Sejak sebelum menikah aku selalu memimpikan punya rumah sendiri sebagai tempat tinggal. Apalagi setelah menikah, memiliki rumah menjadi prioritas utama. Meskipun di awal menikah tentu saja harus jadi kontraktor terlebih dahulu. (kontraktor maksudnya ngontrak rumah heheh). Aku dan suami mempunyai pemikiran yang sama, setelah acara pernikahan selesai, kami tidak akan lama tinggal di rumah orang tua dan sudah harus mulai berpikir akan tinggal di mana.
Saat sedang mencari rumah kontrakan, alhamdulillah ada teman suami yang menawarkan untuk sementara menempati rumahnya yang kosong di daerah Mustika Sari Bekasi. Kami tidak perlu membayar uang sewa, hanya membayar uang listrik dan iuran warga saja. Senaaaaang sampai koprol 7 kali, disaat membutuhkan , Allah menurunkan pertolongan. Jadilah aku dan suami memindahkan seluruh barang-barang dari tempat kost masing-masing.
Haduuuuh pusingnya melihat barang-barang sebanyak itu, belum lagi pemilik rumah juga tidak membawa semua barangnya. Benar ya sabda Rasulullah yang mengatakan menikahlah maka engkau akan kaya. Terbukti, sejak nikah aku jadi kaya, ember punya dua, sapu punya dua, piring jadi banyak. Maklum bawaannya anak kost segambreng, hehehehe
Target kami berdua selanjutnya adalah harus punya rumah sendiri maksimal setelah satu tahun pernikahan. Jadi mulailah kami bersemangat mencari rumah idaman dengan berbagai cara. Kadang datang ke pameran rumah, dapat informasi dari teman atau cara yang paling manual, jalan-jalan ke beberapa perumahan dan mencatat nomor telponnya jika ada rumah yang ingin dijual.
Bapak mertua yang mengetahui kami rajin mencari informasi rumah pernah bertanya, memang kalian punya uang berapa ?, aku dan suami kompak menjawab, tidak punya dan akhirnya sukses ditertawakan. Aku memang tidak punya uang cash untuk membeli tapi semangat untuk punya rumah sendiri mengalahkan segalanya….* eciyeee. Tapi masih waras kok kami enggak mau bayar pakai daun. Lagian sapa juga orang yang mau dibayar pake daun, situ mo dipentung *LOL
Yang ada di pikiran kami saat itu, cari aja dulu, insya Allah nanti Allah yang memberikan jalannya. Alhamdulilah, memang ternyata keyakinan yang kuat bahwa Allah akan menolong menjadi jalan untuk mendapatan solusi. Kami mendapatkan jalan keluar yang tidak disangka-sangka.
Saat proses pencarian rumah idaman ini, kami menetapkan beberapa persyaratan, diantaranya rumah harus menghadap timur, dekat dengan mesjid, dekat dengan Rumah sakit atau klinik, tidak melewati perlintasan kereta api dan yang paling penting sesuai budget.
Setelah beberapa bulan dalam pencarian akhirnya ada seorang teman ibuku yang menawarkan sebuah rumah di perumahan yang tidak terlalu jauh dari pintu tol Bekasi Timur. Saat pertama kali mengunjungi rumah itu, sebenarnya aku kurang tertarik karena kondisi rumah yang kelihatan tidak terawat, terbayang harus mengeluarkan uang banyak untuk merenovasi. Tapi ibu dan suamiku justru yang bersemangat.
Setelah didiskusikan, kami sepakat mengambil rumah itu. Banyak pertimbangan yang membuat aku akhirnya memilih rumah di lokasi ini. Semua persyaratan rumah idaman versi aku dan suami terpenuhi, hanya tinggal memikirkan bagaimana merenovasi. Sekali lagi ada saja jalan yang Allah bukakan untuk kami,
Satu tahun dua bulan setelah menikah , alhamdulillah target kami memiliki rumah sendiri (meskipun dengan cara kredit) terwujud. Saat itu tidak terpikir bagaimana mengisi rumah dengan perabotan, yang penting bisa pindahan aja dulu.
Saat pindahan, rumahku belum di cat jadi kalau kita bersandar di dinding, bajunya jadi ada bercak putihnya. Bahkan saking semangatnya pindahan, enggak sadar saat malam tiba, jendela tidak ada hordennya, jadilah kami sibuk menutup jendela dengan kain seadanya. Hihihii….
Sudah hampir 7 tahun aku tinggal di rumah ini, dan banyak kejadian yang mengesankan, salah satunya adalah kelahiran Kanaya yang aku tunggu selama 4 tahun. Alhamdulillah dikaruniai juga tetangga-tetangga yang baik hati. Aku tinggal di perumahan lama yang penghuninya kebanyakan adalah keluarga senior, jadi mereka sering menganggap aku adik atau anak sendiri.
Rumahku memang mungil, bahkan ada yg bilang sangat strategis (kamar mandi deket, dapur deket), tapi di rumah inilah aku akan merajut impian-impian bersama keluargaku. Membesarkan anak-anakku dengan kasih sayang dan insya Allah menua bersama pak Suami. Aamiin…aamiin ya Allah aamiin…





























