

Dengan pede tingkat kecamatan saya upload hasil cekrak cekrek di IG. Eeh kok banyak yang DM bilang foto saya bagus. Malah ada yang minta diajarin segala. Hahaha gimana mau ngajarin lha ini aja engga tau benar apa salah. Pokoknya prinsipnya foto enak dilihat sama mata saya, entahlah mata orang lain.

Untuk lebih meyakinkan bahwa teknik foto menggunakan smartphone ini benar atau tidak, saya ikutan workshopnya mba Arriana, salah satu selebgram yang IG nya selalu saya kepoin. Beliau ini enggak pelit berbagi ilmu, kadang sering share behind the scene foto-fotonya dan yang paling senang kebanyakan fotonya pakai smartphone juga seperti saya.

Workshop diadakan di resto Kayu Tjokelat Bekasi. Pesertanya engga banyak, kalau buat saya sih senang aja peserta sedikit karena engga terlalu ramai. Saat saya datang, mba Arriana sudah datang juga dengan perlengkapan foto yang kumplit dan membawa dua jagoannya. Senangnya ketemu selebgram yang selama ini cuma lihat di IG. Beliau ini orangnya seru, ramah dan sabar. Saya yang memang penasaran dengan dunia fotografi ini bawel banget tanya-tanya terus tapi dijawabnya dengan lugas.

Ini dia beberapa hal yang saya rangkum saat workshop kemarin :

1. Faktor utama dari fotografi adalah pencahayaan. Semakin baik cahayanya, makin baik hasil fotonya. Cahaya yang paling bagus itu adalah cahaya alami dari matahari. Usahakan kalau foto di samping jendela, dekat pintu atau teras antara jam 8 sampai jam 11 siang. Jangan foto jam 12 siang karena cahaya terlalu keras dan banyak bayangan. Gunakan reflektor untuk memantulkan cahaya supaya lebih merata. Bisa menggunakan kaca, stereofoam, atau aluminium oil yang diletakkan berseberangan dengan sumber cahaya. Boleh foto di dalam ruangan asal menggunakan lampu sorot atau lampu meja yang langsung menyinari objek dengan bantuan difuser supaya jatuhnya cahaya lebih merata. Buat tukang foto amatiran kaya saya sih lebih senang pakai cahaya alami, engga ribet. *emakantiribet.

2. Jangan menggunakan zoom ya, kalau mau lebih detail obyeknya dekatkan saja kameranya. Fungsi zoom pada kamera hp akan menurunkan resolusi foto dan membuat foto jadi tidak tajam.

3. Saat akan foto produk atau obyek apapun kita harus menentukan tema dan siapkan properti sesuai tema. Misal mau foto bros, maka propertinya bisa jilbab, baju dll yang berhubungan dengan bros. Jangan tiba tiba ada palu di dekat bros kan engga ada hubungannya. Usahakan foto yang akan ditampilkan itu menceritakan sesuatu.

4. Tentukan angle yang akan digunakan. Misal untuk foto breakfast atau story telling sebaiknya pakai angle flat lay, foto diambil dari atas. Untuk foto makanan yang banyak topingnya seperti pizza, bisa diambil dari atas untuk memperlihatkan detail pizza. Tapi kalau foto botol atau benda yang tinggi atau digantung sebaiknya menggunakan eye level atau yang sejajar dengan mata. Bisa juga menggunakan angle 30 derajat untuk mengambil foto makanan, bros, jepit dll.

5. Background foto juga sebaiknya tidak terlalu ramai dan warnanya tidak bertabrakan dengan obyek foto. Warna yang paling aman itu hitam atau putih bisa juga menggunakan motif kayu dengan warna yang natural.

6. Setelah cekrak cekrek foto kita percantik dengan proses editing. Foto yang siap diedit itu adalah foto yang memang sudah bagus karena teknisnya sudah benar. Jadi bukan foto amburadul yang disulap menjadi foto yang keren. Kalau cara pengambilan fotonya sudah tidak bagus kemungkinan juga akan sulit diedit karena hasilnya tetap jelek. Aplikasi edit foto untuk android banyak tersedia di play store tinggal pilih mana yang paling mudah. Saya pernah membahasnya disini. Tidak perlu menggunakan semua fitur yang ada di aplikasi foto, cukup gunakan brightness, contras dan saturation. Tapi jangan berlebihan juga karena hasilnya malah jadi aneh. Jangan lupa diberi watermark ya fotonya. Biarin deh diledekin, halaaah foto jelek aja pake dikasih nama, ga ada yang nyuri dah fotonya…. Gpp pede aja dikasih nama supaya kita menghargai hasil karya kita sendiri.

Nah… Enggak ribet kan foto foto pakai hp? Semakin sering berlatih semakin lihai kita menyusun style, mengatur cahaya dan makin pede untuk upload di sosmed. Untuk yang foto produknya buat jualan juga jadi makin laris jualannya karena fotonya keren dan pembeli jadi tertarik. Bisa juga untuk latihan foto, kita ikutan akun fotografi di IG yang setiap hari meminta kita foto dengan tema tertentu. Sekalian belajar foto juga dari para senior yang hasil fotonya cetttaaaar.

Selamat cekrak cekrek yaaah.

2 Komentar »

Dua Hari Keliling Bandung

Sebenarnya rencana ke Bandung ini terbilang dadakan. Saya ngobrol sama suami kepengen banget piknik, tujuannya ke Bandung pun asal nyebut aja karena pertimbangannya tidak terlalu jauh dari Bekasi dan biayanya murah meriah. Saat disampaikan ke adik, eeeh pas banget dia juga punya rencana ke Bandung tapi belum ditentukan waktunya. Klooop dech….

Saya langsung cari villa via mbah google karena rencananya mau menginap satu malam di daerah Lembang. Salah satu tempat yang akan dikunjungi adalah The Lodge Maribaya, makanya cari Villa di sekitar situ supaya lebih dekat. Tujuan pertama dari Bekasi ke Farm House baru setelah itu menuju Villa karena anak-anak dan keponakan menagih berenang. Paginya ke Maribaya dan langsung cuuuus ngubek ngubek kota Bandung. Begitu rencananya.

Pagi sekitar jam 7 pagi kami sudah menuju Bandung. Rombongan lenong terdiri dari satu lansia, 5 dewasa dan 5 anak-anak. Rameeeeee dan seru, termasuk ada rebutan tempat duduk, rebutan makanan dll. Sebenarnya saya agak khawatir akan macet panjang karena kami pergi di saat libur Nasional, tapi alhamdulillah mulai masuk Tol Cikampek sampai keluar tol Pasteur lancar jaya. Hanya sedikit tersendat saat akan memasuki Farm House. Sebelum pergi saya dan suami sudah mencari sebanyak banyaknya informasi mengenai jalanan dan tempat-tempat yang akan dikunjungi. Dibantu juga sama mbak GPS yang sabar ngasih tau kita jalan.

Sampai Farm House saya kira kami orang pertama  karena masih jam 8.30 sudah sampai sana. Ternyata  rameeeeee, meskipun parkiran mobilnya masih tidak terlalu padat. Bayar tiketnya saat kami masih di dalam mobil, dan tiketnya bisa ditukar susu. Tempatnya asyik banget, instagramable, dan banyak bangunan yang unik. Tapi harus ekstra mengawasi anak-anak karena lima bocah ini seperti lepas dari kandang. Pengunjungnya banyak tapi tidak sebanyak saat weekend sepertinya, jadi masih bisa lah foto-foto tanpa banyak figuran. 🙂

Ini dia beberapa fotonya

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setelah puas di Farm House, kami menuju villa mengikuti rute yang sudah diberikan oleh pemilik villa. Lokasinya tidak jauh dari Farm House tapi  lumayan macet, ternyata sepanjang perjalanan menuju villa banyak tempat wisata, seperti De Ranch, Taman bunga, air terjun, resort dll. Jalanannya juga curam, berlubang dan melewati hutan. Sebelah kiri tebing dan kanannya jurang. Kami bertemu dengan sekelompok kera hutan yang bergelayutan di pohon-pohon pinggir jalan.

Sampai villa anak-anak langsung berenang sedangkan para orang tua makan siang. Setelah mandi dan sholat ashar, adik saya usul daripada bengong di vila, mendingan kita jalan-jalan wisata kuliner. Awalnya mama saya tidak setuju karena takut kalau harus melewati hutan tadi. Tapi kalah suara sama anak-anak dan cucunya, jadilah cuuus kita menuju kota Lembang untuk cari makanan.

Sebelum Isya kami sudah sampai lagi di vila dan istirahat karena besok pagi mau ke The Lodge Maribaya. Malam di Lembang tidak terlalu dingin tapi menjelang pagi semua berebut mencari selimut. Brrrrr,……. dingiiiin, saat matahari sudah muncul kami baru berani keluar vila dan jalan-jalan keliling desa. Subhanallah, kebun sayur memanjakan mata, hijau dan segar-segar.  Setelah antri mandi dan drama-drama kecil dengan anak-anak akhirnya kami berangkat menuju The Lodge Maribaya, sekitar 10 menit dari vila.

Sampai sana jam 8 dan pengunjung sudah ramai tapi loket penjualan karcis masuk baru buka jam 9. Jadi kami menunggu sambil foto-foto saja. Satu dua keponakan sudah mulai rewel dan saya pun jadi galau. Kalau melihat di google sih sebenarnya wahana di tempat wisata ini lebih  mengarah untuk dewasa, tidak recomended buat anak-anak. Waktu menunggu masih satu jam dan belum lagi antrian untuk wahananya. Berhubung ke tempat ini adalah ide saya akhirnya dengan lapang dada saya putuskan,  batal!!. Kecewa sih tapi saya engga boleh egois lah karena perginya kan rombongan.  Suami menghibur,  nanti kita ke sini lagi kalau anak-anak sudah besar yaaah. Hmmmmm…

IMG-20170404-WA0068IMG-20170404-WA0055

Kami langsung menuju ke kota Bandung lewat Dago yang jalanannya menurun dan curam. Tapi ternyata dekat saja karena tidak lama sudah masuk ke kota Bandung. Tujuan pertama alun-alun yang nge hits itu.  Tapi saat lewat kantor walikota,  anak-anak minta mampir gara gara Kanaya bilang,  iih ada ayunannya,  yang mana ternyata itu hanya halusinasinya dia aja.  Wkwkwk. Ketemu bis bandros di tempat itu tapi dapat informasi bis wisata itu tidak digunakan umum karena akan dipakai untuk tamu.  Yaaah…

Foto-foto sebentar di Taman Badak kami langsung menuju alun-alun dan sempat muter-muter cari tempat parkir yang ternyata ada di basement. Akhirnyaaa bisa nyelonjor juga di sini. Pengunjung tidak terlalu ramai tapi menurut info penjual bola,  kalau weekend padat pengunjung. Sebenarnya mau sekalian sholat Zuhur di mesjid alun alun tapi semua bilang lapaaaaar dan jam masih menunjukkan 11.00. Bingung mau cari makanan di mana akhirnya malah memutuskan sekalian aja ke Cihampelas karena keponakan mau beli kaos. Waaah keren banget Cihampelas sekarang karena penjualnya diberikan tempat di atas jalanan seperti fly over gitu dengan kondisi yang nyaman lengkap fasilitasnya ada toilet dan mushola juga.

Selesai makan,  sholat, belanja belinji dan beli oleh-oleh kami masuk lagi ke mobil. Di dalam mobil diskusi lagi mau ke mana,  mama saya sebagai ibu suri minta ke taman yang banyak jajanannya. Tapi anak-anak minta naik bis bandros yang ternyata bisa naik di daerah dekat gedung sate.  Saya lupa apa yah itu namanya.

Saat menuju ke sana tidak sengaja melewati taman Lansia.  Waaaah pas banget ini buat mama saya,  kami ngadem di taman yang rindang ini sambil makan bakso cuanki. Selesai istirahat, keponakan menagih janji naik bis bandros. Setelah tanya-tanya dengan tukang parkir akhirnya kami menuju lokasi sesuai petunjuk. Melewati beberapa taman yang teduh dan asri serta jalanan yang tidak ramai akhirnya ketemu taman yang ada dua robot di depannya. Anak-anak langsung antusias pengen turun, tapi kami hanya izinkan melihat dari dalam mobil karena khawatirnya akan lebih lama lagi. Ternyata di tempat itulah biasanya kita bisa naik bis bandros tapi setelah celingak celinguk kebingungan tidak ada satupun bandros yang nampak. Sementara langit mulai gelap dan sepertinya akan hujan lebat, terbayang kalau naik bis yang terbuka seperti itu kami akan basah kuyup kehujanan. Akhirnya pencarian bandros dibatalkan. Huuuuuuuu….. penonton anak-anak kecewa.

Bingung juga setelah ini mau kemana karena hari mulai sore dan mendung gelap tapi anak-anak menolak untuk pulang. Negosiasi alot di dalam mobil dan akhirnya keputusannya kita cari jalan menuju tol alias pulang. Jalanan sudah mulai macet dan gerimis mulai turun. Mampir dulu sebentar di tempat oleh-oleh karena saya mau beli klapper tart dan batagor.

Alhamdulillah perjalanan pulang lancar jaya hanya sedikit tersendat saat masuk tol Cikarang. Lelah sangat, apalagi saya dan suami bergantian memangku Kaysan yang sedang aktif aktifnya. Tapi senaaaaaang bisa jalan-jalan dadakan seperti ini. Ada yang nyeletuk, belum puas yah ke Bandungnya, kapan-kapan mau dong diajak lagi ke sana. Eeeeaaa….

4 Komentar »

DIY : Membuat Nomor Rumah dari Talenan

1490595786443

Sejak dunia pertalenan kayu wara wiri di Instagram, saya sudah gemeeeees kepengen ikutan bikin ini bikin itu. Apalagi pas lihat di pinterest, talenan kayu dijadikan hiasan dinding yang menarik. Banyak OLS di instagram menjual talenan kayu yang sudah dihias, tapi harganya enggak murah menurut kantong saya. Prinsip emak irit, kalau bisa bikin kenapa harus beli? *kekepindompet
Lalu muncul ide membuat papan no rumah dari talenan kayu, dengan teknik decoupage. Ini pertama kalinya saya membuat decoupage, sok pede banget sih sebenarnya, belajarnya cuma modal youtube aja. Beda banget dengan beberapa teman yang sampai ikut kursus decoupage. Saya mah nekat aja bikin sendiri.
Ternyata menyenangkan sekali lho membuat no rumah dari talenan kayu dengan teknik decoupage. Memacu adrenalin juga karena membuatnya sambil momong dua krucil yang berebutan kuas cat. Tkpnya di teras rumah, pas lagi mengeringkan cat, tetiba hujan turun dengan deras dan heboh sendiri menyelamatkan semua peralatan.

Berikut ini step by stepnya

Bahan dan alat yang dibutuhkan :
Cat akrilik
Lem
Vernish
Kuas (untuk cat, lem dan vernis)
Amplas
Tissu bermotif
Papan atau talenan kayu
Kayu atau kardus untuk no rumahnya. Seharusnya pakai kayu tapi saya tidak punya alat untuk membentuk angka dan huruf jadi saya coba pakai kardus dan dipilox hitam.

1490593205720

Cara membuat
Bersihkan dan haluskan talenan kayu kemudian di cat lalu keringkan. Ulangi dua kali supaya hasilnya lebih bagus.

1490593992693

Gunting tisu sesuai motif yang diinginkan kemudian tempel dengan lem. Lakukan dengan hati hati karena tisu gampang berkerut. Setelah kering oleskan lem di atas permukaan tisu yang sudah ditempel. Keringkan lagi.

Vernis permukaan tisu dengan menggunakan kuas dan keringkan.

1490594684189

Lalu pasang no rumah

1490594994777

Tarrraaaaaaa…… Jadi deh. Hasil yang saya buat masih jauuuh dari sempurna, karena kurang fokus sambil mengawasi anak-anak. Tapi alhamdulillah saya senang dan puas. Hasil bukan yang utama yang penting dibuat dengan bahagia eeaaaaa….

Yuuuk coba juga membuat decoupage
..

10 Komentar »

Usia 40 Tahun

Usia 40 tahun

Saya mendapatkan tulisan ini via grup di WA tanpa diketahui siapa penulisnya. Mohon apabila ada yang merasa menuliskannya atau mengetahui siapa penulisnya,  dapat diinfokan di kolom komentar.  Saya copas di blog ini sebagai pengingat diri juga penyemangat untuk tidak lengah dalam memperbaiki diri dan semoga bermanfaat juga untuk yang lainnya.

Selamat merenung wahai diri……  🙂

Tadzkiroh pagi..
◾ *BILA USIA TELAH SAMPAI 40 TAHUN* ◾

Allah Ta’ala berfirman :

حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“…Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya sampai 40 tahun, ia berdoa : “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan agar aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridhai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir terus sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertaubat kepada-Mu dan sungguh aku termasuk orang muslim” (QS. Al-Ahqaf [46] : 15).

Bila Usia 40 Tahun, maka manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosi, maupun spiritualnya. Ia telah meninggalkan masa mudanya dan melangkah ke masa dewasa yang sebenar-benarnya…

Bila Usia 40 Tahun, maka hendaknya manusia memperbarui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian, semakin meneguhkan tujuan hidup, menjadikan uban sebagai peringatan dan semakin memperbanyak syukur…

Bila Usia 40 Tahun, maka meningkatnya minat seseorang terhadap agama, sedangkan semasa mudanya jauh sekali dengan agama. Banyak yang mulai menutup aurat dan mengikuti kajian-kajian agama. Jika ada orang yang telah mencapai usia ini, namun belum ada juga minatnya terhadap agama, maka bisa jadi pertanda yang buruk dari kesudahan umurnya di dunia…

Bila Usia 40 Tahun, maka tidak lagi banyak memikirkan “masa depan” keduniaan, mengejar karir dan kekayaan. Tetapi sudah jauh berpikir tentang nasibnya kelak di akhirat…

Bila Usia 40 Tahun, jika masih gemar melakukan dosa dan maksiat, mungkin meninggalkan shalat, berzina dll, maka akan lebih sulit baginya untuk berhenti dari kebiasaan tersebut…

Bila Usia 40 Tahun, maka perbaikilah apa-apa yang telah lewat dan manfaatkanlah dengan baik hari-hari yang tersisa dari umur yang ada, sebelum ruh sampai di tenggorokan. Ingatlah menyesal kemudian tiada guna…

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak bagus dan tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke Neraka”

Imam Malik rahimahullah berkata :

“Aku dapati para ahli ilmu di negeri kami mencari dunia dan berbaur dengan manusia hingga datang kepada mereka usia 40 tahun. Jika telah datang usia tersebut kepada mereka, mereka pun meninggalkan manusia (yaitu lebih banyak konsentrasi untuk meningkatkan ibadah dan ilmu)” (At-Tadzkiroh hal 149).

Imam asy-Syafi’i rahimahullah tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, maka beliau menjawab :

“Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk-pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah”

Abdullah bin Dawud rahimahullah berkata :

“Kaum salaf, apabila diantara mereka ada yang sudah berumur 40 tahun, ia mulai melipat kasur, yakni tidak akan tidur lagi sepanjang malam, selalu melakukan shalat, bertasbih dan beristighfar. Lalu mengejar segala ketertinggalan pada usia sebelumnya dengan amal-amal di hari sesudahnya” (Ihya Ulumiddin IV/410).

Wahai Saudaraku, bagaimanakah dengan dirimu ?

  • 15 Maret 2017
5 Komentar »

DIY : Membuat Pajangan Dinding dari Stik Es Krim

diy pajangan dinding stik es krim

Saya suka ber DIY dengan bahan-bahan yang sederhana dan low budget, misalnya memanfaatkan barang bekas yang ada di sekitar. Sebenarnya hal ini dulu sering saya lakukan sebelum ada krucils, jadi semacam hobi lama bersemi kembali gitu lah. :))

Saya akan dokumentasikan bebikinan ini di blog, jadi mulai rutin minimal dalam sebulan sekali posting tentang DIY. Semoga istiqomah ya kakaaaa…. Secara emak labil sok rempong suka moody pulak.

Kali ini saya membuat pajangan dinding dari stik es krim. Bahannya mudah murah meriah muntah. Stik es krimnya saya beli di toko alat tulis seharga 5000 dapet segambreng. Jadi bukan stik es krim yang anak kita makan trus dikumpulin yaaah. Etapi kalau ada yang rajin ngumpulin boleh juga sih, biasanya stik es krim yang asli lebih tebal, halus dan kuat. Ya tapi sabar yak kalau mau pakai cara ini, kecuali beli es krim segerobak dan undang warga se RT buat makan es krim bareng habis itu kumpulin deh stiknya. LoL.

Untuk perekatnya banyak yang pakai lem tembak, tapi saya lebih senang pakai lem fox karena menurut saya lebih kuat. Sejak zaman dahulu kala selalu pakai lem fox untuk DIY, gak pernah pakai yang lain. *kok kedengerannya kaya iklan yah.   Ada beberapa teman yang bilang saat membuat DIY dari stik es krim ini banyak yang lepas stiknya saat di pajang di dinding karena pakai lem tembak, tapi ada juga yang tetap kokoh. Terserah sih cocoknya pakai lem yang mana.

photo_2017-02-22_09-43-53

Nah, bagian menempel ini memang harus agak telaten yah supaya hasilnya rapih dan kuat kalau diletakkan barang lain. Untuk bentuknya bisa bermacam-macam tapi yang lagi ngehits di IG itu bentuk hexagonal, segitiga atau model teepee. Bisa dilihat di IG dengan #uploaddiy atau #bebikinan. Boleh juga follow IG saya @rinabundakanaya. *gaadahubungannya *Iklanterselubung. LoL

Setelah selesai tinggal di semprot dengan pylox atau langsung di cat. Kalau ingin warnanya natural boleh juga kok tidak di cat, supaya vintagenya lebih keliatan gitu. Kalau hasilnya inign ada warnanya tapi malas pakai pylox atau cat bisa beli stik es krim yang berwarna. Saya lihat di Gramedia banyak dijual stik es krim dengan warna warni cerah.

photo_2017-02-22_10-10-20

Taraaa… jadilah pajangan dinding ala-ala ini. Mudah banget bikinnya, tapi yang punya anak balita sebaiknya dikerjakan saat anak tidur yah, supaya lebih cepat kelar, kecuali memang mau membuatnya bersama-sama.

Lumayan membuat DIY ini butuh kesabaran dan ketelatenan hitung-hitung latihan untuk sabar menghadapi kerasnya hidup ini, eeaaaaa……

 

 

 

 

 

 

 

11 Komentar »

Dandan? Ogah ah !

Saya enggak suka dandan dari dulu hingga sekarang. Suami juga tidak pernah mempermasalahkan. Pernah coba pakai lipstik di depan suami malah diketawain, enggak usah dandan macam-macam lah katanya. Padahal cuma pakai lipstik doang dengan warna natural. Alhamdulillah, saya sih senang saja karena memang pada dasarnya tidak suka wajahnya di make up. Kalau keluar rumah juga cuma pakai bedak tipis atau malah pakai pelembab saja, selesai.

Awal masuk rohis di kampus dan ikut kajian yang membahas tentang berdandan keluar rumah, makin bersoraklah saya. Yeaaaaay ……. ternyata ketidaksukaan saya pada poles poles wajah itu dilegalkan oleh Al Quran. Saya selalu punya alasan yang tepat kalau mama tanya, kok kamu enggak pakai lipstik? Kok dandannya cuma begitu doang?. Dulu sebelum tahu bahwa dandan berlebihan di luar rumah itu dilarang oleh Allah, saya selalu bingung bagaimana menjawabnya karena jawaban saya enggak suka dandan selalu dibantah lagi dengan pernyataan, kamu kan perempuan, enggak pantes kalau enggak berdandan. Errrr….

Sewaktu sekolah, hari yang paling menyiksa adalah saat hari Kartini. Siswinya wajib pakai kebaya dan wajah di make up. Saya sampai stres karena dipaksa mama berdandan seperti teman-teman lainnya. Disuruh pakai kebaya saja saya sudah pusing eh ini ketambahan disuruh berdandan pula. Beruntung tetangga sebelah rumah, pernah kerja di salon dan tahu banget saya enggak suka dengan dandanan yang menor. Akhirnya demi memuaskan mama, saya mau didandani asalkan dilakukan oleh tetangga saya itu. Beliau pintar sekali membuat wajah saya tetap natural tidak terlihat tebal riasannya. Sampai sekolah malah saya dianggap aneh oleh teman-teman karena dandanannya beda sendiri. Bodo amat lah….

Masalah muncul lagi saat saya menikah dan mengadakan resepsi pernikahan di rumah. Saya menghadapi banyak orang terutama dari pihak keluarga besar yang protes saat saya menolak didandani. Lagi-lagi tetangga saya ini penyelamatnya. Meskipun kata orang dandanannya sederhana sekali tapi lumayanlah yang penting buat saya tidak mencolok. Itupun rasanya kepingin cepat-cepat acara selesai, supaya bisa cuci muka.

Setelah menikah di Bekasi tempat orangtua saya, resepsi diadakan lagi di Palembang tempat orang tua suami. Disinilah masalah muncul lagi. Ternyata meskipun pesta diadakan di rumah, saya harus berdandan dengan adat Palembang. Semua sudah dipesan satu paket untuk pernikahan termasuk juga periasnya. Waduuuuh…… saya benar-benar terpojok, tapi tetap cerewet menolak ini itu. Si ibu baru memoleskan bedak, saya sudah bilang, jangan tebal-tebal ya bu, saya tidak mau alisnya dicukur, dll.

Suasana mulai memanas saat ibu perias ingin memasangkan bulu mata palsu. Saya menolak, tapi dia tetap ngotot. Akhirnya saya minta dipanggilkan suami dan bilang bahwa suami saya yang melarang saya memakai bulu mata palsu. Suami bengong karena bingung engga tau masalahnya. Dengan kode colek-colek tangannya saya minta dia mengangguk saja untuk menyetujui. Si Ibu mengalah dengan wajah cemberut.

Tidak pakai bulu mata palsu, alis tidak dikerok mungkin merupakan musibah bagi perias karena hasilnya menurut dia tidak maksimal. Tapi bagi saya ini sudah luar biasa, seumur hidup baru kali ini saya didandani semenor ini, sampai saya tidak mengenali diri saya sendiri karena kok jadi cantik begini.*kemudian dikeplak orang satu kampung.

Buat pengantin lain, berdiri di atas panggung seperti raja dan ratu sehari pasti membahagiakan tapi buat saya, yang paling membahagiakan adalah saat acara usai, bisa cuci muka dan saya bisa makan pempek.

Hahahaha, remeh temeh kebahagiaan saya mah.

6 Komentar »

DIY Storage Paper

DIY storage paper ini pasti sudah banyak yang tau yah, secara wara wiri terus di dunia per DIY an di Instagram. Awalnya sih bukan dari kertas tapi dari kain yang tebal gitu dengan gambar yang lucu-lucu tapi karena harganya yang mihiiil buat sebagian orang (termasuk saiah ) jadi dibuatlah versi kertasnya. Kalau bisa bikin kenapa harus beli, yekaaaan #prinsipemakirit. Engga tahu awal mulanya ide dari mana akhirnya banyak yang membuat DIY ini dan saling menginspirasi teman-teman yang lainnya.

Buat saya, storage seperti ini sangat diperlukan untuk menampung printilan krucils yang tersebar di penjuru rumah. Kalau beberes gampang deh tinggal cemplung cemplung aja masukin. Segampang saat mainan mau dipakai lagi sama anak-anak, tinggal di tunggingin storagenya, keluar semua mainannya.. horeeeeee.. rumah berantakan lagi.

Ini bikinnya gampiiil banget, tapi sayang saya lupa foto step by stepnya. Intinya kertasnya harus tebal supaya tidak mudah sobek. Saya pakai kertas kalender yang sudah tidak terpakai. Tapi bisa juga dikreasikan dengan bahan-bahan yang lain.

Ini dia bahan dan cara membuatnya :

Bahan :

Kertas tebal/kertas kalender warna putih

Kertas coklat

Lem/double tip

Spidol

Cara membuat

Kertas warna putih ditumpuk dengan kertas coklat ( posisi kertas putih di bawah) kemudian lipat keluar ke arah kertas putih sebanyak dua atau tiga kali. Satukan dua sisi kertas membentuk bulatan. Di bagian bawah lipat dengan menyatukan kedua sisi kemudian bentuk seperti membungkus kado. Buat motif di kertas putih sesuka hati. Taraaaa…. storage paper sudah jadi.

Enggak bingung kan ? Kalau agak bingung, beli gorengan yang di gerobak dorong atau yang dipikul itu trus kertas gorengannya itu bisa jadi contoh, karena sama persis bikinnya, hanya bedanya di bagian atasnya di double dengan kertas coklat.

Selamat beli gorengan… eh selamat ber DIY yaaa…

4 Komentar »

Upgrade SIM Card

Ganti HP nih ceritanya, jadi sim card pun harus di upgrade ke 4G supaya sesuai dengan Hpnya. (haree genee baru upgrade sim card ????) Tapi rasanya kok malleeeeees ya ke grapari, mikirnya bakalan antri panjang dan ribet prosedurnya. Apalagi ini harus ke dua grapari, Indosat dan 3. Sebenarnya bisa sih engga perlu ke grapari kalau cuma mau upgrade ke 4G tapi masalahnya kartu udah jelek banget karena dulu pernah di cutter dan mepet banget ke chipnya jadi tetap harus ganti fisiknya juga.

Sebelum ke grapari tanya-tanya dulu di mbah Google. Terutama cari tau dimana lokasinya di Bekasi. Kalau grapari Indosat sudah tau ada di Metropolitan Mall, dulu pernah juga ke sana dan agak trauma sama antriannya yang panjang. Tinggal grapari 3 yang masih belum jelas, ada yang bilang di Rawalumbu, di Hypermall dan ada juga yang kasih info di ruko Jalan Ahmad Yani. Ruko sebelah mana enggak dijelaskan, padahal sepanjang jalan Ahmad Yani itu ruko semua.

Pak suami yang tau istrinya sering bingung inisiatif mengantarkan mencari lokasi kantor 3. Yaaak daripada daripada istrinya hilang diculik nyasar yang ujung-ujungnya pasti pak suami juga yang dihubungi mendingan sekalian antar.

Dugaan awal grapari 3 ada di ruko di depan RS Mitra keluarga Bekasi Timur karena disitu rukonya paling ramai. Sebelum masuk ke area ruko tanya dulu sama tukang parkir apa benar di dalam komplek ruko ini ada kantor 3, dia bilang engga ada, tapi kalau enggak salah ada di ruko sebelahnya lagi. Cuuuuus nyari ke komplek ruko sebelahnya dan celingak celinguk sebentar karena banyak ruko baru yang masih kosong. Tidak ada tanda-tanda ada grapari 3 disitu. Akhirnya tanya sama Satpam dan dia dengan santainya nunjukin gedung dibelakangnya yang dindingnya dijadikan tempat dia sandaran sambil merokok. Oalaaa, pantesan enggak kelihatan disitu ada grapari 3, karena tulisannya kecil dan nempel di pintu saja.

photo_2017-01-27_09-42-31

Saat masuk, pengunjungnya sepi hanya ada dua orang saja. Tidak berapa lama saya dipersilahkan duduk di depan CS nya dan ditanya keperluannya. Dia hanya tanya nomor sim card saya dan ngetik ngetik di lap top, ngeluarin kartu yang baru dan memasukannya ke HP saya. Taraaaaa, sim card yang baru sudah aktif. Hah? Begini doang. Alhamdulillah enggak ribet yah.

Selesai urusan di 3 saya langsung meluncur ke Indosat di Metropolitan Mall. Lokasinya persis di depan Mall jadi saya tidak perlu masuk Mall dan tergoda mampir-mampir *dompet aman. Baru masuk ruangan, pak Satpam langsung tanya keperluannya apa, setelah dijelaskan dia bilang langsung saja ke loket sebelah kiri tanpa ambil nomor antrian. Hah? Enggak pakai antri nih, bener nih ?.

photo_2017-01-27_09-42-22

Sama mas CSnya ditanya nomor IM3 dan KTP, dia ketak ketik sebentar trus bilang saya foto yah, cekrek… lhaaah belom sempat benerin jilbab, bedakan dan ganti kostum bikin kaget aja niy om nya. Mungkin ekspresi saya di foto aneh banget kali ya, lagi bengong kok difoto. Selesai di registrasi dia kasih sim card yang baru, tapi enggak dipasangin kaya di 3.Huhuhuhu *manjabener. Pesannya, nanti setelah satu jam ketik nama , alamat, no KTP dan kirim smsnya kesini yah, sambil ngasih tulisan di robekan kertas kecil. Saya ngangguk saja sambil bilang terima kasih.

Yeaaay ……tidak seperti dugaan saya , upgrade sim card itu ternyata gampil banget dan gak perlu antri panjang, tidak sampai satu jam dua urusan selesai.

Alhamdulillah…

3 Komentar »

Hanging Clouds

Pertama kali kenal sama kain flanel itu saat ngelihat alm papa membersihkan kacamatanya. Kainnya lembut dan agak berbulu gitu. Pernah beberapa kali melihat tumpukan kain flanel warna warni di pasar tradisional di tempat perlengkapan menjahit. Dijualnya per lembaran yang sudah dipotong kecil kecil dan ada juga yang per meter. Kepikir sih buat bikin apaan yah….

Ternyata, kain flanel banyak banget fungsinya, bisa buat bikin boneka, bantal dan kerajinan tangan lainnya. Apalagi di jagat Instagram lagi rame DIY membuat bantal aneka bentuk yang bahannya dari kain katun atau bisa juga dari flanel. Kepengen juga dong ikutan bikin, secara kalau beli lumayan juga sih harganya. Prinsip emak irit, kalau bisa bikin kenapa harus beli 🙂

Saya mau mencoba membuat hanging clouds dari kain flanel warna biru. Tetap ya pakai warna favorit. Tetesan airnya menggunakan flanel campuran warna biru tua. Iyak enggak kreatif banget pilihan warnanya. Suka aja gitu sama warna yang bikin hati adem ini.

Berhubung langkah-langkah pembuatannya lupa difoto jadi saya tuliskan saja yaa…

Alat dan bahan :

Kain flanel (ukuran disesuaikan dengan keinginan besarnya bentuk awan)

Drakon

Gunting

Jarum dan benang

Peniti besar dan paku pin (untuk menggantung)

Cara membuat :

Buat pola awan di atas kain flanel yang ditumpuk dua bagian . Gunting mengikuti pola sekaligus dua tumpukan. Kemudian jahit sekelilingnya tapi jangan ditutup semua untuk memasukan drakon. Setelah drakon dimasukan baru jahitan di tutup. Kemudian buat juga pola tetesan air di atas kain flanel dan ikuti langkah langkah seperti pembuatan awan. Setelah selesai susun tetesan air dan di jahit di bagian bawah awan.

Taraaaaaaa jadi deh hiasan awannya.

Untuk memasangnya saya menggunakan peniti besar di belakang awan kemudian digantung di paku pin. Tapi kalau teman-teman punya cara lain untuk menggantungnya silahkan saja dicoba.

Seperti ini penampakannya

photo_2017-01-18_14-48-23

Kanaya senang sekali saya buatkan hiasan awan ini . Kadang dia berdiri di bawah tetesan airnya dan bilang, buuun, aku kehujanan niiih…. sambil tertawa tawa

Bahagia itu sederhana kaaaan.

8 Komentar »